Home » TEACHING METHODS » Membuat siswa berbicara dengan menggunakan gambar

Membuat siswa berbicara dengan menggunakan gambar

Hampir diketahui secara universal bahwa ‘dongeng’ merupakan salah satu cara yang jitu untuk mengajarkan bahasa Inggris (Harwood, 1990). Kesulitannya adalah bagaimana cara membuat siswa tidak merasa bosan dengan hanya didongengi, atau mereka telah terlalu sering diminta memahami isi teks yang mengandung cerita di dalamnya dengan cara menjawab pertanyaan.  Cara di bawah ini, merupakan sebuah alternatif untuk mengajarkan naratif dengan menekankan kepada siswa untuk berbicara lebih banyak.

Sebelum memulai pengajaran, pilihlah terlebih dahulu teks naratif yang hendak diajarkan.  Sebaiknya, pilihlah teks naratif yang telah dikenal siswa atau sebelumnya pernah diajarkan untuk diulang-ajarkan dengan cara yang berbeda dan dengan tujuan pengajaran yang berbeda pula.

Masuklah ke dalam kelas dan mulailah mengajar dengan menggambar tokoh pada papan tulis, dan anda jangan berbicara. (Jangan khawatir jika anda merasa tidak berbakat menggambar, gambarlah dengan sekedar garis dan lengkung yang menunjukkan karakter, misalnya seorang putri, cukup dengan menggambar dengan stick figure dengan dilengkapi tiara  yang menjadi ciri seorang putri).  Setelah gambar pertama selesai, berbalik kepada siswa, dan mintalah mereka untuk menyebutkan apa yang mereka lihat. Pada tahap-tahap awal mungkin para siswa menebak agak jauh dengan yang diinginkan tetapi dengan menambah clue pada karakter, para siswa akan tergiring pada tokoh yang diinginkan. Seperti yang dicontohkan olehHarwood (1990) memberi petunjuk  draw your first picture, and indicate student. Your students will look at you blaknly: gesture to the picture. Your student will put their brain in gear and hazard*. “a girl?” draw a crown on the picture. The student will then offer ‘a princess’. (*put…in gear: activate)

Lanjutkan dengan gambar berikutnya, dan gambar pula aktivitas yang dilakukan oleh karakter, pada saat yang sama biarkan para siswa menyebutkan kalimat sesuai dengan gambar yang mereka lihat.  Jika para siswa menyebutkan kalimat yang kurang sesuai dengan keinginan, gunakan gesture dan facial expression untuk menunjukkan agar mereka memperbaiki kalimatnya. Para siswa dengan segera akan mengetahui kemana cerita yang  sedang dibuat akan mengarah, dan mereka akan mengetahui karakter lain yang dibutuhka untuk cerita tersebut (karena sebelumnya cerita ini telah diberikan).

Pada tahap ini, bisa saja kegiatan menggambar dihentikan, dan mintalah siswa untuk melanjutkan menggambar dan siswa lainnya menyebutkan kelanjutan ceritanya. Jangan khawatir jika siswa menggambar tidak sesuai dengan alur cerita yang telah diajarkan, selama para siswa tetap bercerita mengikuti gambar.

Alternatif lain, menggambar sampai cerita selesai kemudian membagi siswa ke dalam kelompok. Setelah itu meminta siswa untuk melakukan act out  cerita yang digambar tadi.  Cara ini akan memberikan para siswa kesempatan untuk menggunakan kalimat yang tadi mereka dengar, mereka ingat,  atau bahkan mereka ucapkan pada saat mengikuti gambar.

Atau dapat pula anda meminta siswa untuk menceritakan ulang cerita, tetapi tambahlah dengan meminta siswa untuk menjelaskan proses bagaimana untuk menjadi frog  misalnya (jika kisah yang diambil adalah The Princess and The Frog).

Referensi

Harwood, Robin (1990). Twice-Told Tales. Forum Vol XXVII Nov 3.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: