Home » LIVE » DESTINY

DESTINY

Mulanya semuanya seperti normal-normal saja. Bagi para perempuan sedikit nyeri pada payudara ketika menjelang haid, dianggap sebuah pertanda siklus bulanan itu sudah dekat. Tapi kali ini aku merasa sedikit terganggu dengan rasa nyeri ini. Lebih dari seminggu payudara kanan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Diam-diam aku mengikuti petunjuk buku mengenai bagaimana mengenali kanker payudara secara dini. Sedikit lega rasanya, aku tidak merasakan ada yang ganjil pada payudara, dan juga tidak ada benjolan yang mencurigakan. Apa yang tertera di buku, tidak satupun yang mendekati kondisi fisik payudaraku. Saya pun bersyukur dan merasa tenang.

Aku memang sok sibuk dan sok rajin, masalah yang terasa ditubuh tidak terlalu dipedulikan. Aku pusatkan perhatian pada kuliah. Aku punya cita-cita agar kuliahku tamat tepat waktu. Jika tidak tamat sesuai kontrak, aku merasakan sendiri, bagaimana sulitnya mencari uang dijaman ini. Aku selalu berusaha tidak bolos kuliah, pusing-pusing diit, hujan lebat, angin ribut campur halilintar pun tak mengurangi semangatku untuk tatap hadir di perkuliahan. Saking aku rajinnya, sampai dosen yang merasa iba hati ketika melihat aku basah kuyup dan menggigil demi hadir di kuliahnya. Beliau  beriba hati melihatku, tapi aku keukeuh untuk hadir. Rasanya menjadi mubazir kedatangan saya jauh-jauh dari kota kecil, ngekos demi kuliah. Sekarang saat kuliah tiba, dan baju basah tidak harus menghentikan niat kuliah. Saya senyam senyum saja pas saat kuliah, mengurangi seringai kedinginan dan jaga imej juga sih. Masa ketua kelas harus pulang dengan alasan takut masuk angin, ah kurang seru.

Setiap hari, aku belajar. Bagi beberapa orang, kebiasaan belajarku sedikit membuat mereka heran. Hidupku hanya ada di dua tempat. Rumah dan kampus saja. Di kampus aku belajar. Di kosan pun, ya belajar lagi. Anak-anak kos lain menganggap aku sedikit ‘aneh’. Karena aku hanya tidur, makan, menghabiskan hari, dan bahkan mungkin  mimpi pun hanya dengan buku. Sebenarnya bukannya aku rajin baca. Aku banyak baca, karena aku merasa bodoh, serba tidak tahu. Jadi aku usahakan meninggalkan ketertinggalanku pada pengetahuan dengan baca. Akupun memilih jajan kertas = beli buku ketimbang jajan yang lain. Aku tidak seperti temanku yang koleksi barang-barang antik, boneka-boneka lucu, atau benda-benda langka. Selain uangku tak cukup, karena memang aku sangat memaksakan kuliah padahal secara ekonomi, aku morat marit. Mungkin keberadaanku di kampus ini anugrah terbesar bagiku yang terus terang selama ini merasa gak mungkin bisa jadi anak kuliahan.

Aku mensyukuri anugrah Allah yang memberikan kesempatan kuliah. Di kampungku mungkin hanya aku yang bisa kuliah. Itu jadi satu kebanggan tersendiri. Maklumlah aku kan orang kampung. Bisa kuliah merupakan satu cara yang nantinya bisa meningkatkan derajat dan prestise tersendiri. Aku tidak mengincar itu tentu saja. Aku kuliah karena aku memang merasa bodoh saja. Ketika aku tahu dari teman bahwa aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri, aku merasa tidak percaya jika aku diberi kesempatan untuk merasakan atmosfir kuliah di abad 21. Mengenal ruang kuliah dengan dilengkapi hot spot, akses kampus on line, dengan penggunaan one multifunction card, LCD on all the time, dan segala macam peralatan perkuliahan zaman dunia maya. Makan di kantin dengan menu youghurt, mie pasta, kwe tiaw goreng, dan sedikit sekali pilihan makanan dengan menu pokok nasi. Maka aku tidak terlalu peduli juga ketika aku merasakan jempol kanan bagian bawah terasa gatal-gatal. Aku anggap mungkin karena aku pakai sepatu dari bahan katun, dan berjalan di air comberan karena musim hujan, maka gatal-gatal di jempol kaki, lumrah sebagai reaksi normal kulit terhadap kuman-kuman unidentified yang dibawa air comberan (air comberan sekarang punya nama baru yakni Cileuncang, yang sedikit diartikan sebagai sungai dadakan).

Aku menjalani masa perkuliahan dengan riang. Ada bahagia yang tidak dapat dijelaskan sekaitan dengan keberadaanku di kampus. Aku menyinggung masalah bahagia, karena sesungguuhnya aku sedikit merasa bingung, mau apa setelah kuliah ini kelar? Melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi? Tidak mungkin rasanya. Terlalu berat untukku. Berat dari segi finansial, juga berat dari sisi mental.  Perkuliahanku saat ini terasa sangat berat, menyita segala yang kumiliki. Aku habis-habisan belajar, tetapi tetap terasa bodoh. Tugas datang silih berganti, aku seperti tak sempat punya libur. Ada hari kosong dari kuliah, harus sigap digunakan untuk penelitian. Mencari data, mencari participant, mencari ide, dan mencari hal-hal lain yang membuat aku bisa bertahan kuliah.

Payudaraku tidak terlalu sakit. Aku mensyukurinya sekaligus pertanda aku sehat. Hdupku berjalan normal (paling tidak dari sudut pandangku sendiri). Aku menghabiskan hari-hariku di kampus, di rumah, di depan laptop, hidup berjalan mengikuti kalender. Pada saat awal bulan aku punya sedikit uang, jadi bisa sedikit memanjakan mulut dengan jajan makanan yang beda dengan sehari-hari (=kwe tiaw goreng, bihun goreng, nasi goreng). Bulan ini aku bisa sedikit boros. Aku bisa beli jagung bakar! (ukuran boros yang terlalu rendah untuk ukuran sebagian temanku yang hidup di zaman sekarang, aku menemukan temanku menghabiskan 300ribu hanya untuk memuaskan mata dengan membeli dompet plastik, dan dompetnya tidak pernah dipakai dengan alasan gak matching sama baju)

Aku menikmati udara sore dengan kelembaban tinggi sedikit chill sangat cocok jika makan jagung bakar. Maka terpilihlah satu kios penjual jagung bakar diantara jejeran kios lainnya. Kupilih kios itu karena terlihat bersih, ada bangku panjang dan meja panjang. Mengingatkanku pada masa kecil dulu. Ketika SD aku diberi tempat duduk memakai bangku panjang seperti bangkunya tukang bubur: panjang, tanpa sandaran, hanya papan datar dengan disangga dua kaki, sangat sederhana, tapi efektif untuk memuat banyak orang.  Aku belum duduk ketika aku diberi kesempatan untuk memilih sendiri jagung yang hendak dibakar. Sedikit sulit bagi orang yang tidak ahli dengan kontur (contour) jagung untuk dapat membedakan mana jagung penuh biji dan  mana jagung yang hanya besar bongkolnya saja. Aku memilih jagung yang tampak bersih, gurat-gurat bungkusnya menandakan gambaran isinya yang padat, kupilih itu. Gembira sekali aku mecoba membuka setiap lembaran daun pembungkus jagung. Seperti mengikuti sebuah teka-teki, aku bertanya-tanya apakah tebakanku akan isi di dalam bungkus daun jagung seperti yang saya perkirakan. Lembaran akhir telah terbuka dan jagungnya ternyata sangat bagus, kuning, keindahannya mewakili deratan gigi iklan pepsodent. Tangkai jagung terasa terlalu panjang untuk bisa dibakar. Sekuat tenaga aku potong. Aku pegang bagian ujung tongkol jagung dengan tangan kanan, tepat di depan dada. Tangan kiri memegang bulir-bulir jagung, kukerahkan semua tenaga yang kumiliki untuk memisahkan jagung dari tongkolnya. … krek! Tongkol jagung patah, menekan payudara kananku, dan … sangat nyeri. Nyeri yang hampir tidak tertahankan. Aku minta ijin kepada pembakar jagung barangkali dia punya toilet. Aku tergesa-gesa masuk toilet. Dan kuperiksa payudara kananku. Dan…. Allah  ada darah. Darah kental, terlalu kental untuk ukuran hemoglobin normal. Terasa panas mengalir disemua bagian payudara. Kulap dengan tisu, darahnya keluar lagi. Aku tidak tahu apakah harus panik, diam, atau menunggu darahnya kering. Kulihat payudaraku sedikit memerah. Kutekan bagian yagn merahnya, tanpa kuduga, darah semakin kuat mengucur. Tuhan kenapa ini?

Aku  bayar, jagungnya dibungkus. Niat menikmati chill afternoon , senja dingin dengan bakar jagung batal. Segera aku masuk kamar dan berkaca di cermin meneliti setiap bagian payudara. Merahnya berdiameter antara 5-8 senti. Kutekan-tekan, kembali darah keluar. Aku tahu bisul. Bisul biasanya setelah matang (masa inkubasi habis) akan mengeluarkan nanah. Aku menduga bahwa inipun berdarah kental bisul. Tapi jika bisul, mana mata bisulnya? Terus, kenapa aku tidak merasakan gejala bisulan? Secara naluriah, kubuang darah yang masih terus mengalir, lama-lama habis juga rupanya darah kentalnya. Kututup lukaku dengan tisu. Dua  hari setelahnya aku demam berat, dan tidak diobati, dan tidak ada yang tahu, dan aku juga tidak peduli.

Hidupku berjalan lagi mengikuti tanggalan kalender. Kuliahku berjalan sesuai kalender. Semester satu penuh shock, karena serba tidak tahu dengan harus apa dan bagaimana dengan kuliah. Juga harus memulai penyesuaian hidup sebagai anak kuliahan. Semester 2, sedikit turun ketegangan kuliahnya, bukan karena tekah menjadi sedikit cerdas, tapi karena sedikit tahu, bahwa setelah semester 2 akan ada semester 3, itu menenangkan, artinya siklus kuliah tidak lebih dari melewati semester ke semester dan di dalamnya dipenuhi tugas dan membaca. Selama kuat dan tahan dengan segala macam tugas, kuat baca, selesai. Kuliah bisa berjalan sedikit tegak. Tapi jika berharap nilai tinggi, gayanya harus sedikit diubah. Kuat baca, tahan dengan tugas, ditambah cerdik dalam memfarafrase dan mensintesa kemudian mampu menuangkannya secara akademik, maka boleh berharap nilainya bagus.

Seiring kehidupan kampus, tanpa kusadari, tubuhkupun berkembang dan merespon sesuai kondisi. Sekarang, aku sudah bisa mengiris kulit jempol kaki dengan cutter ketika jempolnya sudah terasa membuat sempit sepatu dan sakit ketika berjalan, tergencat jari yang lain. Sehabis mandi aku iris kulit jempol yang menonjol karena dia tumbuh! Menebal, membesar, mengganggu, dan sakit. Pertumbuhan sel kulit jempolku tidak termasuk normal. Tapi aku memperlakukannya senormal mungkin. Tindakan yang kulakukan menurutku sangat rasional dan dewasa. Jika aku heboh dengan segala perubahan yang terjadi pada diriku, mungkin orang-orang yang peduli akan hidupku akan sedikit over acting dan mengambil keputusan bahwa aku sakit. Keadaan ini akan merugikanku, aku harus ini itu sesuai kepedualian orang lain. Hidup yang melelahkan sepertinya.

Jempol kaki kananku tidak bisa diam rupanya. Dia menulari jari terdekatnya. Ada tiga benjolan kecil tumbuh. Aku menyikapinya dengan tenang. Biarkanlah dulu. Toh kalo tumbuhnya terlalu cepat, bisa aku babat dengan tajamnya pisau cutter. Sedikit ngilu dan perih, tapi paling tidak aku bisa berjalan tanpa terlalu sakit. Aku demam lagi. Aku menganggap demam bukan penyakit. Suhu tubuhku lebih panas dari orang kebanyakan. Badanku selalu terasa panas, tapi aku merasa aku sehat-sehat saja.

Demamku kini sedikit lama, dan aku dibawa ke dokter. Dokter menunjukkan wajah datar-datar saja, sedikit tidak simpati bagiku. Akupun diam saja. Sikap apapun yang saya tunjukkan saat itu, mungkin tidak akan mengubah keadaan sesudahnya. Kata dokter ada penyebaran tumor pada tubuhku, sumbernya di payudara. Aku dingin saja menanggapinya, ah dokter bisa saja salah. Agar dia dapat uang operasi, maka dia memutuskan agar  aku segera dioprasi. Operasi untuk apa? Untuk jempol dan payudara. Banyak amat. Apa ga bisa satu-satu, atau sabar sedikit. Biarkan aku menikmati sakitnya dulu, dan menyadari dulu kalau aku sakit, baru ada operasi, jangan mendadak divonis sakit dan harus operasi. Tidak adil, kenapa dokter bisa menguasai seseorang?

Aku kehilangan satu payudaraku, dan setengah jempol kakiku, ditambah seperempat jempol jari telunjuknya. Dokter dengan sumringah berkata, “saat ini penyebaran tumornya telah terkontrol, tenang saja, jika terjadi sesuatu, sistem kimoterafi menjadi jawabannya.” Aku menjadi lahan bisnis dokter. Ya sudahlah, ini nasib (kata orang ingris mah ‘destiny). Aku pun masih sempat beryukur karena aku masih punya satu payudara, satu mata, dan setengah jempol.


1 Comment

  1. badriah says:

    sebuah penuturan yang jujur, patut dihargai, tapi apakah tepat bila di-posting di media seperti ini, Fin?
    tidak adakah orang yang bisa diajak sharing?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: