Home » NOTES » Puisi: pintu mengenal sastra

Puisi: pintu mengenal sastra

Saya lempeng-lempeng aja dalam urusan menggunakan  bahasa. Ketika orang bicara tentang Sastra, saya tidak merasa tertarik. Saya pikir hasil karya sastra dalam bentuk Puisi, hanyalah wadah dan pelarian bagi pendukung-pendukung cengengisme dan penikmat sentimental. Maka tak heran, selama 45 tahun saya membawa kepala ini, tak pernah seharipun saya berikan kesempatan kepada kepala saya untuk meikmati puisi. Selain bahasanya susah dimengerti, keindahannya pun tidak dapat dengan mudah dapat diraih. Dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa puisi bukan bagian dari hidup saya.

                Keindahan berbahasa tidak sempat saya raih mungkin karena saya dibesarkan pada lingkungan maskulin, dominan laki-laki yang katanya lebih banyak mengutamakan logika ketimbang perasaan (feeling). Berangkat dari keluarga yang tidak Nyastra, membuat saya sangat takut ketika saya ditawari ‘menikmati puisi’. Puisi dengan berbagai hidden meaning, awkward lexicon, manalah saya mampu menikmati sesuatu yang tidak saya kenal.

                Selain hal di atas, hal yang menjauhkan saya dari puisi adalah sistem pengajaran puisi itu sendiri. Pada saat puisi atau karya sastra diperkenalkan lewat bangku formal, saya harus mengingat-ngingat nama, tahun, jenis dan ketegorisasi-kategorisasi yang saya tak paham. Keindahan puisi dan karya sastranya itu sendiri hampir tidak pernah hadir di ruang kelas.

                Tetapi, kondisi berbeda menimpa saya saat pertama disuguhi “Perjamuan” karya Agus S. Sarjono (2002) yang dibacakan oleh Doktor BM. Puisi dan ‘puisi yang dibacakan’ membuat saya terkesima dan terkaget-kaget. Kok bisa bahasa sehari-hari (ordinary sentence) membuat saya ternganga. Sekompleks itukah makna yang bisa dibawa Puisi tiga babak ini? Coba kita mulai dengan penggalan Puisi #1

Dan kumulai semuanya dengan hatiku

Kupetik padi dan sayuran terbaik

dari kebun jiwaku. Kupasak sepenuh rindu

sepenuh mesra hingga mengepul segala salam

dalam darahbatinku.

….

                Saya tidak bisa memaknai secara wor-per-word. Padi dan sayuran yang berbeda tentunya, jika mereka bisa dipetik dari kebun jiwa. Dan dimasak dengan rindu, dengan mesra dengan salam. Hasilnya pastilah bukan makanan biasa. Maka pemaknaan puisi pun tidak bisa dengan cara ‘biasa-biasa’ saja.

                Berangkat dari kejahiliahan saya pada Puisi, maka sayapun dengan marah membeli buku-buku puisi berbahasa Indonesia dan mencoba membacanya. Hasilnya, masih tetap confussion/ kebingungan. Saya punya anggapan jika saya membaca puisi-puisi berbahasa Sunda kebingungan akan berakhir. Maka dibelilah buku-buku puisi berbahasa Sunda. Hasilnya? Lebih meyedihkan. Saya semakin tidak mengerti apa yang disampaikan oleh si penulis. Sayapun menjadi sangat frustasi. Dalam kefrustasian, saya ajak anak saya untuk sekedar mendengarkan saya membacakan puisi-puisi yang ditulis Amir Hamzah. Entah mengerti atau tidak, anak saya tertarik dengan puisi berjudul “Batu Belah” dan dia akan meminta saya untuk membacakannya puisi sebelum dia tidur. Mungkin rima Rang…rang..kup yang ditulis berulang-ulang membuat dia tertarik dengan permainan kesamaan bunyi.

                Saya merasakan kerisauan yang sangat ketika membaca puisi. Otak saya berputar dan mencoba berpikir keras harus kaya apa bacanya agar saya bisa mendapatkan content/isi puisinya. Saya tahu persis huruf-huruf yang dipakai pada setiap lariknya, tetapi saya tidak tergolong orang eksperimental atau oponturir untuk mencoba terus membaca tanpa harus sambil mikir. Padahal jika saya baca saja terus, sekalipun tidak paham, bukan berarti saya harus menghindari dan  berhenti membaca. Rasa kagok secara estetik yang saya rasakan atau aestetic anonimy yang membuat ssya gamang merupakan cognitive disequilibrium yang normal. Ketidakseimbangan atau guncangan secara kognitif yang dialami saya sebetulnya sangat normal karena saya tidak tahu credo pengarangnya. Seperti Sutarji Calsoem Bachri (SCB) misalnya, dia mengajukan credo bahwa ‘kata’ harus terbebas dari beban gramatika dan moralitas. Sehingga kata dapat menciptakan dirinya sendiri. Bagi SCB  kata pertama adalah Mantra. Maka tak heran jika puisinya memiliki daya magis yang kental.

                Untuk menikmati puisi, sesungguhnya kita tidak harus tahu setiap kata dan kalimat yang digunakan pada puisi itu. Untuk ‘happy’ dengan puisi kita tidak harus tahu kenapa puisi itu bikin hepi. Bayangkan betapa repotnya jika kita harus punya alasan untuk setiap hal. Bahasa puisi, sekalipun aneh, tetap saja punya daya tarik dan keindahan tersendiri. Sekalipun ada yang beranggapan bahwa keindahan adalah kompleksitas baik bentuk atau maknanya. Makanya ada anggapan bahwa harus ada pergerseran dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa extraordinary ketika dia sedang menjadi puisi. Sebagai tambahan ketika dibaca puisi sederhanapun dapat menghasilkan multi interpretasi. Plurality of meaning or interpretation creates the beauty itself. Tidak usahlah kita memikirkan kenapa dia menjadi indah. Membaca sebuah puisi tidak harus tahu maknanya. Nikmati saja, toh setiap kali dibaca, puisi itu akan melahirkan Ghost text-nya sendiri.

                Jika saya harus mengatakan apa yang sesungguhnya yang terjadi setelah bersinggungan dengan karya sastra selama enam minggu. Pertama, secara sikap/attitude saya memiliki pergeseran sikap terhadap puisi dan sastra pada umumnya. Sebelumnya saya sangat pesimis dan tidak berminat sedikitpun untuk mengkaji dan membaca puisi. Saya berkeyakinan, sekalipun saya menyediakan waktu untuk baca puisi, maka hanya akan berakhir frustasi. Karena saya telah sangat tahu bahwa saya memang tidak tahu bagaimana cara membaca puisi. Saking tidak tahunya cara membaca puisi, saya sempat terlongo ketika ada seorang anak SMA membaca puisi seperti orang kehilangan rohnya. Dengan suara melengking, kaki dihentakkan, mata melolot, dia memegang kertas print berisi puisi tangannya bergetar mungkin dia merasa sangat berat menahan bobot selembar kertas A4. Kenapa harus seperti itu? Apa baca puisi harus seheboh itu? Saya jadi merasa takut untuk belajar membaca puisi, karena saya tidak bisa berteriak ketika hendak menyampaikan message sebuah puisi.

                Sekarang saya mulai melihat puisi sebagai piece of art, dan itu tulus. Puisi-puisi hebat karya orang-orang hebat seperti Rendra, Asep Zam-Zam Noor, SCB, dan sederet nama besar lainnya yang diperkenalkan Doktor BM melalui karya-karyanya membuat saya tercerabut dari keyakinan awal mengenai puisi. Puisi dapat saya rasakan, nikmati, dalami, bedah, interpretasi, sehingga meyakinkan saya bahwa puisi bukan ekslusifisme. Mungkin ada yang mengatakan ahwa puisi itu personal, dalam arti hanya beberapa orang saja yang dapat menikmatinya. Sama seperti karya lukisan. Misalnya untuk lukisan abstrak, hanya orang yang tahu nikmatnya lukisan abstrak saja yang mampu menggembar gemborkan bahwa lukisan itu bagus dan indah. Sementara bagi layman/ orang awam, lukisan itu terlalu mahal untuk dihargai 200 juta. Saya pun termasuk layman, tapi untuk puisi, saya sedikit bisa mengintip keindahannya dari sudut pandang keawaman saya tentunya. Literature makes us more human, bolehlah saya berkomentar seperti itu.

                Masih secara sikap, sebagai pembaca puisi, kadang saya bersikap pasrah terhadap apapun yang ditawarkan oleh puisi itu. Saya membiarkan emosi, pikiran, perasaan, bahkan keyakinan saya tercabik-cabik.  Saya menjadi makhluk mati kreatif dan menerima apapun yang puisi sodorkan. Tetapi, pada kondisi tertentu, saya memberontak pada puisi yang saya baca. Sikap resistence saya karena puisi itu sendiri menggiring saya untuk berpikir dan memberikan ruang bagi saya untuk menafsirkannya secara personal. Apalagi jika puisinya seolah directly speak to me. Ada beberapa puisi yang sepertinya berbicara langsung pada saya dan mengundang saya untuk bereaksi.

                Selain secara sikap, hal kedua yang saya rasakan adalah secara pengetahuan/ knowledge, saya pun beringsut. Saya mulai bisa mengerti bagaimana cara sebuah puisi dibacakan membuat puisi menjadi lebih indah dari hanya sekedar tulisan hitam di atas putih. Secara akademis, beberapa teori mulai menyesuaikan pada file-file yang telah ada dalam kepala saya.  

                Seharusnya saya bisa menjelaskan bagaimana skill dan habit of mind juga ikut berubah setelah enam minggu menggauli puisi. Tapi untuk saat ini, saya hanya bisa menyebutkan sebagaian saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: