Home » NOTES » REFLEKSI MENGAJAR 1

REFLEKSI MENGAJAR 1

Log 1 Discussion 15/02/2012

Walaupun kepala terasa “bejad” atau pecah karena migren yang luar biasa diakibatkan dua hal. Pertama secara fisik mata saya bengkak karena iritasi berat akibat mata terkena angin ketika naik motor Cianjur-Bandung. Kedua karena efek Sidang Proposal yang memicu mencret pertanda stress. Proposalnya dikecam abis-abisan. Penguji 1 support dengan menyebutkan ‘ya bisa dilanjutkan’, tapi tanpa menyentuh proposalnya, Penguji ke 2 mengkritik dari sana sini, sampai harus ganti judul, tambah lagi bagian Kajian Pustakanya, intinya banyak kurangnya. Penguji 3, tidak berkomentar apapun, selain meminta menunggu dari jam 9 pagi dan baru diterima sama beliau jam 4 sore!

Sekembalinya dari kampus, saya kembali pada dunia kerja. Setumpuk rencana menunggu, dan semuanya menjadi ekstra beban. Life.

Saya masuk kelas untuk mengisi jam ke 1-2, seperti yang tercatat pada agenda ngajar,hari itu siswa harus melakukan tes speaking untuk materi Review (resensi) film. Para siswa seliweran memberikan laporan lewat sms menyatakan tidak siap. Saya katakan lewat sms (juga) bahwa tidak apa-apa tesnya tidak dilakukan hari ini. Tapi, entah bagaimana, beberapa siswa maju untuk tes hari itu. Saya memuji keberanian mereka berbicara di depan kelas antara 3 sampai 5 menit. Bercucuran keringat mereka terbata-bata menyampaikan sinopsis dan evaluative summation film. Sebagian dapat saya pahami bahasa Inggrisnya sebagian lagi tidak dapat saya kenali, mungkin karena siswa tersebut menggunakan terjemah google. Dugaan saya tidak terlalu melenceng karena si pelaku dengan tersenyum mengiyakan. Teknologi kadang menyesatkan.

Tetapi, ada beberapa siswa yang menunjukkan unjuk kerja yang sangat baik. Ketika lupa, dia berimprovisasi sehingga performa lisannnya tidak terganggu. Yang masih mengganggu hanyalah ‘pronunciation’ atau cara pengucapan. Beberapa kata yang tertangkap masih salah diucapkan dua  diantaranya “evil /ivil/, fugitive /fugitif/.

Pada kelas berikutnya, jam mengajar ke 3-4, saya merasa lebih sakit di kepala, belum lagi ada tugas agar para guru harus mengumpulkan data-data untuk kebutuhan sertifikasi. Pada suratnya tertera pemberkasan untuk para guru periode 2011, tetapi diterjemahkan untuk guru periode 2007 sampai 2011. Saya merasa pusing sendiri, kenapa surat dari dinas sangat multitafsir. Jangan-jangan para guru di sekolah saya yang salah terjemah. Semula saya merasa tidak harus mengumpulkan pemberkasan, tetapi karena semua orang babak belur melakukannya, saya merasa terpanggil secara moral untuk turut serta ^_^.  Seorang guru mengorbankan dirinya sendiri untuk berangkat ke Bandung menuju UNPAS untuk melegalisir Sertifikat Pendidik yang dikeluarkan dari UNPAS. Sementara, mereka yang memegang sertifikat pendidik yang dikeluarkan dari UPI, pun, menghambakan dirinya pada surat dari dinas dan berangkat ke Bandung untuk dapat legalisisr. Saya melihat kejadian ini dengan miris. Para guru penuh kegugupan mengisi formulir, memfoto kopi ini itu, menandatangankan ini itu. Belum termasuk insiden konyol karena salah orang yang menanda tangan. Katanya salah satu SK harus ditandatangani oleh Pengawas Sekolah. Alkisah semua SK ditandatangan sang Pengawas. Esok harinya ada berita duka, kita salah tunjuk pengawas. Yang berhak menanda tangn SK-SK kita pengawas Z bukan pengawas X yang kemarin. Menandatangannya mungkin tidak jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ‘dana tanda tangnnya!” We can say we bribe the Supervisor just to get his signature. A wild rule from nowhere that corners us into chaotic educational life. Saya hanya bisa cengar-cengir ketika kita semua harus memfotokopi-ulangkan SK dan kembali ditandatangan-ulangkan. Ditutup dengan membayar-ulang!! Life.

So, saya tidak mengajar pada jam ke 3-4. Saya yakin para siswa bahagia dengan ketidakhadiran saya. Mereka akan blingsatan pergi ke kantin, berbaris-baris di depan Mang Oneng atau Mang Ojo, atau mungkin Teh Beti. Mereka akan membawa kantong-kantong plastik berisi jajanan dan makan di dalam kelas sambil menggosipkan betapa menderitanya mereka sebagai siswa SMA. Mereka akan mengeluhkan tugas Fisika yang seolah tidak ada hentinya. Mengkritik beratnya tugas Sinematografi. Menarik nafas untuk tidak adilnya tugas Agama. Membahas guru yang pilih-pilih perhatian. Menyindir anehnya guru yang hanya menceritakan keluarganya, anaknya, hapenya, perjalanannya, dan seabrek never ending story lainnya. Jika saja saya bisa mendengar semuanya, maka saya akan diuntungkan oleh situasi ini. How? Saya akan mampu melihat ‘kesenjangan Silabus dan praktek mengajar’. Hampir terlewat, apakah sayapun termasuk yang digosipkan? Pasti. Apa yang mereka gosipkan? Banyak. Tapi saya tidak akan membahas itu sekarang.

Jam ke 5-6 saya sedikit mendapatkan tenaga, selain selama 90 menit sebelumnya saya hanya bolak balik ke kantor TU buat ngurus pemberkasan, kebetulan saya bisa ngutang ke kantin untuk beli nasi kuning bungkus dan karoket. Saya makan sambil menyimak gosipan para guru menyoal betapa Dinas merepotkan guru. Mereka bertanya-tanya untuk apa para guru mengumpulan SK-SK, kopi buku rekening, NPWP. Bukankah tahun lalu sudah mengumpulkannya. Bahkan tahun-tahun sebelumnya juga melakukan hal sama. Dimanakah berkas-berkas itu berada? Apa mereka tidak mengubah data hard kopi itu ke dalam soft kopi. Toh yang diupload hanya data nama guru, NIP, nonor rekening, nomor sertifikat pendidik. Sepertinya tidak akan memakan 1.000 giga. Ataukah secara tidak langsung kita boleh menyimpulkan bahwa Dinas Pendidikan sedang sakit?

Saya menyuap setiap nasi butir nasi kuning dengan sendok plastik sementara telinga terbuka lebar menyerap setiap kata dari teman-teman sekantor. Ritual makan ala kantor telah selesai, saya mendapat sedikit energi, ya cukuplah buat ngajar anak SMA mah.

Saya mulai mengajar dengan mengatakan saya hendak berbagi pengalaman ketika saya menghadapi ujian. Saya berkata ,”I will share my experience when l was facing a test yesterday. While you are listening, you must find out the topic or the issue that l am delivering. Don’t forget to take a note what advantages and disadvantages you heard”. Para siswa mendengarkan dengan seksama saya menyampaikan isu tes. Dalam Bahasa Inggris saya uraikan bahwa tes memiliki dua sisi. Sis positif dari adanya tes diantaranya membantu siswa mengetahui kemampuannya. Sedangkan bagi orang tua, hasil tes dapat dijadikan sumber informasi untuk mengetahui kemajuan pendidikan anaknya. Dan untuk lembaga, hasil tes bisa dijadikan tolak ukur sejauh mana visi misi sekolah tercapai secara akademis. Selain hal-hal positif yang disebutkan tadi, tes atau ujian memiliki kemudharatan. Misalnya saja bagi siswa, tes mengakibatkan siswa stress. Mereka akan merasa tertekan karena membayangkan tes yang akan datang. Selain itu, siswa juga berada pada posisi yang tidak diuntungkan jika berhadapan dengan guru yang tidak bertanggung jawab. Guru yang memanfaatkan tes untuk menutupi kekurangan dirinya yang tidak siap mengajar. Guru jenis ini cenderung memberikan tes untuk materi yang belum yang diajarkan. Atau yang lebih parah, memberikan tes agar dia tidak harus memberikan layanan pendidikan.

Saya lihat para siswa mampu menangkap dengan baik apa yang saya sampaikan. Beberapa siswa bahkan mampu menulis-ulangkan apa yang saya sampaikan dalam bahasa Inggris. Saya minta siswa menyebutkan apa manfaat tes dan apa kerugian dari tes. Berebutan siswa mengacungkan tangan untuk berkontribusi memberikan jawaban. Great! Selanjutnya saya mengajak siswa untuk melihat isu Aborsi. Saya menantang agar para siswa mampu menunjukkan sisi positif dan negarif dari aborsi dalam waktu 10 menit. Untuk kemudahan, saya perkenankan mereka menulis dalam bentuk poin-poin saja dan menggunakan bahasa Indonesia. Saya lihat mereka memeras otak dan berusaha menyampaikan pendapat terbaik mereka. Poin-poin yang mereka buat antara positif dan negatif, cenderung lebih banyak sisi negatifnya. Hal serupa terjadi di kelas selanjutnya ketika saya mengajar pada jam pelajaran ke 7-8. Jika boleh saya men-generalisir, poin-poin pendapat kedua kelas ini tidak jauh berbeda. Menandakan cara pandang terhadap isu ini kurang lebih dilihat dengan cara yang sama.

Pandangan yang mereka ajukan dimulai dari sudut agama. Dosa. Setelah itu mereka baru mengajukan dari sisi lain atas tindakan aborsi. Saya tersenyum kecut ketika mereka menulis bahwa sisi positif dari aborsi adalah “menyelamatkan nama baik keluarga”. Saya jelaskan kepada siswa bahwa jika menyelematkan nama baik keluarga dengan cara aborsi, itu sama maknanya dengan mendukung aborsi. Sikap mendukung aborsi bertentangan dengan keyakinan bahwa melakukan aborsi itu dosa. Kontradiksi pegajuan argumen akan menyusahkan pada tahap elaborasi argumen ke depan. Sisi positif lain yang diajukan siswa dan membuat saya tersenyum adalah ‘aborsi dapat membuat lapangan kerja baru; aborsi dapat menyelamatkan masa depan-maksudnya menyelamatkan masa depan anak yang hamil sebelum nikah= dengan cara mengaborsi bayinya’. Saya sampaikan kepada siswa saya bahwa cara pikir seperti itu menyesatkan. Pertama, kita tidak bisa mendukung tindakan aborsi, kedua negara menganut keyakinan bahwa aborsi tidak legal. Sebagai warga negara yang baik, maka dianjurkan untuk mendukung apa yang diyakini secara nasional.

Saya katakan, kita harus menentukan terlebih dahulu apa definisi bayi. Jika kita mengambil alasan agama, janin dianggap sebagai manusia utuh seteleh ruh ditiupkan ke dalam janin yakni ketika bayi berusia empat bulan. Jika kita punya anggapan empat bulan baru disebut bayi, hati-hati, nanti menggugurkan kandungan saat bayi berusia dibawah empat bulan artinya boleh. Dengan alasan mereka belum jadi manusia. Atau kalau menganggap bahwa bayi itu dianggap manusia semenjak terjadi pembuahan, maka saat 1 hari pun setelah terjadi pembuahan, si lbu dianggap telah membawa manusia secara utuh. Aborsi pada saat bayi berusia 7 hari, dianggap membunuh manusia. Para siswa saling berbisik dengan temannya dan berkata’ iya yah, kenapa ga mikir ke situ dulu’.

Jika kita melihat bagaimana pemerintah menggunakan aborsi sebagai alat untuk menekan jumlah penduduk. Maka aborsi yang diterapkan di negara tersebut tidak akan bertentangan dengan value, norma dan keyakinan yang dimiliki rakyatnya. Misalnya jika 1 hari pembuahan dianggap sebagai telah terjadi manusia, maka aborsi yang dilakukan dalam bentuk ‘lain’. Misalnya penggunaan aborsi sebelum masa pembuahan tiba, ambil saja penggunaan pil KB sebagai contoh.

Kegiatan menggali pengetahuan siswa berkenaan dengan sebuah topik, selale merupakan kegiatan yang menarik untuk dicermati. Guru bisa belajar dari kegiatan ini. Misalnya saja, saya dapat mengenal apa pandangan siswa mengenai aborsi dan apa ketidaktahuan mereka menyoal aborsi. Selain itu, guru bisa tahu mengenai seberapa jauh siswa dari buku. Para siswa mengaku bahwa mereka mengajukan poin-poin mengenai aborsi bukan berasal dari hasil internalisasi membaca. Mereka mengakui bahwa membaca tidak membuat mereka terinspirasi untuk mengetahui lebih jauh tentang aborsi atau hal-hal yang berkaitan dengan fenomena sosial lainnya

Saya menutup pembelajaran hari ini dengan meminta mereka menulis jurnal. Pada buku jurnal saya ajukan agar mereka menuliskan apa pendapat mereka mengenai ‘cara pandang yang berbeda antara guru dengan siswa mengenai sebuah topik, seperti yang terjadi pada topik aborsi misalnya’.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: