Home » LIVE » EMPAT HARI SAJA

EMPAT HARI SAJA

Ujian Nasianal (UN) merupakan kegiatan tahunan pada agenda sekolah baik SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA/SMK. Karena sudah menjadi kegiatan tahunan, maka kedatangannya telah terdeteksi sejak awal, dan telah sangat akrab dibenak setiap siswa juga guru.

Sekarang, mari kita lihat UN dari sisi guru dalam status sebagai pengawas. Bagi sebagian guru kegiatan UN merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu. Banyak alasan yang menyebabkan mengapa UN ditunggu. Pertama, ketika UN, tugas mengajar (dalam konteks ini bagi guru SMA) berhenti selama empat hari berubah menjadi mengawas. Mengajar dan mengawas merupakan dua hal yang tentu saja berbeda. Perbedaan ini muncul tidak saja karena cara pandang guru itu sendiri yang memandangnya berbeda,  tetapi juga memang karena esensi kegiatannya asli berbeda. Mengajar dipandang sebagai kegiatan rutin yang telah dijadwalkan bahkan telah direncanakan jauh-jauh hari yang didokumentasikan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kegiatan rutin-berencana ini disebut mengajar. Mengajar terdengar monoton, karena dikaitkan dengan kata rutin dan pelaksanaannya tidak jauh dari rencana. Monoton ini muncul dilegalisasikan oleh RPP yang monoton pula. Kegiatan belajar dimulai dengan tegur sapa, mengabsen, menjelaskan materi dan ditutup dengan konfirmasi. Langkah-langkah pengajaran nan tertulis seperti ini monoton, maka sesuai dengan RPP, mengajar merupakan kegiatan monoton bagi siswa, dan siswa pun menonton kegiatan monoton setiap hari.

Di sisi lain, mengawas merupakan amanah maha penting dari pimpinan institusi untuk membimbing siswa dari sekolah lain selama kegiatan UN. Untuk mengawas, seorang guru dibekali Surat Keputusan (SK) tersendiri yang menunjukkan bahwa dirinya asli pengawas, serta diberi Surat Tugas untuk dibawa pada saat mengawas. Terdengar agak naif, tapi begitulah prosedur operasional standar (POS) yang katanya harus dijalankan oleh guru. Dikatakan naif mengingat guru dan mengawas merupakan sebuah kesatuan. Ketika seorang guru mengajar, maka tugas mengawas itu telah melekat dengan sendirinya. Mengingat tidak mungkin kegiatan mengajar mengabaikan kegiatan mengevaluasi yang di dalamnya otomatis ada kegiatan mengawas. Mengawas dalam arti sejauh mana guru tersebut mengetahui tujuan pembelajaran telah dapat diejawantahkan dalam pemberian pengalaman belajar, selain itu mengawasi pula sejauh mana siswa mampu menguasai indikator pencapaian kompetensi seperti yang dijanjikan pada kegiatan awal pembelajaran. Ketika, karena suatu alasan, mengawas diberi SK baru, khusus mengawas, masih gurukah dia? Atau dia orang lain yang ditugasi mengawas tanpa membawa bekal dalam kolbunya bahwa dia adalah pengajar. Hal ini sangat penting ditanyakan. Jika seseorang yang bukan seorang guru membawa SK mengawas, cara mengawasnya akan berbeda sekali dengan seorang pengajar mengawas. Pada beberapa stasiun televisi tanggal 19 April 2013 ditayangkan gaya pengawas berSK mengawas. Cara mengawasnya memprihatinkan: dia membiarkan siswanya saling menyontek, dia membiarkan siswanya mengobrol, dia sendiri malah mengobrol dengan teman mengawas berSK lainnya.

Kedua, menjadi pengawas UN dipandang berbeda oleh guru yang dilegalisasikan pemerintah. Guru yang ditugasi mengawas diberi honor mengawas oleh pemerintah. Sejatinya, ujian (evaluasi) merupakan rangkaian kegiatan dalam proses pemberian pengalam belajar kepada siswa. Berasal dari mana badan standar nasional pendidikan memandang evaluasi  sebagai kegiatan tersendiri dan guru harus dibayar dalam melaksanakannya? Untuk empat hari mengawas, guru dihargai tiga ratus ribu rupiah (tahun 2013). Tidak bisakah menteri pendidikan mengatakan bahwa para guru harus mengawas di sekolah lain sesuai dengan aturan dalam proses pengajaran dan tidak ada honor untuk itu. Guru sudah mendapatkan gaji bulanan. Bisa dibayangkan jika guru selalu dihargai dengan uang, jangan-jangan nanti salah paham terhadap pekerjaannya sendiri. Pemerintah memberikan contoh bahwa guru-mengawas harus dibayar, nanti muncul pemikiran, ketika guru memberikan layanan pendidikan kepada siswa pun, akan minta pula di bayar.  Misalnya suatu ketika siswa X menemui guru Y dirumahnya karena ada tugas mandiri tidak terstruktur yang belum dipahaminya. Siswa X ini mengkonsultasikan kesulitannya dengan sang guru. Guru Y tadi teringat honor seperti dicontohkan pada saat mengawas. Seusai memberikan layanan konsultasi kepada siswanya, dia memberikan kuitansi kepada siswanya yang isinya meminta sejumlah uang honor konsultasi. Asosiasinya karena guru tugasnya mengajar di dalam kelas, ketika mengawas di sekolah lain (bukan di kelasnya) dia diberi honor. Siswa bertanya di dalam kelas sampai gurunya kehilangan akal untuk menjawabnya, itu dianggap sebagai bagian dari layanan pendidikan, namun jika siswa bertanya diluar jam layanan pendidikan, guru harus pula minta honor? (terdengar kontradiktif: guru: profesi, dokter: profesi. Pasen berkonsultasi kepada dokter selama 15 menit, dengan tanpa keberatan pasen membayar mahal kepada dokter atas jasa profesinya. Sedangkan siswa berkonsultasi berjam-jam, plus makan minum dirumah gurunya, tidak pernah terpikirkan untuk membayar mahal gurunya atas jasa profesinya (???) ).

Alasan lainnya, mengawas berbeda dengan mengajar. Mengajar membuat guru repot dengan menyiapkan RPP, membawa alat peraga ke dalam kelas, menyajikan pengalaman pembelajaran dan memberikan evaluasi. Mengawas tidaklah repot. Dimulai dengan membawa SK ke tempat sekolah yang hendak diawasi. Selanjutnya berikan SK kepada panitia setempat, dan biarkan tuan rumah sibuk menyiapkan air panas plus pilihan: teh, susu atau kopi sebelum mengawas dilaksanakan. Sebelum mengawas dimulai, para pengawas akan diminta duduk di ruang khusus yang mejanya diberi taplak seragam. Ruangan tersebut dipenuhi oleh guru dari beberapa sekolah yang berbeda. Guru dengan bebas bisa merokok, mengobrol, saling tukar nomor hape, atau berkegiatan apapun manasuka saja. Ruang kelas tentu tidak seperti ini, guru tidak bisa merokok, mengobrol, atau bermanasuka. Tidak lama panitia akan meminta pengawas untuk mengambil ID card yang memuat nama dan kode pengawas dan harus dipasangkan pada baju. Secara berpasangan guru dari sekolah yang berbeda memasuki ruang lain untuk mengambil soal. Guru harus menandatangan kolom yang menyatakan ‘pengambilan soal’. Baru setelah itu berangkat ke kelas sesuai dengan nomor ruang yang telah ditentukan. Pasangan guru tadi, akan berkenalan super singkat dengan pasangan mengawasnya selama mereka berjalan dari ruang panitia ke kelas yang hendak diawasinya.

Sesampainya di depan ruang kelas yang hendak diawasi, sebagian siswa sudah berbaris menunggu pengawas masuk, ada pula yang siswa yang berhamburan di depan kelas seperti muntah dan baru mendekati pintu kelas ketika melihat pengawas mengapit map bernomor ruang yang sama dengan ruangannya. Artinya ketika mereka melihat pengawas lewat dengan membawa map bernomor ruang yang berbeda dengan ruanggannya, mereka seolah tidak acuh dan tidak berkepentingan memasang muka manis untuk merebut hati pengawas. Pasangan guru ini akan meminta siswa berbaris dan memberikan kata pengantar sebelum masuk kelas pada hari tes ke satu (biasanya Bahasa Indonesia). Moment ini sangat penting bagi guru dan siswa. bagi siswa merupakan jawaban atas penantian berbulan-bulan membayangkan seperti apa UN. Bagi guru, menjadi pengalaman baru seperti apa berhadapan dengan siswa hasil didikan teman seprofesinya. Guru tadi paling tidak berkata ‘pastikan kamu membawa kartu Ujian dan alat tulis yang lengkap”. Jangan kaget, ketika tiba-tiba ada siswa yang ambruk kehilangan kesadaran tersentak kaget mendengar kata Ujian artinya UN benar-benar harus dia jalani.

Menjalani peran guru-pengawas selama empat hari memberikan pengalaman baru dan wawasan baru. Sebagai pengawas dia bisa melihat bahwa banyak siswa menghitamkan jawaban tanpa membaca soal terlebih dahulu. Menutup telinga dan konsentrasi membulat-hitamkan jawaban pada saat listening (menyimak) diperdengarkan. Dan yang paling menarik adalah, menemukan siswa tertidur pulas pada saat ujian. Ini tentu saka kasus, tidak semua pengawas menemukan hal-hal seperti yang disebutkan baru saja. Bagi mereka yang belum menyandang gelar guru-pengawas, bersiaplah, tahun depan masih ada UN.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: