Home » NOTES » KENCAN PERTAMA dengan SFL GBA

KENCAN PERTAMA dengan SFL GBA

Mengenal GBA = Genre Based Approach tidak dapat dengan mudah dilakukan. Sebelum tahu persis siapa atau mungkin apa itu GBA, kita harus kenal TEKS terlebih dahulu. Kenapa alasan ini diajukan? Jawabannya karena pendekatan GBA diarahkan bukan pada kata-kata atau kalimat atau sekumpulan kata-kata, melainkan pada semantic unit. Sebuah semantic unit tidak ditentukan oleh panjang atau pendeknya, melainkan oleh wholeness atau kesempurnaan secara makna. Sebagai contoh, kata STOP merupakan sebuah teks, walaupun hanya terdiri dari satu kata saja. Ketika seseorang berhenti di depan lampu lalu lintas karena melihat lampu berwarna merah dan diterjemahkan berhenti atau stop maka stop dalam konteks ini adalah sebuah teks. Sebaliknya, jika kata STOP diambil dari sebuah tulisan tesis misalnya, dia bukanlah teks. Selain tidak jelas apa maknanya juga tidak tahu konteks field (apa) dan tenor (untuk siapa) kata STOP tersebut ditujukan. To sum up, text refers to words or sentences woven together to create a single whole (Christie and Misson, 1998: 8 dikutip Emilia, 2011: 4).

Sebuah teks tidak berdiri sendiri, dia selalu mempunyai konteks. Kon (con) artinya penyerta; konteks bisa diartikan sesuatu yang menyertai teks. Ada tiga elemen yang menyertai teks, pertama field, kedua tenor, dan ketiga mode. Berbicara field artinya kita sedang melihat teks memiliki topik yang dibicarakanya, sedangkan tenor mengacu pada teks memiliki arah untuk siapa teks dibuat dan dengan cara apa menyampaikannya, lisan ataukah tulisan, itulah yang disebut mode. Sebuah teks didalamnya memiliki apa yang dikupasnya, kepada siapa teks tersebut ditujukan dan dengan cara apa kupasan itu disampaikan.

Teks yang baik mempunyai unsur koherensi dan kohesi. Koherensi terdiri dari dua macam. Pertama koherensi situasional yakni ketika teks itu dibaca (jika bentuknya tulisan) atau didengar (jika bentuknya lisan) pembaca (pendengar) mampu mengenali field, tenor dan mode yang digunakannya. Kedua koherensi generik, yakni teks dapat dikenali jenisnya misalnya prosedur, recount, deskriptif atau jenis teks lainnya.

Ketika teks memiliki ‘semantic tie’ maka teks tersebut memiliki kohesi. Alat kohesi untuk teks diantaranya konjungsi yang mampu membuat hubungan antar kalimat menjadi jelas.

Dalam menyampaikan sebuah teks, intertekstualitas akan terlibat. Makna istilah intertektualitas adalah setiap teks berkait kepada teks lainnya. Ketika seseorang berbicara tentang sebuah sepeda, maka dengan sendirinya baik dirinya sendiri sebagai pembicara ataupun lawan bicaranya telah mengenal sebelumnya dengan konsep sepeda. Seorang ahli Jurnal, Moon, menyebutkan bahwa learning is relating prior knowledge to new learning material. Ini menunjukkan bahwa ada kaitan atau interteks antar apa yang kita miliki sekarang dengan yang telah kita miliki sebelumnya.

Pertanyaannya apa hubungan TEKS dengan GBA?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak dapat disampaikan dengan singkat. Pertama kita harus menengok ke belakang dari mana GBA berasal dan mengapa berkembang biak di Indonesia. Kedua, kita harus mengetahui konsep GBA itu sendiri sehingga kita dapat mengenal secara utuh jatidiri GBA sehingga diadopsi dalam kurikulum nasional Indonesia.

SFL merupakan singkatan dari Systemic Functional Linguistic berupa cara pendekatan terhadap grammar dengan melihat dari sudut pragmatik atau bagaimana bahasa digunakan. Dasar bagaimana bahasa digunakan menjadi titik tolak pengajaran berbasis Genre. Dalam kehidupan nyata, manusia tidak serta merta bisa menulis karena kemampuan menulis tidak ‘given’ atau sudah terkuasai dengan sendirinya tanpa dipelajari seperti kemampuan berbicara pada anak-anak. Kemampuan menulis harus dibimbing atau diberi intervene pada saat proses menulis itu terjadi. Pendekatan mengajar menulis, berkembang marak dengan menerapkan pendekatan proses. Pendekatan ini dikritik oleh teoriman GBA dengan alasan diatas yakni kemampuan menulis tidak given.

Genre Based Approach atau Pendekatan Berbasis Genre (jenis teks) merupakan pengajaran yang memberikan bekal pengalaman belajar kepada siswa tentang berbagai jenis teks sehingga mereka mengenal beragam teks untuk memudahkan mereka di kemudian hari seperti misalnya ketika berhadapan dengan teks pada saat perkuliahan terjadi. GBA pertema berkembang di Australia. Halliday memperkenal Linguistik Fungsional Sistemik dan menjadi ilham bagi berkembanganya GBA.

Seperti halnya pendekatan pengajaran yang lain, GBA memiliki keterkaitan dengan pendekatan-pendekatan pengajaran yang telah dipergunakan sebelumnya. Sebagai contoh Contextual Teaching and Learning (CTL). Beberapa prinsip CTL digunakan pula pada GBA dengan istilah yang berbeda. Prinsip Inquiry Learning, berpikir kritis, kemampuan siswa bertanya, prinsip constructivism, learning community, modeling, penilaian otentik dan refleksi terwadahi pada empat langkah pengajaran GBA.

  1. Building Knowledge of Field (BkoF)

Tahap ini diberikan untuk membangun pengetahuan atau latar belakang pengetahuan siswa mengenai topik yang akan ditulisnya (Freez, 2002; Gibbons, 2002, 2009, dikutip Emilia 2011: 33)

Langkah-langkah pengajaran yang dapat dilakukan diantaranya:

Diumpakan materi yang akan diajarkan adalah teks Discussion

Pertemuan 1

–          Berikan siswa tajuk rencana yang diambil dari koran berbahasa Indonesia. Kegiatan ini membantu siswa untuk bisa mengenal apa opini penulis dan bagaimana stance penulis terhadap sebuah isu

–          Berikan siswa ‘editorial’ berbahasa Inggris misalnya dari The Jakarta Post

–          Ajak siswa untuk bisa melihat kesamaan bentukan antara kedua koran tersebut

–          Tulis jurnal untuk refleksi

Pertemuan 2

–          Gali pemahaman siswa mengenai apakah mereka pernah melakukan diskusi, apakah berhasil?

–          Berikan siswa sebuah teks yang mengadung isu dilihat dari dua sudut pandang berbeda, misalnya “Is X-Ray Examination Necessary?”

–          Guru bersama siswa membuat ringkasan

–          Siswa mencatat ekspresi penting seperti: 60% people agree…. however, not all people agree with …., as the result of controversy, many people….

–          Siswa menerima student worksheet berisi pertanyaan yang berisi pemahaman tentang isi teks

–          Siswa menulis jurnal.

Pertemuan 3

–          Tayangkan pertanyaan “Food Miles: Advantage or Disadvantage?”

–          Siswa diminta menyampaikan secara lisan pendapat mereka mengenai “trade’ dan ‘global warming’ sebagai pengantar berpikir kritis untuk mendiskusikan masalah Food Miles

–          Berikan komentar-komentar yang telah dikumpulkan atas Food Miles yang diberikan dan dikoleksikan sebelumnya

–          Siswa membahas untung ruginya melakukan atau berpatisipasi dalam kegiatan Food Miles

–          Siswa menulis jurnal.

 

 

  1. Modeling

Pertemuan 4

Secara eksplisit guru menerangkan stuktur generik dan fitur-fitur linguistik teks berbentuk discussion. Buatlah tabel analisis teks agar siswa dengan mudah mengkaji struktur generik dan lexicogramtikal setiap kalimat. Selain itu disampaikan pula tujuan komunikatif teks dilihat dari social purpose.

Ditutup dengan siswa mengkaji sendiri teks yang telah disediakan dan menulis pada jurnal.

 

  1. Joint Construction of text (JCot)

Pertemuan 5

Pertemuan ini ditujukan untuk melihat rangkaian recursive pada sebuah proses menulis. Guru menjadi scriber. Tulis pada papan tulis sebuah isu Should I Social Network or Not? Minta siswa untuk menyampaikan topik dan guru menuliskannya pada papan tulis. Ajak siswa untuk berani menyampaikan sebuah argumen positif bersosial networking. Lakukan kegiatan seperti ini sampai teks discussion lengkap. Setelah teks lengkap, perlihatkan bahwa teks yang dibuat bersama-sama ini belum bagus. Lakukan revisi teks. Tunjukkan bagaimana ada kalimat yang dibuang, diganti, grammarnya diperbaiki, alat kohesi ditambahkan dan seterusnya.

Setelah itu edit dan tutup dengan proofreading. Kegiatan ini lebih efektif dan efisien ketimbang meminta siswa untuk mengkonstruksi teks bersama temannya (Emilia, 2011)

Sebelum kelas berakhir, siswa menulis jurnal.

 

  1. Independent Construction of Text (ICot)

Siswa diberi ‘ideas card’ siswa dipersilakan untuk memilih isu yang hendak mereka kembangkan menjadi sebuah teks. Mereka diharapkan menunjukkan pemahaman dan  kepiawaian dalam menulis teks discussion setelah mengikuti serangkaian kegiatan di atas.

Kegiatan ditutup dengan menulis jurnal.

Ketidakberhasilan mengajar bahasa Inggris yang selama ini dialami beberapa guru (penulis contoh realnya), salah satunya disebabkan karena belum kenal baik siapa dan apa GBA, guru sudah serta merta mengajar dan ‘mengaku’ jika mengajarnya menggunakan pendekatan berbasis genre.

Semenjak 2006 penulis berSK untuk mengajar SMA dan telah mendengar istilah GBA serta ada bisik-bisik HARUS mengajar bahasa Inggris dengan GBA. Tapi pada kenyataannya tidak mengaplikasikan GBA, karena tidak tahu juga tidak paham harus kemana mencari informasi tentang GBA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: