Home » Uncategorized » UJI KOMPETENSI GURU

UJI KOMPETENSI GURU

UJI KOMPETENSI GURU (UKG)

                Berdasarkan kepentingan pemerintah untuk melakukan pemetaan kompetensi guru Indonesia, maka dilakukanlah Uji Kompetensi Guru (UKG) secara on line dan off line. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut atas dikucurkannya pencairan dana sertifikasi bagi para guru yang secara signifikan tidak mengubah output menjadi lebih baik. Hasil Ujian Nasional (UN) tidak menunjukkan perubahan pengalaman belajar siswa, bahkan lebih buruk lagi, dicurigai UN telah dimanipulasi dengan beredarnya kunci jawaban. Sehingga evaluasi skala nasional ini hasilnya tidak mencerminkan hasil pembelajaran yang sesungguhnya.

                Pemerintah mendengungkan bahwa UKG hanya diberikan kepada para guru yang telah lulus sertifikasi baik secara portofolio ataupun PLPG. Sedangkan bagi para guru yang belum memperoleh uji sertifikasi dan masih harus mengikuti kegiatan PLPG, maka diberikan Uji Kompetensi Awal (UKA) yang setara dengan UKG.

                Pemerintah seperti telah merasa terkecoh dengan meluluskan sertifikasi para guru lewat portofolio. Alasan untuk ini, katanya ternyata ditemukan beberapa guru telah melakukan kecurangan yang sangat tidak cerdas. Yakni memalsukan beberapa sertifikat serta data-data pedagogik lainnya sehingga lulus hanya dengan diwakili lembaran-lembaran kertas saja. Memperbaiki keadaan ini, maka diputuskan bahwa guru sebaiknya diberi pelatihan keprofesian (PLPG) sehingga secara tidak langsung kompetensi para guru meningkat dan pantas menyandang gelar guru profesional dan sekaligus mendapatkan pencerahan dan penyegaran melalui kegiatan pelatihan.

                Setelah sertifikat keprofesionalan guru diedarkan dan dipegang oleh para guru, pemerintah kembali kelimpungan. Sesungguhnya seperti apa gambaran kompetensi guru-guru pada saat ini, belum diketahui. Padahal, pemerintah telah membuat rambu-rambu bahwa guru harus menguasai empat kompetensi, yaitu (1) profesional, (2) pedagogik, (3) kepribadian, dan (4) sosial. Menyadari ada bolong, maka pemerintah segera membuat Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang mulai diberlakukan tahun 2013. Pada PKG, pemerintah memberikan rincian menyoal gambaran kinerja dan gambaran guru profesional. Seperti misalnya, untuk menjadi guru profesional, dalam hal perangkat pembelajaran saja, guru harus memiliki paling tidak 13 jenis pelengkap pengadministrasian yang dibuat oleh guru secara individu.

                Kini, pemerintah menyelenggarakan UKG, dalam kurun waktu 30 Juli sampai 4 Agustus 2012 katanya. Sekolah-sekolah penyelenggaraan UKG telah ditentukan, kartu-kartu peserta UKG telah disebar ke setiap sekolah. Maka terjadilah chaos diantara para guru. Sebagian menyikapi UKG dengan diam saja, ada pula yang dengan menggerutu, ada pula yang menyambutnya dengan sikap sinis dan menganggap bahwa kegitan ini tidak lain adalah proyek. Proyek pada lingkungan pendidikan memiliki konotasi negatif. Proyek diartikan sebuah kegiatan untuk buang-buang uang, menghabiskan dana untuk mendukung keuntungan segelintir pihak. Sedangkan guru adalah korbannya.

                Kisi-kisi UKG memuat pengevaluasian pada wilayah kompetensi profesional dan pedagogik. Sedangkan kompetensi sosial dan kepribadian, tidak diperhitungkan. Atau dengan kata lain, menjadi guru, cukup bisa ngajar (kompetensi pedagogik) dan pintar (profesional), urusan bermoral, tidak peduli, wearing innocent smile, tidak diurus. Kompetesi sosial dan kepribadian guru diabaikan.

                Menjelang UKG dilaksanakan, kehebohan merebak disetiap kantor guru. Setiap percakapan hanya dikhususkan untuk UKG saja, percakapan lain, maaf, untuk sementara tidak mendapat tempat. Para guru mengeluhkan ‘apa yang harus dihapalkan’. Inilah gambaran guru kita, masih tidak ragu-ragu mengucapkan kata ‘menghapal’. Menghapal merupakan metode pembelajaran yang telah lama ditinggalkan. Menghapal hampir tidak jauh dengan metode drilling  atau tubian, yakni sebuah kegiatan memperoleh pengalaman belajar dengan cara meminta siswa diberi latihan berulang-ulang supaya ingat. Sesuatu yang diperoleh melalui hapalan tentu saja perlahan-lahan akan lupa seiring semakin banyaknya urusan yang harus dipikirkan oleh para guru. Sekarang para guru masih memikirkan apa yang harus dihapal untuk uji kompetensi, ironis!!!

                Ketakutan yang mengahantui para guru diekspresikan dengan ajakan ‘boikot UKG’ dan ‘gagalkan UKG’. Jika melihat kekhawatiran yang diungkapkan pada paragraf sebelumnya yakni ‘ketidaktahuan apa yang harus dihapal’, ungkapan boikot UKG, sangat masuk akal. Jika boikot disetujui, maka guru-guru yang khawatir ini akan lepas dari vonis penentuan posisi kompentensi dirinya yang akan terpetakan secara nasional. Dengan kata lain, zona nyaman mereka tidak terganggu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: