Home » WALLABY LAND » Pra-Seleksi

Pra-Seleksi

Sambil menunggu pemberitahuan seleksi, diam-diam saya belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri magang nanti di Australia. Mungkin ini terdengar lucu, guru bahasa Inggris tapi belajar bahasa Inggris. Bagi saya pribadi, ini sama sekali tidak lucu, tapi serius. Sebagai orang yang akan berhadapan langsung dengan native speaker saya harus benar-benar mampu berkomunikasi dan menunjukkan keterampilan reseptif dan produktif pada saat magang, dan tidak mempermalukan bangsa saya sendiri, khususnya guru.
Saya menghabiskan paling tidak satu jam setiap hari untuk menyimak siaran berbahasa Inggris dari TV Channel “Australia” melalui TV Satelit BIG TV. Sengaja saya tune in pada saluran ini, karena saya yakin dialek Inggris-Australia memerlukan latihan untuk dapat mengenalinya dengan baik. Saya pun kembali menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam untuk membaca koran The Jakarta Post dan sesekali majalah Time untuk memperkaya pengetahuan berbahasa. Menjadi peserta magang merupakan hal besar, saya tidak bisa bertindak tanpa ada persiapan.
Saya malah hampir lupa dengan persyaratan yang telah dikirim ketika Dinas memberitahukan bahwa saya harus mengikuti seleksi magang bertempat di Lembang, di Grand Hotel, dengan membawa segala persyaratan tambahan. Persyaratan tambahan ini diantaranya surat keterangan sehat dari dokter Rumah Sakit. Saya mempunyai pengalaman tidak terlupakan ketika membuat surat keterangan sehat. Pagi itu, ketika saya mendaftarkan diri ke Rumah sakit untuk mendapatkan Rekam Medic, saya dipersilahkan mengambil sendiri rekam medic di lantai 2. Saya menunggu berlama-lama agar dapat mengambil Rekam Medic. Setelah hampir satu jam, seorang Ibu (mungkin orang yang biasa mengurusi wilayah Rekam Medic) berkata, ‘maaf, rekam mediknya hilang, terkena air hujan, silakan kembali ke bagian pendaftaran dan buat data baru’.
Segera setelah mendaftar ulang, saya menuju ruang untuk menerima layanan pemeriksaan. Pada bagian pendaftaran pemeriksaan seorang Perawat bertanya, ‘Ibu, harus saya periksa apanya?’. Saya jawab dengan polos, ’saya tidak tahu, mungkin rumah sakit memiliki daftar atau list standard apa yang harus diperiksa untuk keperluan pergi ke luar negeri’. Saya diminta untuk diroentgen, periksa darah, urin. Saya memasuki ruang periksa, seorang petugas berkata, ‘maaf Ibu, kami tidak bisa menjalankan tugas kami, listrik mati’. Kejutan lainnya adalah bahwa setiap hasil pemeriksaan labratorium, baru bisa diambil dua hari kemudian. Sedangkan, pemberitahuan harus menyertakan Surat Keterangan Sehat baru saya terima sore hari sebelumnya, dan pukul 11 siang ini, surat tersebut harus sudah diserahkan kepada Disdik.
Segera saya meninggalkan Rumah Sakit dan menuju Betta Lab yang bisa menyediakan fasilitas pemeriksaan Urine dan Darah, sedangkan untuk Roentgen saya harus bergegas ke Klinik lain, mencari Klinik yang menyediakan Roentgen, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pada saat itu.
Singkat cerita, pukul 11 siang itu, semua persyaratan lengkap, dan bisa diserahkan ke Disdik. Esok harinya saya berangkat menuju tempat seleksi bersama guru lainnya. Saya mengikuti kegiatan tes TOEFL, kemudian wawancara. Untuk wawancara, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Saya termasuk kelompok dua. Pewawancara menanyakan apa yang akan saya teliti ketika saya mengobservasi kegiatan pembelajaran di Australia. Saya menjawab ingin mengetahui bagaimana pengajaran reading dilaksanakan. Wawancara berjalan lancar, saya merasa mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Termasuk bagaimana cara saya melakukan observasi, siapa yang akan diobservasi, instrument yang digunakan selama observasi. Pikiran saya kembali ke menulis tesis. Sebagai orang yang akan menemukan ‘sesuatu’ dinegeri Kanguru, saya harus berpikir sistematis.
Sebetulnya saya sedikit terkejut ketika wawancara dilaksanakan. Satu pewawancara berhadapan dengan enam orang sekaligus. Pada beberapa panduan yang saya baca untuk large interview panel idealnya pewawancara berhadapan dengan dua atau tiga orang agar dapat mengevaluasi potensi calon secara akurat.
Di luar yang ditanyakan oleh pewawancara sesungguhnya saya telah menyiapkan bahan untuk 1) menjelaskan siapa diri saya, 2) menjelaskan sifat saya, 3) alasan mengapa saya menjadi guru bahasa, 4) kelemahan saya, 5) hal yang saya banggakan, 6) pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan ketika di SA. Berikut ini adalah persiapan yang saya buat.
1. I have always considered myself lucky to have been admitted to school of education at university and eventually become a teacher. I was admitted to school of education in order to become a teacher when the teaching profession was not so attractive in terms of financial rewards.
I registered in the school of education then purely in idealistic terms because I love teaching, love being with young people, being with kids, and I love reading books about education.
2. Scholarly, bookish, easy going, friendly, firm, self-disciplined, highly confident. Those are some of the adjectives my best friend(s) use(s) to describe myself.
3. I want to encourage young people to read English because it will be useless to learn English if they don’t want to end up reading in that language. It doesn’t make sense if learning English is devoted to being able to communicate orally, whereas in Indonesian curriculum it is emphasized that knowledge seeking through reading is the main goal.
4. I consider this is one of my weaknesses, I tend to be an unmaterialistic teacher due to my passion for education. I don’t mind guiding students beyond school prescribed time. I even open the door of my home to my students who want to consult or confide to me. I realize at the end that my teaching profession in order to be successful cannot depend on idealism alone; more money is needed. (there are some students who happen to be broke, they don’t have to compensate for the copied paper I provide for them)
I am a school teacher and house wife as well. This double role leaves me very little time for professional advancement through reading. That’s why I always try to use every minute of my spare time in school to read. This behaviour is misunderstood by my colleagues who tend to think me as asocial, introvert, lonely, and arrogant. In fact, I am the opposite of those things.

5. It takes a teacher not less than 20 years to have a small home of his or her own if they count on salary alone. It took me relatively shorter time to have a big house in western style. Apart from regular salary which is better now, I have additional income from writing and private teaching which are considerably big so that I can build that home. There are seven spacious, high-ceiled rooms, one of which is my personal library. (self-learned architect). One of the successful culminations of my writing interest is being rewarded as one of the winners in the teacher science forum and eventually I was rewarded to go on pilgrimage to the Holly land, Mecca (I wish I could go to an English-speaking country such as Australia which was considered to be the best destination for such a winner as myself). It is a pity that the proposal to send the science forum winners to Australia was rejected by the majority of the teachers. It was the one of the provincial department of education official that proposed sending the winners to Australia which I fully supported. It is for this reason that I don’t want to miss the second chance to go to Australia.

6. Do you have breakfast at a regular basis, not casually as most Indonesian do?
– Have you been in any Indonesian school?
– Do parents give pocket money to their children to go to school as in Indonesia? If so, how much is in average? Do the teacher-parents association in most Australian schools work well? Do parents in Australia participate in deciding what to teach to their kids whereas in Indonesia gullibility is the norm.
– Do principals know the teachers’ name and some of their students?
– Do family and children consume only local food or they consume ethic foods that are available in Australia?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: