Home » TEACHING METHODS » Maaf, tak ada pilihan: kamu harus ujian

Maaf, tak ada pilihan: kamu harus ujian

Assessment for Learning

Dalam dunia pengajaran, dimanapun, ujian atau mau disebut dengan nama lain sebagai tes, ulangan, review, penilaian, makin hari makin terdengar menakutkan. Dari informasi yang dapat dipercaya, di Beijing, tidak sedikit siswa sekolah menengah memilih bunuh diri karena beratnya ujian yang harus mereka lalui.

Ujian, sekalipun menakutkan namun ada orang yang sangat penasaran. Koran News Mail Online, Tiongkok, 1 Juni 2017 mengabarkan bahwa Wang Xia dari Kota Nanjing, mengikuti ujian Gao Kao sebanyak 15 kali. Dia melewati batas yang biasa diizinkan untuk mengikuti tes, namun dia mencoba lagi mengikuti ujian Gao Kao pada usia 86 tahun. Dia merasa penasaran dan ingin sekali lulus ujian Gao Kao. Ketika ujian, Kakek Wang Xia mendapatkan aparesiasi dari hampir semua warga Nanjing. Dia mengatakan bahwa sekarang dia tidak lagi gugup dan sudah siap dengan tes. Dia menambahkan bahwa dia merasa percaya diri untuk bersaing dengan para peserta ujian yang semuanya masih muda. Semangat ujian yang luar biasa.

Dalam dunia pendidikan di negara kita, ujian jika kita tengok secara lebih dekat, gambarannya tidaklah menyenangkan. Para siswa termasuk orang tua seolah bersepakat tidak menyukai ujian. Bagi siswa, ujian dianggap beban, melelahkan, bahkan buang-buang waktu. Sedangkan bagi orang tua, ketidaksukaan terhadap ujian salah satunya karena ada anggapan bahwa ujian yang dijalani anaknya tidak membuat anaknya menjadi lebih baik. Ujian hanyalah bagian dari proses rutin dunia persekolahan.

Berlawanan dengan ketidaksenangan siswa dan orang tua terhadap ujian/ulangan/tes, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ‘ujian membuat siswa belajar lebih baik bahkan sekolah dan universitas harus lebih banyak melakukan ujian.’ Ditemukan pula bahwa berdasarkan hasil ujian, dan program penilaian yang terencana membuat guru mengajar dengan lebih baik.

Temuan para ahli di atas tidak dapat disangkal. Ujian membuat siswa belajar atau bahasa kerennya assessment for learning. Sebagai contoh, seorang mahasiswa sedang menulis skripsi. Pada pertemuan pertama dia mengajukan proposalnya, dan diuji. Usai ujian, dia mulai menulis skripsi. Pada saat menulis skripsi dia belajar (membaca berbagai sumber) sehingga mampu menulis Bab 1.

Pada saat Bab 1 menurutnya sudah baik, dia tunjukkan kepada dosen pembimbingnya. Bab 1 dibahas antara dosen-mahasiswa; dokumennya sendiri dicurat-coret, dimerahi, ditandai, dan dikembalikan. Sepulang diuji Bab 1. Mahasiswa pulang dengan membawa skripsi curat-coret, namun dia merasa senang karena Bab satunya telah diuji/ dikoreksi. Selanjutnya, dengan semangat dia membaca lagi, dan melanjutkan menulis Bab 1. Hal serupa terus berlanjut sampai penulisan skripsi tersebut selesai. Kegiatan ini menunjukkan bahwa assessment for learning. Dengan adanya penilaian (dan menerima feedback) dari dosen pembimbing maka mahasiswa jadi belajar.

Bagaimana dengan penilaian yang terjadi di sekolah menengah misalnya. Mengapa ujian. tes. ulangan di sekolah dasar juga menengah mendapatkan merek yang kurang menyenangkan. Pemberian ujian dengan mengandalkan pada model soal pilihan ganda sehingga ujian bahasa tidak memasukkan keterampilan menulis misalnya. Ini diibaratkan ujian mendapatkan SIM tetapi tidak ada tes mengenadarai kendaraannya. Selain itu, ujian yang dilakukan di sekolah-sekolah tidak cukup memberikan feedback yang membuat siswa menjadi belajar setelah mendapatkan feedback tersebut.

Siswa membutuhkan feedback sehingga mereka belajar setelahnya. Bagaimana cara ini dapat dilakukan ketika penilaian akhir sekolah mengandalkan pada tes pilihan ganda. Para guru dapat menggunakan jenis tes lain selama proses pembelajaran sehingga diperoleh penilaian otentik. Boscher (2017) mengatakan bahwa kuiz merupakan salah satu tes yang dapat digunakan oleh guru yang memungkinkan feedback diperoleh siswa secara langsung dan segera. Berdasarkan hasil kiz, guru dapat mengatur pemberian pengalaman belajar sesuai dengan kemampuan peserta didiknya.

Kuiz, lanjut Boscher, tidak saja membuat siswa menjadi berusaha menguasai materi ajar namun sekaligus mereka dapat memanfaatkan ‘efek balik’ darinya. Efek balik yang dapat dimanfaatkan siswa diantaranya mereka dapat mengimitasi menggunakan quiz yang dibuatnya sendiri untuk bersiap menghadapi tes yang cakupan materinya lebih luas.

Peneliti Jeffrey Karpicke dari Universitas Purdue menguatkan bahwa kuiz membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan konseptual. Kuiz, katanya, lebih efektif ketimbang menggunakan pendekatan lain seperti concept mapping (siswa seolah diminta membuat rangkuman dalam bentuk grafis pada selembar kertas).

Ujian dan tes sebaiknya tidak berperan sebagai penanda kegiatan semester berakhir. Ujian sejatinya menjadi alat untuk mendapatkan data sejauh mana siswa menguasai materi ajar secara utuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: