Home » NOTES » ATHEIS (Tidak BerTuhan)

ATHEIS (Tidak BerTuhan)

Ini, kali kedua saya membaca karya Achdiat Karta Miharja, Atheis. Berpuluh tahun silam buku ini telah dibaca. Tidak dapat dipahami benar isinya. Tetapi bekas-bekas bacaan itu masih ada. Saya masih ingat bagaimana perdebatan batiniah seorang Islam-fanatis berubah menjadi seorang atheis. Secara frontal dan radikal keyakinan fanatis diluruhkan ketika hal-hal mistis dan dogmatis dibuktikan secara fisik dan logis. Berlawanan dengan sedikit yang saya ingat mengenai Atheis,  saya sudah tak ingat lagi siapa nama-nama tokohnya dan alur cerita lengkapnya. Tetapi secara jujur, saya terkagum-kagum dengan nama Achdiat K. Miharja itu sendiri. Puluhan tahun silam pula, saya menemukan salah satu cerpennya yang diterjemahkan menjadi “The Sensation at the Top of the Coconut Tree” (mungkin salah saya menuliskan judul cerpennya). Untuk cerpen ini, saya lebih banyak lupanya, ketimbang ingatnya. Saya hanya ingat cerpen ini mengisahkan lelaki putus asa yang ingin menyelesaikan persoalan kompleks rumahtangganya dengan cara jitu menurut sisi aman dirinya. Dia melakukan protes dengan cara diam di atas pohon kelapa dan menjadi tontonan masyarakat. Cerpen ini disejajarkan dengan karya-karya sastra asing sedunia, mungkin salah satu cerpen Asia yang mendapatkan hadiah Pulitzer. Saya merasa kaget, saya tidak mengira beliau se’mendunia’ itu. Guru sastra (bahasa Indonesia) saya tidak pernah menyinggung kehebatan beliau. Hanya satu nama yang keluar dari mulut guru saya tentang hebatnya ahli sastra Indonesia, yakni Chairil Anwar dengan sajaknya Aku. Berlawanan dengan kehebatan yang ditawarkan guru bahasa Indonesia, saya tidak begitu suka puisi atau hal-hal berbau sastra. Alasan yang membuat saya seperti itu barangkali sedikit sebagai akibat dari guru sastra saya dulu. (Mudah-mudahan tidak jadi menjelekkan) Guru saya selalu mendengung-dengungkan bahwa ‘sastra itu hanya untuk orang-orang dengan budi dan rasa yang tinggi, punya segmen sendiri, ekslusif, bukan untuk orang kebanyakan’. Saya merasa bahwa saya adalah bagian dari orang kebanyakan, maka saya berkesimpulan ‘tidak ada kesempatan bagi ordinary people seperti saya untuk bisa mengenyam indahnya bahasa sastra’. Maka saya pun hampir tidak pernah menyentuh buku-buku bernuansa sastra. Baru setelah saya berusia diatas 25, saya merasa sedikit ada kecemasan terhadap diri saya sendiri. Ada yang beranggapan bahwa ‘memperhalus budi harus dengan bahasa’. Caranya? Saya pun tidak tahu. Kecemasan itu muncul karena selama ini saya tidak pernah membaca buku-buku sastra, jangan-jangan saya tidak berbudi halus.

Maka saya merasa terpanggil untuk membaca buku-buku jadul. Saya cari buku Salah Asuhan, Belenggu, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan buku-buku lainnya, termasuk Atheis. Apakah itu ada kaitannya dengan upaya untuk memperhalus budi, saya pun tidak tahu. Saya hanya mempunyai satu pertanyaan dalam benak ‘masih adakah orang-orang yang membaca buku-buku jadul dan kemudian menjadi halus budi bahasanya seperti pesan guru Bahasa Indonesia saya?’

Selanjutnya, saya mengajukan diri sebagai salah satu orang yang masih mengoleksi dan membaca buku jadul sebagai wujud tanggung jawab terhadap kelestarian terhadap ‘bahasa tinggi’ yang dibuat oleh bangsa Indonesia. Dan mudah-mudahan secara tidak langsung memperhalus budi pula. Perburuan pun dimulai, beberapa buku lusuh terkumpul.

Dari beberapa buku jadul yang dibaca, buku Salah Asuhan, Belenggu, dan Atheis yang memberikan kesan dalam (deep impression) bagi saya. Salah Asuhan tersimpan baik pada file memori saya karena si penulis mampu membuat saya membayangkan hati seorang Ibu yang carut marut menemukan anak impiannya tidak bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakatnya. Sedangkan Belenggu mendapat tempat pada cortex, atas alasan bagaimana beratnya berumahtangga ketika suami-istri masing-masing bersikukuh dengan keyakinannya sendiri-sendiri. Dan yang ketiga Atheis karena judulnya terdengar aneh bagi dunia Indoneisa yang selama ini terkenal sangat kental dengan keagamaan.

Buku-buku jadul agak sedikit sulit ditemukan sekarang ini. Nah baru tanggal 2 Maret 2012 saya menemukan buku Atheis. Pas setelah 20 tahun lalu saya membaca buku ini.

Kesan saya terhadap buku ini belum bergeser. Mungkin karena jilid bukunya tidak berganti, masih tetap berwarna hijau dilengkapi dengan hiasan warna merah. Memberikan kesan sama seperti buku yang saya baca 20 tahun lalu. Ketika Atheis sudah ditangan, saya bersemangat sekali untuk kembali membaca buku ini. Muncul pertanyaan dalam benak saya, “Apa yang akan saya rasakan ketika saya membaca ulang buku yang pernah dibaca 20 tahun silam?”

Pada halaman-halaman awal, saya mulai merasakan kehebatan penulis. Bagaimana ia mampu menggambarkan kesedihan seorang perempuan bernama Kartini melalui deskripsi yang cermat dan detail, padahal pada saat yang sama dia juga menggambarkan suasana sekeliling kedukaan yang menyelimutinya. Ada rasa ingin tahu (padahal seharusnya saya harus sudah tahu karena buku ini pernah dibaca dulu) kenapa tokoh Kartini ini, jika mungkin dia ingin menangis berdarah-darah untuk menyampaikan sedihnya pada dunia. Namun, kepenasaran saya terpotong, saya merasa agak sedikit terhalang untuk dengan cepat mengetahui kesedihan Kartini. Penulis memunculkan dirinya sendiri pada bab berikutnya. Tokoh Kartini tercampak sesaat. Penulis memperkenalkan siapa dirinya secara tidak langsung dan menyampaikan bagaimana kisah ini bisa sampai kepada pembaca. Saya tidak terlalu menyukai bagian ini. Munculnya bagian ini memberikan kesan pemenggalan bagi mengalirnya imajinasi pembaca yang sudah terbentuk dengan baik.

Ketidakpuasan itu tidak dibiarkan lama, penulis menunjukkan bagaimana dia mampu membawa kembali pikiran pembaca kepada topik yang sedang disuguhkan. Pembaca tenggelam menelusuri siapa tokoh utama pada Atheis, Hasan. Bagaimana Hasan mengahabiskan masa kanak-kanaknya, remaja dan bagaimana dia mengisi kekosongan batiniahnya dengan cara melabuhkan dirinya pada pemahaman mengenai sareat, hakekat dan tarekat. Bagian akhir inilah yang mengombang-ambingkan perasaan pembaca mengenai fakta beragama. Penulis dengan jelas menggambarkan bagaimana hidup umum masayarakat pada masa penjajahan lengkap dengan kasta-kastanya dan etika-etika feodalismenya. Lebih rinci lagi, melalui pemindahan tahapan beragama tokoh Hasan dari beragama orang kebanyakan menjadi penganut tarekat dan mempunyai guru. Pembaca diajak untuk mengkaji bagaimana kepuasan vertikal-spiritual dan hubungan makhluk-khaliq tercipta. Penulis menyebutnya ‘jalan pintas’ beroleh kepuasan illahiah dimana orang kebanyakan tidak akan pernah mencicipinya.

Panta rei  begitu penulis memperkenalkan hidup. Hidup digambarkan sebagai sesuatu yang tidak statis tetapi mengalir bagaikan air diwakilkan kepada tokoh Hasan. Hasan mengalami perubahan hidup-dari seorang klerk (pegawai biasa) dengan kehidupan biasa (= bekerja, beribadah, berpikir bahwa hidup di dunia adalah bekal untuk hidup akhirat) menjadi seseorang yang dalam pandangannya menjadi seorang yang ‘hidup’ karena bertemu teman lamanya Rusli. Rusli adalah seorang berpengalaman luas, meng-internasional, dan menentang  kasta-kasta serta mempropagandakan kesejajaran. Itu anggapan Hasan terhadap Rusli. Selain itu, pengubah kehidupan Hasan sebetulnya dari ‘adik Rusli’ yakni Kartini. Bagi Hasan, Kartini adalah jelmaan ‘almarhum’ Rukmini kekasihnya dulu, pembeda keduanya hanyalah tahi lalat di atas bibirnya saja. Pertemuan Hasan-Rusli-Kartini membuka mata pembaca bagaimana pandangan ortodox bertemu dengan pandangan modern, non gender, serta bagaimana pertentangan pandangan timur-barat disajikan secara lugas.

Pandangan Timur yang diwakili tokoh Hasan yang menganggap bahwa laki-perempuan ada batas jelas yakni muhrim-non muhrim. Selain itu, perempuan tidak merokok, dilindungi, bergantung kepada lelaki, dan tidak berdaya (bahkan tidak punya pendapat). Keyakinan ketimuran ini ditentang habis oleh tokoh Kartini. Dia mewakili ‘manusia merdeka’ ala barat. Segala tingkahnya sangat mengejutkan Hasan. Cita rasa musik Kartini yang kebarat-baratan bahkan dia bisa bermain piano sangat mencengangkan Hasan. Hasan sendiri sebagai lelaki hampir tidak tahu musik-musik barat selain shalawat-shalawat dan puji-pujian yang didendangkannya sebelum mengaji. Hasan semakin kelimpungan ketika Kartini dan ‘abangnya’ Rusli pergi berduaan menonton film. Bagi Hasan, batas muhrim-non muhrim telah dilanggar, bisa saja Hasan menganggap bahwa Rusli dan Kartini adalah kafir. Mereka berdua terlalu berani, terlalu  proletar, tidak takut akhirat dan dosa.

Penulis memuaskan pembaca dengan menyampaikan peliknya rasa cinta, benci, kesal, marah dan segala emosi yang dialami Hasan kepada Kartini. Selain itu, penulis juga secara cerdik mampu menyampaikan ‘joke’ kelucuan dengan caranya. Pembaca akan tersenyum ketika penulis meringankan pikiran pembaca dengan joke-joke yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terasa bahwa joke itulah sesungguhnya yang membuat pembaca tidak ingin melepaskan buku ini sebelum tamat. Kepuasan lain akan dirasakan pembaca ketika bagaimana penulis mengaduk-aduk perasaan pembaca yang terbiasa dengan pemikiran fanatik Islam dikontraskan dengan logika. Menawarkan Tuhan dalam bentuk lain dan nama lain bukanlah hal mudah. Perlu keluasan pengetahuan untuk bisa memaparkan Tuhan dan keyakinan (belief) secara berkesinambungan seperti yang dilakukan penulis. Misalnya saja memperkenalkan Tuhan dengan nama Allah, ke dalam nama lain misalnya Kristus dan Yahwe dibumbui dengan alasan logis kenapa manusia bertuhan dan pemikiran bagaimana Tuhan itu muncul sebagai jawaban atas carut marutnya kehidupan dunia (diantaranya ketidakberesan pranata sosial dan struktur pemerintahan) dan ketidakberdayaan manusia.

Semakin jauh pembaca mengikuti kemana tokoh Hasan membawa keyakinannya, semakin jauh pula pikiran pembaca dicerdaskan penulis. Secara tersirat penulis memasukkan filsafat kedalam perbincangan tokoh-tokohnya. Urusan pelik filsafat seperti apa itu hakikat hidup diajukan. Serta bagaimana teori alam sadar (Consciousness) dan alam bawah sadar (sub-consciousness) diuraikan dalam dialog yang ringan. Secara logis penulis menguraikan bagaimana teori Sigmund Freud  bekerja pada otak manusia. Untuk pembaca yang belum mengenal filsafat dan dunia tarekat, penjelasan ini akan sedikit membingungkan. Tetapi, penulis memberikan peluang kepada pembaca non akademis untuk memahami filsafat dengan memberikan gambaran sederhana bagaimana alam bawah sadar mempengaruhi alam sadar karena kerja otak terganggu misalnya karena sakit atau tidur.

Sejalan dengan penelusuran tokoh Hasan, pembaca yang berasal dari suku Sunda akan merasakan sekali bagaimana kentalnya ke’Sunda’an pada gaya penulisan Atheis. Banyak kata-kata Sunda yang langsung diserap. Walaupun nuansa ke’Sunda’annya kental, bukan berarti pembaca dari non-suku Sunda akan menemui kesulitan memahami buku ini. Secara seimbang buku ini memaparkan budaya, masyarakat, nilai, norma, serta hukum yang berlaku pada masa penjajahan. Istilah-istilah yang berkaitan dengan tata cara bertamu, berpakaian, dan bermasyarakat tergambar dengan baik. Bagi pembaca yang lahir setelah jaman kemerdekaan akan bisa merasakan kehebatan pengaruh feodal dalam masyarakat melalui paparan penulis. Selain itu, kemampuan berbahasa penulis ikut pula menghiasi dialog tokoh. Sesekali tokoh menggunakan bahasa Belanda, di lain kesempatan menggunakan bahasa Inggris.  Penggunaan berbagai bahasa ini meyakinkan pembaca bahwa penulis benar-benar seorang multibahasawan.

Sedikit bertentangan dengan kehebatan penulis, secara pribadi, saya sebagai pembaca merasa sedikit kecewa. Tokoh Hasan pada akhir cerita menemui ajal secara tragis. Kondisi ini mengingatkan pembaca kepada keyakinan yang dianut budaya Indonesia, yakni orang baik akan menemui bahagia dan orang jahat akan mengalami hal sebaliknya. Keadaan ini berlaku pada tokoh Hasan. Berlawanan dengan cara pandang penulis yang memandang jauh kepada ratusan tahun yang akan datang dalam hal mengobrak-abrik keyakinan akan hal-hal gaib, jin, termasuk Mbah Jambrong, tuturan akhir cerita seolah tidak berani beranjak dari kesepakatan umum tidak tertulis masyarakat Indonesia, yaitu tokoh jahat harus mendapatkan hukuman yang setimpal.

Saya dengar buku ini diwajibkan dibaca oleh siswa SMA. Sebersit rasa prihatin muncul dalam hati. Saya membayangkan siswa SMA yang diminta membaca buku ini akan mengulang kegagalan saya dalam membaca. Saya yakin, beberapa siswa SMA belum memiliki background knowledge (latar belakang pengetahuan) yang cukup untuk bisa menghubungkan dunianya dengan dunia imajiner yang ditawarkan penulis. Selain itu, siswa SMA akan frustasi jika diminta membaca buku ini. Selain bahasanya jadul, banyak pula menggunakan istilah-istilah jadul seperti pokrol bambu. Mungkin kata bambu tidak asing bagi siswa SMA, tetapi istilah pokrol bambu? Niatan guru untuk menumbuhkan minat baca pada siswa SMA akan layu jika menganggap buku ini sebagai salah satu sumber bahan bacaan wajib. Buku ini lebih cocok diberikan untuk memperkaya jenis bacaan siswa, bukan untuk menumbuhkan minat baca siswa. Siswa tidak akan merasa ‘senang’ ketika membaca buku ini karena selain isi buku ini ‘terasa berat’ saat mengharubirukan masalah keyakinan beragama juga tingkat literacy (melek) pengetahuan pada buku ini tidak mudah dicerna oleh beberapa siswa SMA yang belum mengenal filsafat dan tarekat.

Sebelum saya akhiri, saya dapat mengatakan bahwa buku Atheis mampu menambah kekayaan intelektual pembaca yang memiliki background knowledge yang cukup untuk menjembataninya. Selain itu, Achdiat Karta Miharja memperkenalkan budaya dan cara pandang feodal lewat tulisannya. Untuk itu, pembaca akan mengenal struktur dan pranata sosial yang dilakoninya sekarang secara lebih baik,  jika mengetahui tatanan yang berlaku sebelumnya. Selamat membaca.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: