Home » NOTES » KEMANA SISWA MENCARI INFORMASI?

KEMANA SISWA MENCARI INFORMASI?

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 menuntut siswa agar (salah satunya) menemukan informasi secara individual dan mandiri. Tujuan pemerolehan informasi secara individual ini untuk memudahkan siswa melalukan kegiatan tukar informasi dan berdiskusi. Menemukan informasi sesuai kebutuhan tentulah tidak mudah. Sebagai seorang pemustaka misalnya, seorang siswa harus mengetahui cara mengakses katalog agar dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan  dengan cepat dan efisien.

Sebagai pemustaka awam, bagi beberapa siswa, mengakses katalog terdengar janggal. Namun pada kenyataannya sebagai seorang peserta didik, siswa diharapkan dapat memanfaatkan semua informasi yang tersedia secara beragam. Para siswa sesekali harus mendapatkan inforamsi dari buku, surat kabar, majalah, pamflet, peta, bagan, rekaman suara, gambar diam, gambar bergerak, dan salindia. Kadang pula, siswa dituntut untuk mendapatkan bahan informasi lain yang tidak dijilid seperti bahan bentuk mikro, dan bahan pustaka digital.  Namun bagi siswa, sebelum mengakrabi beragamnya sumber informasi seperti yang disebutkan tadi, sebaiknya kenali terlebih dahulu istilah bahan rujukan.

Secara sederhana bahan rujukan didefinisikan sebagai koleksi yang terdiri dari atas buku-buku atau bahan pustaka lainnya, yang memuat informasi mengenai hal tertentu yang membantu siswa memahami materi ajar tanpa bimbingan langsung dari guru. Bahan rujukan yang harus digunakan secara intensif oleh siswa diantaranya berasal dari bahan rujukan berbentuk buku  yang memuat informasi mengenai kata dan istilah disebut kamus dan ensiklopedi.

Pertama, Kamus merupakan buku yang berisi daftar kata dasar dari suatu bahasa yang disusun menurut abjad. Bagi siswa, kamus umum merupakan bahan rujukan untuk menemukan kata atau istilah yang umum di pakai sehari-hari. Contoh kamus umum diantaranya Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh W.J.S Poerwadarminta. Namun, jika siswa hendak menemukan istilah atau kata-kata khusus yang berkaitan dengan materi ajar tertentu, misalnya xylem, pada pelajaran Biologi, maka yang diakses adalah kamus subjek. Kamus ini berisi daftar kata atau istilah yang biasanya mengenai masalah atau subyek khusus. Selain itu, ada pula kamus khusus. Kamus khusus adalah kamus yang diperuntukkan bagi golongan pembaca tertentu. Misalnya, untuk menunjang pelajaran Bahasa Indonesia, ada kamus khusus Kamus Sinonim Bahasa Indonesia oleh Harimurti Kridaklasana.

Dalam mencari arti kata atau istilah, para siswa harus memperhatikan bagaimana cara kamus dalam menggunakan bahasanya. Ada kamus yang jenisnya ekabahasa, yaitu kamus satu bahasa atau kata/istilah dalam kamus itu dijelaskan dengan menggunakan bahasa yang sama. Misalnya siswa hendak mencari arti kata somnambulism (pelajaran Bahasa Inggris). Jika dia menggunakan kamus ekabahasa, kata somnambulism dijelaskan sebagai the action of a person walking around while they are sleeping. Berlawanan dengan kamus ekabahasa, kamus dwibahasa menjelaskan arti kata/istilah dengan bahasa lain. Somnambulism (Inggris): ngalindur (Sunda).  Ada pula kamus anekabahasa atau kamus yang menyajikan padanan kata/istilah lebih dari dua bahasa. Sebagai contoh  Somnambulism (Inggris): ngalindur (Sunda), mengigau (Indonesia),  tanaama (Arab), negoto iu (Jepang).

Kedua, Ensiklopedi  merupakan bajan rujukan yang menyajikan informasi secara mendasar namun lengkap mengenai berbagai masalah dalam berbagai ilmu pengetahuan.  Sama seperti halnya kamus, ensiklopedi pun disusun menurut abjad. Selain itu, ensiklopedi juga memiliki jenis yang hampir sama dengan kamus. Ada ensiklopedi umum, yakni ensiklopedi yang berisi informasi dasar tentang hal-hal atau kejadian-kejadian umum. Ada pula ensiklopedi subjek, misalnya memuat tentang Tari Indonesia, dan ensiklopedi internasional yang memuat semua informasi yang terjadi di dunia ini.

Dengan menggunakan kamus dan ensiklopedi diharapkan para siswa tidak kelimpungan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tuntutan mata pelajaran. Para siswa diharapkan jadi pemustaka aktif sehingga mereka menjadi pem(b)elajar mandiri yang membangun pengetahuan berbasis membaca.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: