Home » NOTES » MENDAPATKAN PENGALAMAN BELAJAR DARI JAWABAN SISWA YANG SALAH

MENDAPATKAN PENGALAMAN BELAJAR DARI JAWABAN SISWA YANG SALAH

Setiap pertanyaan yang diberikan pada kita akan dijawab berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita. Begitu pula pertanyaan tertulis yang disodorkan kita akan dijawab sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki. Excel, siswa SD kelas 1 semester 1, diberi pertanyaan tertulis untuk menggali pemahamannya dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial yang berkaitan dengan anggapan dan pandangan terhadap suatu kejadian.

                Pada bagian awal, Excel disodori sepuluh soal pilihan Ganda dengan butir pilihan sebanyak tiga buah. Pada bagian kedua, terdapat sepuluh buah soal esay yang dapat diisi sesuai pegetahuannya. Untuk soal pilihan ganda, jawaban telah disediakan dan Excel hanya memilih jawaban yang paling tepat dengan cara menyilang huruf a atau b atau c. Sepertinya untuk memilih a, b, atau c, Excel tidak mengalami kesulitan. Sedangkan untuk soal esay, Excel menemui masalah. Masalahnya sangat prinsipil.

                Untuk sebuah soal, guru sudah memiliki jawaban yang “benar”. Ketika sebuah soal esay diberikan, guru telah memiliki jawaban yang “benar” menurut sudut pandangnya, yakni jawaban yang sesuai dengan harapannya. Ketika siswa menjawab tidak sesuai dengan yang diharapkannya, maka otomatis jawaban akan dianggap salah. Padahal sebaiknya guru mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada siswa mengapa jawaban yang diberikannya seperti yang dituliskannya. Mengingat jawaban esay bersifat bebas, siswa dapat menuliskan apapun sesuai dengan alaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

                Mari kita lihat kasus Excel. Salah satu soal esaynya berbunyi “Ketika libur saya akan pergi ke rumah nenek. Pergi ke rumah nenek merupakan pengalaman yang …” . Tanpa ragu Excel menulis jawaban “menyakitkan”. Dan otomatis pula guru mencoret merah jawaban itu, karena jawaban yang diharapkan gurunya adalah “menyenangkan”. Kontradiktif jawaban ini menempatkan Excel pada posisi yang dirugikan. Saya tanya kenapa Excel menulis “menyakitkan”. Excel menjelaskan begini, “ya, buat Excel menyakitkan, karena kalau Excel pergi ke Selatan (tempat dimana dulu neneknya tinggal)             untuk berkunjung, kan neneknya sudah meninggal. Excel tidak bisa bertemu nenek, malah Excel tidak mau ke Selatan, sedih.”

                Jawaban “tidak tertulis” Excel melatarbelakangi jawaban tertulisnya. Guru mungkin tidak sempat menggali jawaban tidak tertulis yang sebetulnya merupakan pengalaman asli siswa. contoh kedua, soal berbunyi ,”Seorang Ibu melahirkan bayi perempuan. Melahirkan merupakan pengalaman … .” Excel menjawab “merepotkan”. Dalam pandangan Excel dengan usia tujuh tahun, melahirkan merupakan hal yang merepotkan atas alasan waktu Ibunya sendiri melahirkan, semua orang menjadi repot. Dia melihat semua orang sibuk, dan banyak yang diurusi sehingga dimaknai ‘repot’ olehnya.

                Apa yang sebaiknya guru lakukan ketika kontradiktif jawaban terjadi? Apa sesungguhnya tujuan diadakannya ulangan bagi peserta didik. Ada beberapa alasan untuk ini, diantaranya untuk melihat perkembangan sejauh mana peserta didik menguasai materi yang telah diajarkan. Tetapi, seperti banyak diketahui para guru, kegiatan memeriksa hasil ulangan atau pekerjaan siswa merupakan kegiatan yang banyak menyita waktu. Sehingga tidak sedikit guru yang mengajukan alasan mereka memeriksa hasil ulangan karena itu harus, titik. Untuk mengurangi tarik menarik antara kepentingan penilaian bagi guru dan kebermanfaatan bagi siswa, beberapa hal di bawah ini barangkali ada manfaatnya:

  1. Sebelum guru memutuskan jawaban siswa A benar atau salah, sebaiknya berikan siswa kesempatan untuk melihat apa jawaban yang diberikan oleh temannya. Misalnya, pada saat ulangan selesai, minta seorang siswa untuk menyebutkan jawaban untuk nomor 1 dan tanya alasannya kenapa. Biarkan siswa lain mendengar jawaban dan alasan yang diberikan temannya. Selanjutnya, tanya pula siswa yang lain, dengan demikian siswa bisa melihat bagaimana siswa lain memberikan respon terhadap sebuah soal. Guru pun dapat melihat bagaimana reaksi anak terhadap soal yang diberikannya. Karena bukan tidak mungkin sebuah soal “dibaca” berbeda oleh setiap anak. Sebagai contoh “Sebutkan bunyi Pancasila yang ketiga?”. Seorang anak, sangat kebingungan dengan soal ini. Maka dia menjawab “Tidak berbunyi”. Bagi dia “Sebutkan bunyi”, dia memproses kata bunyi dihubungkan dengan Pancasila, dia menyimpulkan bahwa Pancasila tidak memiliki bunyi.
  2. Sesekali ajak atau minta siswa yang memeriksa jawaban. Tentu saja sebelumnya guru harus memberitahukan terlebih dahulu jawaban yang diharapkannya, sehingga siswanya bisa membuat parameter sendiri jika kebetulan soalnnya berbentuk esay.
  3. Ketika memberikan soal, jangan diberikan secara berurutan dari 1,2,3 dan seterusnya, sesekali loncat dari 1 ke 4, maju ke nomor 2. Dengan cara seperti ini siswa terus ‘alert/waspada’ dan tidak menebak-nebak soal selanjutnya apa.
  4. Berikan kesempatan siswa untuk menentukan soal mana yang ingin dijawabnya. Diumpakan disediakan soal esay sebanyak 15 buah, tetapi siswa diperbolehkan hanya menjawab 10 soal saja. Ini membantu siswa kelompok lambat untuk merasa yakin bisa menjawab soal sesuai dengan kemampuannya.
  5. Jika soal berbentuk pilihan ganda. Tuliskan jawaban di papan tulis sebanyak lima-lima, tetapi tidak diberi nomor, dan acak. Umpamanya jawaban no 10 A, 11 C, 12 D, 13B, 14A, 15A. Tulis jawaban A,C,D,B,A,A. Jika pas siswa memeriksa nomor 10 mereka menemukan jawaban nomor 10 A, maka nomor 11 pastilah C, dan seterusnya.

Jawaban yang dianggap salah oleh guru, tentulah memiliki makna. Mengusahakan agar siswa bisa belajar dari kesalahan itu menjadi bagian dari proses mendapatkan pengalaman belajar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: