Home » NOTES » Memperkenalkan Membaca kepada Pembaca Pemula

Memperkenalkan Membaca kepada Pembaca Pemula

Memperkenalkan membaca secara ramah kepada pembaca pemula

 

Hasil studi UNESCO menunjukkan dari 39 negara, minat baca anak Indonesia menduduki posisi ke-38 diantara Negara-negara ASEAN. Jika dihitung, buku di Indonesia hanya dibaca 27 halaman per tahun, yang berarti 1 halaman dibaca dalam 2 minggu (Pikiran Rakyat, 3 Nov 2011).  Penggalan paragraf ini sangat memprihatinkan karena tidak saja menggambarkan rendahnya minat baca di Indonesia, tetapi juga mengindikasikan pembelajaran membaca seolah setaraf dengan pemberantasan buta huruf. Pembaca pemula berhenti membaca setelah mereka melek huruf karena menganggap telah bisa membaca.

Pendidik pada tingkat pendidikan dasar memperkenalkan huruf, terlepas dengan mengunakan strategi whole language (memperkenalkan kata sebagai bagian dari kalimat), atau dengan phonic (huruf per huruf menjadi kata). Keduanya mengantarkan pemelajar tingkat dasar mengenal bahwa huruf dapat dirangkai menjadi kata dan memiliki makna. Sayangnya, segera setelah pemelajar ini mengenal huruf dan kata, serta dapat membacanya; sebagian pendidik berasumsi bahwa tugas mengajari membaca telah khatam. Inilah awal stagnasi dan tidak munculnya keinginan membaca secara otonomi pada kalangan anak-anak.

Faktor penghambat lainnya adalah, sebagian pendidik seolah memperkenalkan membaca adalah pintu untuk bisa menjawab soal pada bagian akhir bacaan. Gaya ini tentu saja bukan merupakan perkenalan yang baik dengan dunia membaca bagi anak-anak. Karena, membaca untuk mendapatkan kesenangan (pleasure)  sangat berbeda dengan membaca untuk mendapatkan informasi. Ketika anak-anak dihantarkan bahwa membaca adalah untuk memperoleh informasi saja, maka kenikmatan membaca pupus. Mereka bisa salah simpul bahwa kegiatan membaca adalah kegiatan yang serius, yang melibatkan hafalan dan pemahaman sekaligus. Jika kedua elemen ini tidak muncul, diakhir kegiatan membaca mereka tidak dapat mengkomunikasikan hasil bacaan dalam bentuk kemampuan menjawab soal. Jika kegiatan membaca seperti ini terjadi, bukan tidak mungkin  anak-anak mengeluhkan keengganan membaca dengan alasan membaca membuat mereka merasa capek, pusing, terbebani, dan tertekan. Mereka merasa lelah karena harus mencerna dan mengingat-ngingat apa saja yang telah dibaca. Membaca seperti ini sangat jauh dari kondisi membaca tanpa beban atau reading for pleasure.

Sebaliknya, membaca untuk kesenangan tidak meminta pembacanya untuk berkerut dahi dan bersiap-siap mengakhiri kegiatan membaca dengan menjawab pertanyaan. Tetapi, membaca dengan tujuan ingin berkomunikasi dengan penulis. Apapun yang ditawarkan penulis, dicernanya, tanpa ada rasa khawatir interpretasi terhadap bacaan tidak sesuai dengan keinginan pendidik atau patokan pemahaman melalui soal.

Sama halnya seperti penguasaan keterampilan berbahasa dalam bentuk berbicara, menulis dan menyimak, keterampilan membaca tidak muncul dengan sendirinya tetapi harus diajarkan. Untuk pembaca pemula, mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru merupakan awal yang baik untuk menunjukkan kepada mereka bahwa membaca menyenangkan. Seorang peneliti pendidikan anak-anak D. Hill (2001) menemukan bahwa cerita atau dongeng menyumbangkan aspek fundamental sekaligus unsur kesenangan bagi pembaca pemula. Sementara, buku-buku pelajaran tidak cukup banyak memuat cerita atau dongeng di dalamnya. Para pendidik disarankan untuk membacakan cerita atau dongeng bagi para siswanya, dan mengajak para orangtua agar mereka bersedia membacakan cerita bagi anaknya sebelum tidur. Sehingga anak-anak mendapatkan layanan dobel ke dalam dunia membaca. Sehingga anak-anak akan secara tidak langsung menyadari bahwa membaca dapat mendatangkan rasa senang, penasaran, ingin tahu, dan pada akhirnya timbul keinginan untuk membaca sendiri.

Selain itu, beberapa strategi dapat diterapkan di kelas agar anak senang membaca. Memperkenalkan konteks merupakan salah satu cara agar siswa dapat menemukan pemahaman terhadap isi bacaan. Bagi pembaca pemula kegiatan membaca dapat disajikan dengan membuat siswa merasa bahwa mereka tidak sedang diminta memahami teks. Guru misalnya membacakan sebuah teks, sedangkan para siswa diminta menebak benda yang disembunyikan dibawah taplak meja gurunya.  Atau, mengajak siswa memahami tanda baca dengan menunjukkan bagaimana guru berhenti sesaat untuk memperkenalkan koma dan beberapa saat untuk mengenalkan titik. Tanda baca penting dikenalkan karena menjadi bagian dari unsur untuk memahami teks.

Strategi lainnya adalah dengan kartu KWL, peta semantik, dan diagram Ven. Untuk KWL, mintalah siswa membaca, setelah itu buatlah tiga kolom. Kolom pertama K digunakan untuk menuliskan apa yang saya ketahui, kolom ke-2 W disediakan untuk menuliskan apa yang ingin saya ketahui, dan kolom ke-3 L dibuat untuk menyampaikan apa yang telah saya pelajari. Selanjutnya, peta semantik; sama dengan KWL mulailah dengan meminta anak untuk membaca sebuah teks. Segera setelah mereka selesai membaca, buatlah bulatan-bulatan yang nantinya diisi oleh informasi sesuai dengan isi bacaan.  Dan Diagram Ven adalah cara mengecek pemahaman bagi siswa yang membaca teks berisi sesuatu yang dapat dibandingkan atau dikontraskan. Misalnya siswa membaca cerita yang didalamnya melibatkan berbagai macam jenis binatang. Diakhir kegiatan siswa diajak membuat persamaan dan perbedaan diantara setiap binatang yang dilibatkan di dalam cerita.

Sebagai tambahan, strategi yang dapat digunakan adalah dengan memberikan siswa mini-reading lesson yang ditujukan untuk membantu siswa menciptakan konteks sehingga menemukan makna bacaan. Misalnya siswa diperkenalkan pada bacaan berjudul “Perpustakaan” dan pada teksnya terdapat gambar. Dianjurkan agar gambar digunakan sebagai pengantar untuk memahami isi teks. Guru dapat mengajak siswa untuk mencermati gambar, ajak mereka menggali sebanyak-banyaknya informasi dari gambar, sehingga membantu ketika mereka membaca secara individual.

Koran atau majalah pun dapat digunakan untuk membuat siswa tertarik membaca. Pilihlah artikel pendek yang sesuai. Siswa dapat melihat langsung bagaimana teks informasional pendek tersaji secara otentik. Melalui teks yang diambil dari koran atau majalah, guru dapat mengenalkan keterampilan berwacana.

Penggunaan berbagai  strategi untuk menunjukkan kepada pembaca pemula bagaimana membaca merupakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan, selain membantu lahirnya pembaca-pembaca baru, diharapkan juga akan mensejajarkan anak-anak Indonesia dengan anak-anak Asia lainnya dalam taraf literacy dan kuantitas bacaannya sehingga mendongkrak posisi minat baca anak Indonesia. Para pendidik disarankan untuk tidak terlalu kaku dalam menggali pemahaman hasil bacaan. Memberikan serentetan pertanyaan yang harus dijawab pada setiap akhir kegiatan membaca, bukan satu-satunya cara bagi siswa untuk mengkomunikasikan pemahaman terhadap isi bacaan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: