Home » LIVE » Hail

Hail

“Tomorrow is going to hail” (besok akan hujan es), itu kata seorang penjaga toko ketika saya masuk ke tokonya dengan tubuh menggigil. Cuaca di luar toko terasa sangat ekstrim bagi kulit Indonesia yang hanya mengenal musim hujan dan panas.Kalimat yang diucapkan pemilik toko sepatu UGG terdengar seperti “Tomorrow is going to hell”.

Segera setelah saya membeli beberap suvenir, saya meninggalkan toko, kembali bergabung dengan rombongan. Di dalam bis, tidak terasa terlalu dingin. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Saya turun dari bis, berhenti di King William Street dan berjalan mencari Grenfell Street pemberhentian bis T2 atau U2 agar saya bisa pulang ke rumah induk semang. Sore terasa menakutkan. Angin berhembus sangat kencang, kering, merobek kulit wajah. Saya bersembunyi dibalik tembok bangunan diseberang Rundall Place. saya melihat ada empat orang menunnggu pada bus stop yang sama. hampir 15 menit, bis nomor H32 belum juga datang. Saya akan menuju Hanley Beach Road.

Hampir putus asa menunggu, akhirnya bis datang juga. Jam 5.30, terlihat seperti pukul 7.30 malam di Indonesia, gelap, tidak banyak terlihat orang lalu lalang. Toko-toko telah tutup sejak jam 5 sore. Bis tiba di bus stop no 15 Henley Beach Road, saya turun dan terasa angin lebih kuat menusuk-nusuk pori-pori.

Saya berjalan sekuat dan secepat yang saya mampu. Udara di sini terlalu berat bagi tubuh saya. Saya berusaha menguji kekuatan tubuh, namun tidak mampu. Tubuh dengan tiga lapis baju, tidak mampu membuat tangan dan kaki lepas dari kaku.
jam 8, saya berusaha tidur. Kamar dengan tanpa penghangat ruangan terasa seperti berselimut es. Dingin. Tiba-tiba angin bergemuruh dengan kencangnya. Saya membayangkan pastilah itu hujan. Namun untuk ukuran hujan, terlalu berisik. Hujan ini terlalu riuh rendah menepuk-nepuk jendela seperti melemparkan kerikil-kerikil kecil. Rupanya itulah hail.

Esok harinya ketika saya lewat jalan hendak menuju sekolah, terlihat batang-batang pohon berserakan di sepanjang jalan. Angin dan hail semalam telah membuat dahan-dahan dan ranting-ranting kecil rontok. Air menggenang di pinggir jalan. Pagi terassa dingin dan saya hampir tak kuat menahan dingin. Syal saya tutupkan pada mulut dan sebagian wajah. NAmun angin dingin musim winter Adelaide ini sangat hebat dalam membuat saya berjalan limbung.
Saya coba melindungi diri dengan payung. Rupanya payung pun tidak bayak menolong. Anginnya terlalu kuat, payung hampir terbang, saya beradu tenaga dengan angin. saya putuskan payung yang harus kalah.

Ada sesuatu yang menarik dari winter tanpa salju ini. Untuk melindungi kepala, ada seorang nenek-nenek mengenakan penutup kepala, dilapisi dengan penutup kepala terbuat dari plastik. Sebuah ide kreatif untuk melindungi kepala dari hujan.
Hujan pada winter pun menarik. di Indonesia hujan turun bisa berjam-jam seperti gadis nangis dan merajuk. Di sini hujan datang bersama angin, terlihat butiran-butiran air beterbangan. Kemana arah air itu melaju, terlihat jelas. Hujannya sebentar, anginnya tiada henti.

Bagi mereka yang belum tahu hail. Menikmati hail akan tidak jauh dari hell.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: