Home » TEACHING METHODS » Menangkal Kesulitan Merencanakan Pembelajaran

Menangkal Kesulitan Merencanakan Pembelajaran

Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan bagian dari tugas profesional tenaga pendidik. Perencanaan pembelajaran sangat penting dilakukan oleh tenaga pendidik karena pada saat itulah tujuan pembelajaran ditetapkan, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar diurutkan, dan pengukuran keberhasilan penguasaan kompetensi peserta didik diatur.

Untuk menghasilkan sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, para ahli bersepakat bahwa tidak ada format statis yang berlaku disemua tempat dan tidak ada cara yang paling benar untuk membuatnya. Oleh karena tidak adanya kebakuan dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebagian guru menghadapi kesulitan dalam membuatnya. Kesulitan ini mengakibatkan: proses pemberian pengalaman belajar berjalan tanpa menggunakan acuan RPP; menggunakan buku pelajaran sebagai patokan; atau memperlakukan kegiatan belajar-mengajar sebagai  kegiatan rutin yang tidak memerlukan lagi perencanaan.

Di Indonesia, keluh kesah pembuatan RPP dapat diminimalisir karena pemerintah mengeluarkan Permendiknas nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang didalamnya memuat penjelasan mengenai rancangan penyusunan rencana pembelajaran. Dengan adanya Permendiknas ini sebagian besar kesulitan guru dalam melakukan perancangan pembelajaran dapat diatasi. Namun, sebelum melakukan proses menulis RPP, sebaiknya para guru melakukan hal-hal berikut.

Pertama, membaca silabus mata pelajaran yang diampu dengan seksama. Dengan membaca silabus akan diketahui kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar, alokasi waktu yang bisa digunakan, jenis penilaian yang ditagihkan dan sumber belajar yang dapat dipakai.

Kedua, melakukan analisis terhadap silabus yang memuat Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sehingga dapat dipetakan cakupan materi ajar, indikator pencapaian kompetensi yang akan ditetapkan,  jumlah alokasi waktu untuk setiap materi ajar, sebaran pemberian materi per semester, penetapan waktu untuk melakukan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.

Ketiga, membaca Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Permendiknas ini memberikan penjelasan yang rinci mengenai batasan dan peristilahan yang berkaitan dengan perancangan pembelajaran. Telaah dan kajian mendalam terhadap setiap pasalnya dapat menjadi memberikan gambaran gamblang mengenai RPP dan aturan lain terkait pembuatan RPP.

Keempat, menelaah lampiran Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Pada bagian lampiran dijelaskan secara rinci pengertian, konsep, prinsip, lingkup, mekanisme, komponen dan sistematika RPP. Dengan mengacu pada komponen dan sistematika RPP, paling tidak penulisan RPP mendekati setengah selesai.

Kelima, tulislah RPP dengan mengacu kepada komponen dan sistemtika yang ditetapkan. Perhatikan perubahan-perubahan yang membedakannya dengan cara penulisan pada peraturan sebelumnya. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran tidak lagi dicantumkan.

Membuat RPP menjadi keasyikan tersendiri ketika mekanismenya telah diketahui dan sistematikanya telah dikuasai. Diibaratkan ‘pemandu jalan’, RPP membantu tenaga pendidik melaksanakan proses pemberian pengalaman belajar dengan lebih efektif dan efisien. RPP yang telah dibuat dan diaplikasikan untuk memberikan pengalaman belajar merupakan wujud tanggung jawab profesional.  Oleh karenanya diperlukan kerangka pikir dan langkah kerja profesional untuk mewujudkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: