Home » LIVE » GURUKU (1)

GURUKU (1)

David adalah salah satu guru bahasa Inggris saya waktu SMA dulu. Bagi saya, beliau termasuk guru jempolan. Paling ada LIMA hal yang bisa diajukan sebagai alasan atas kejempolannya. Pertama, sebagai guru, dia satu-satunya guru yang tidak setuju dengan sebutan ‘guru’. Suatu saat beliau meminta saya agar buka kamus Oxford atau Cambridge, atau apalah yang penting kamus English-English, karena beliau termasuk orang yang tidak bersetuju jika siswa belajar bahasa Inggris dengan menggunakan kamus Indonesia-Inggris atau sebaliknya. Alasannya kamus model begituan TIDAK MENCERDASKAN.  Sebagai murid, saya harus bersetuju dengan fatwanya. Padahal tanpa sepengetahuan beliau, saya memiliki kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia. Bukannya saya berkhianat kepada guru, tetapi saya tidak bisa menolak keberadaan kamus dua versi bahasa ini. Keduanya datang pada saya sebagai hadiah atas pengakuan orang lain terhadap kemampuan berpidato saya dalam Bahasa Inggris, yang katanya cukup baguslah untuk ukuran anak kampung yang belum pernah ke Inggris bisa niru-niru ngomong orang Inggris, dan sedikit meyakinkan juri (yang saya yakin mereka pun sama seperti saya, yakni belum pernah ke Inggris, makanya mereka menilai ngomong saya bagus😉 ). Kedua kamus itu tidak pernah saya keluarkan, juga tidak pernah saya pakai, bahkan tidak saya pajang untuk sekedar pamer kalau saya punya kamus John Echols. Selain saya takut dianggap murtad karena telah melanggar perintah guru, saya juga khawatir terkena kutuk. Walaupun guru saya tidak tahu kalau saya buka-buka kamus hadiah itu, tapi hati kan saya ngaku kalau saya telah melanggar amanat guru. Eh… tapi kalau tidak salah, saya pernah buka kamus itu satu kali, waktu itu saya mencari apa bahasa Inggrisnya ‘lempeng’. Ah ternyata, guru saya memang benar, saya pusing sendiri, karena terjemah lempeng itu memusingkan. Ketika dicoba dipakai pada kalimat, dan diterjemah balik ke dalam Bahasa Indonesia, terjemahnya jauuh dari yang saya maksudkan. (Kasus ‘pusing’ karena salah kamus pernah menimpa teman saya. Alkisah dia harus menerjemahkan kalimat “dia jago main gitar”. Dia nyari setengah mati kata jago pada kamus Indonesia-Inggris. Dia menemukan terjemah ‘jago’ adalah ‘cock’. Dengan bangganya dia menulis “he cock play guitar” hahahaha…. cock = ‘ayam jago”) Sejak saat itu saya punya keyakinan bahwa guru harus digugu dan ditiru, karena petuah mereka walaupun awalnya terdengar nyeleneh, tapi terbukti benar (walaupun perlu 10 tahun untuk ketahuan benernya hehehe).

Kembali ke masalah guru bahasa Inggris saya yang berkeberatan disebut ‘guru’. Beliau menjelaskan dengan yakinnya begini, ‘coba kamu telusuri “kata pinjaman” dalam bahasa Indonesia (kalau kata ahli translation penganut Vinay and Dalbernet mah disebutnya Calque, in contrast to ‘borrowing’), kata engineer jadi insinyur, doctor jadi dokter, governor jadi gubernur, kenapa teacher jadi…guru.  GURU? Wow..how come, do you know what guru is?” (kamu tau ga apa arti kata guru? Terjemah pribadi). Saya cengangas cengenges saja, karena bagi saya mau guru mau teacher (ticer), ah tidak ada bedanya. Kalau saya manggil guru… teacher (ticer), malah jadi awkward (aneh). Ticer  bahasa sunda, ticer matematika, ticer mulok…bapak ticer dan ibu ticer…… .

Saya buka kamus Cambridge (karena kebetulan saya belum mampu beli kamus Oxford yang harganya 400 ribu dan tidak bisa ditawar dengan alasan ‘worth paying as it is an original edition’). Nah pada kamus Cambridge guru memiliki dua makna (1) a religious teaacher in the Hindu or Sikh religion, dan (2) a person skilled in something who gives advice. Walhasil kata guru adalah pemberi pencerahan keagamaan bagi penganut Hindu atau seseorang yang luas pengetahuannya sehingga mampu menerangi orang yang dalam kegelapan, atau seseorang yang mumpuni dalam keilmuannya. Sedangkan guru, yang kita hadapi tiap hari, tidak memiliki atribut dan tanda-tanda dari yang dua tadi. Jadi kita salah sebut, mereka bukan guru tapi ticer.  Saya mulai mengernyitkan dahi (tandanya saya mikir). Guru saya ini ada benarnya juga. Kata guru mengandung unsur sakral. Kesakralannya diabadikan pada kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Para Nalendra (raja) mereka berguru kepada gunung, kepada pohon, kepada sungai, kepada alam sebelum mereka menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan. Alam takambang adalah guru.

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana para Pandawa berguru kepada alam selama empat tahun ketika mereka dibuang oleh Kaum Kurawa karena kalah bertaruh. Setelah empat tahun berguru kepada alam (empat tahun berguru kepada alam, waktu yang dihasibiskannya setara dengan kuliah S1) Pandawa menjadi insan kamil atau manusia paripurna. Sedangkan,pada jaman kekinian kita masih mendengar, agar mendapatkan sebuah kemanjuran dari suatu ilmu maka mandi di tujuh mata air yang berbeda adalah saratnya. Artinya, orang yang belajar ilmu tadi harus berguru pada mata air. Makna tersembunyi dari mata air adalah ‘kesucian dan sikap qonaah’. Sumber air mencerminkan bersih, saya tak perlu mengulasnya, qona’ah? Maksudnya sikap nrimo, mengikuti takdir tanpa banyak demo-demo atau protes-protes. Lihat bagaimana air menelusuri kodratnya. Dari sumber manapun dia berasal dia akan mengalir ke arah yang lebih rendah, dan itu takdirnya air. Maknanya, kata GURU untuk digunakan sebagai atribut untuk ticer (pengajar) belum tepat.

Guru saya (ticer saya) meminta saya melongok sejarah, dari mana kata guru munculnya. Saya tentu saja  give up (menyerah), lha wong saya bukan ahli sejarah, mana saya tahu kapan kata guru muncul. Saya hanya menebak-nebak saja mungkin kata guru muncul pada jaman penjajahan Belanda dulu. Jika kita kaji dari sejarah, katanya Belanda itu mencoba menciptakan jurang yang beda antar sesama manusia (diskriminasi). Misalnya saja, harus beda antara rakyat (cacah) dan  pejabat (menak). Panggilan Raden, Aden, atau diselewengkan jadi Adeng adalah salah satu cara yang digunakan agar derajat manusia menjadi tidak sama . Dari tulisan Ahmad Bakri (penulis buku Dukun Lepus terbitan Kiblat) saya bisa membayangkan kesenjangan kasta pada jaman Belanda. Ahmad Bakri menggambarkan bagaimana sikap cacah ketika seorang menak lewat. Cacah harus duduk ditanah basah kotor bercampur tahi kerbau dan menundukkan kepala ketika menak lewat. Sangat tidak beradab sekali karena si menak lewatnya dengan menunggangi kuda, you can imagine bagaimana air kotor yang terinjak kuda muncrat ke wajah para cacah. Nah, kata guru mungkin diperkenalkan oleh Belanda untuk memberikan imej kalau guru adalah orang yang berbeda, bukan manusia biasa, something atau yang kaya begitulah, sesuatu. Guru dipekerjakan Belanda untuk mengajar anak-anak pribumi golongan menak. Guru mengajarkan baca-tulis agar lulusannya bisa bekerja sebagai pekerja kelas rendahan. Pada saat itu selain guru ada pula orang yang mengajarkan baca-tulis Arab (Al-qur’an) tidak disebut guru, tapi Kyai. Dan lulusan pesantren bisa menulis huruf Arab, bukan huruf Latin seperti yang diajarkan guru. Perbedaan sebutan ini tentu ada maksudnya. Selain mengakibatkan cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan, memisahkan pula cara tata titi dan beretika ketika berhadapan dengan dua genre pengajar ini. Belanda menciptakan guru adalah pengajar ilmu dunia, dan kyai pengajar ilmu akhirat. Mereka tidak bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah padahal tugas mereka (kurang lebih) sama. Atau saya salah, Belanda malah menerapkan kata guru untuk menyindir, mengejek, atau mengironikan. Kita, bangsa Indonesia memiliki pengaruh kuat keHinduan dalam kehidupan keseharian. Otomatis kata guru, telah punya definisi tersendiri dalam kosakata budaya bangsa kita. Belanda menggunakan kata guru untuk mengejek kesakralan bawaan dari kata guru. Entahlah. Saya sampai saat ini masih menyebut guru bahasa Inggris SMA saya itu guru. Tidak sempat saya memanggilnya ticer, saya merasa kagok (canggung) untuk memanggilnya ticer seperti permintaannya.

Alasan KEDUA, kita bertemu di Guruku (2)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: