Home » LIVE » Aku Wanita

Aku Wanita

Berani mengaku diri sebagai wanita untuk diriku sendiri, bukanlah perkara sederhana. Pengakuan secara genital mempengaruhi bagaimana kubersikap kepada diriku sendiri dan bagaimana memperlakukan diriku di depan orang diuar diriku.

Pengakuan diri sebagai wanita, bagiku, melalui proses yang tidak sebentar. Semula aku selalu menganggap bahwa aku, salah satu anak dari ibu kandungku, sama saja dengan saudaraku.

Ibuku memperlakukanku tiada beda diantara kami berempat. Masih kuingat ketika aku menerima baju tidur yang sama dengan saudaraku. Ketika hendak tidur kami memakai baju dengan warna dan model yang sama. Rasanya sangat menyenangkan  pada saat kami bisa bercengkrama dalam keluarga tanpa memperhitungkan jenis kelamin. Aku menyukai diriku yang menjadi bagian dari empat bersaudara dalam keluarga kecilku.

Aku mempersoalkan keluarga, bukan jenis kelamin. Aku memiliki keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil adalah aku, ibuku, dan saudara-saudara seibuku. Keluarga besar adalah keluarga kecilku ditambah ayah, dua ibu tiri, dan empat orang saudara perempuan tiri, serta tiga orang saudara lelaki tiri.

Aku, menjadi bukan siapa-siapa bagi ayahku yang memiliki empat orang anak wanita, dan memiliki tiga wanita pendamping hidup. Aku, bukan anak wanita yang diharapkan ayahku, aku tidak pernah ditegur atau disapa ayahku. Aku tidak menyukai diriku dilihat dari sisi ayahku. Aku tidak mengetahui jika aku wanita. Aku hanya tahu bahwa ayahku tidak menyukai diriku. Itu saja.

Ketika aku masuk sekolah dasar, barulah aku mengetahui bahwa aku digolongkan ke barisan anak wanita. Aku diminta berganti baju. Berganti baju artinya berganti pula permainan yang harus aku ikuti. Bagiku, yang anak kampong, bermain tanah merah dan membuatnya menjadi mobil-mobilan bersama teman-temanku sambil memperhatikan domba-domba yang kami jaga, adalah kesenangan tersendiri.  Aku selalu sangat pandai membuat mobil ‘Bayawak’. Sebutan untuk miniatur mobil Chevrolet yang aku tumpangi ketika ke kota.

Sejak aku masuk sekolah dasar, dan berganti baju. Perlahan-lahan aku kehilangan teman sepermainanku. Mereka tidak bersedia menerimaku mandi di Rawa Hideung bersama kerbau-kerbau merah mereka. Mereka menyuruhku agar bermain bersama jenisku. Membuat boneka dari kelopak bunga pisang dan menghiasinya dengan bunga Harendong, bukan keahlianku. Aku merasa sepi karena aku berganti baju.

Menjadi wanita, tidak terlalu aku sukai. Bukan karena wanitanya, tapi karena efek sebutannya. Ketika aku diketahui menstruasi pertama, ayahku dengan serta merta menghentikan sekolahku. Beliau dengan tegas berkata bahwa tugasnya sebagai ayah untuk memberi nama, membesarkan, dan mendidik telah khatam. Kini tugas selanjutnya adalah menikahkanku, dan ayah serius dengan hal itu.

Aku tak paham menikah. Aku tak paham kenapa harus mengikuti semua kata ayah. Kata ibuku, ayah harus selalu diutamakan. Pada saat makan, ayah makan terlebih dahulu, ibuku makan sisa ayah. Ibu berkata, ‘ pada sisa makanan ayah ada berkah.’

Aku tak paham berkah. Menikah dengan guru sekolah dasarku sendiri yang telah duda, itu berkah kata ibuku. Berkah dari ayahku. Untuk aku, anak wanita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: