Home » LIVE » SEPATU PERTAMAKU

SEPATU PERTAMAKU

Kalau saja pernah tahu gimana rasanya memungut durian runtuh, maka saya dapat mengatakan bahwa rasanya seperti mendapat durian runtuh ketika Tuhan dengan kehendakNya memberikan saya mimpi bertemu teman semasa SD.

Dia, Harir. Teman berpostur paling tinggi diantara teman sekelas. Dia juga ornag paling pemalu (untuk ukuran laki-laki) ketika saya isengin. Dia juga pemilik rumah yang paling jauh, dan dia berangkat dari rumahnya jam 5.30 pagi untuk bisa tiba di sekolah jam 6.45. Berjalan kaki selama 1 jam 05 menit,  sama maknanya dengan menempuh perjalanan 15 kilometer dengan jalan kaki. Pada saat itu usia saya 8 atau 9 tahun, saya telah mampu menempuh jarak 5 kilometer dengan jalan kaki selama 20 menitan.

Untuk berangkat sekolah, biasanya saling jemput. Saya (juga teman-teman semuanya) bertelanjang kaki manapaki jalan tanah menuju sekolah. Pada saat itu tidak ada satu orang pun yang bersepatu ke sekolah. Kaki bersendal jepitpun, rasanya sangat keren. Saya masih ingat, satu-satunya anak sekolah yang bersepatu adalah anaknya Ceu Maskoyah yang baru pindah dari Sukabumi. Dia memakai sepatu kulit warna hitam. Dengan sedikit rasa heran, saya menatapi sepatu yang dilengkapi dengan kaus kaki putih. Dalam benak saya berkata ‘kenapa dia pake yang begituan’. Mungkin cetusan pikiran kanak-kanak saya  sangat enak untuk ditertawakan. Tapi ya begitulah, saya tidak tahu kalau kaki anak orang kota bersepatu jika ke sekolah.

Dalam mimpi, saya seperti dibawa ke masa kanak-kanak. Saya berjalan dipinggir selokan, menapaki bibir-bibir jurang untuk ke rumah Harir. Cileutak nama kampung tempat dia tinggal, sangatlah jauh. Jika saya tempuh sekarang, saya tidak akan mampu lagi. Saya yakin itu, karena sekarang, untuk ke warung saja, yang jaraknya kurang dari 600 meter, saya pake motor. Tak heran maka saya tidak sehat. Kaki saya terlalu dimanjakan.

Di dalam mimpi, sepertinya Harir sulit untuk saya temui. Ternyata, dia sakit cacar. Saya berbicara dengannya, entahlah apa yang saya katakan padanya, tak jelas dan tak ingat. Yang saya ingat ketika saya akan meninggalkannya, saya jambak rambutnya. Saya tidak melihat kemarahan di mukanya. Mungkin jambakan saya membuat dia tahu jika sebetulnya saya teman kecil yang baik. Iseng saya tujuannya membuat agar dia tahu jika saya manusia biasa yang bisa diajak bercanda. Mungkin…

Kembali ke sepatu. Ketika saya melihat ada anak pake sepatu, pikiran saya menerawang jauh, bagaimana rasanya jika bersepatu. Saya punya sandal jepit dari karet pada saat itu. Dengan bersendal ria saja ke sekolah pada jaman itu, secara ekonomi, sudah mampu memisahkan saya dengan teman-teman lain. Apakah keluarga saya miskin? Tidak. Ayah orang terpandang, semua orang kenal ayah saya. Katanya ketenaran ayah karena terwariskan dari Kakek. Masih katanya lagi, kakek orang yang berpengaruh. Cara dia berhadapan dengan Belanda dan pemerintah membuatnya dianggap sebagai ‘tetua’.  Kondisi ini membuat ayah ikut menikmati ‘kharisma warisan’. Atau mungkin saya salah, ayah saya memang memiliki kharisma dan pengaruh bagi wilayah tempat saya tinggal karena memang dia selalu punya ide-ide cemerlang dan punya solusi bersifat win-win solution.

Selain bersendal jepit, untuk membawa buku, saya memakai kantong keresek. Ketika itu, di sekolahku, sayalah orang pertama yang punya buku tulis. Merknya “Letjes” dengan jilid warna ungu tua. Kertas yang terbuat dari jerami, serat-seratnya nyata dan kasar (mungkin saya salah  dalam kajian mengenai bahan untuk membuat buku). Teman-teman hanya memiliki satu atau dua buku saja untuk digunakan sepanjang tahun. Untuk melihat betapa saya lebih beruntung dari teman sekelas lainnya, selain punya buku tulis, saya pun punya buku bacaan, namanya si Kuncung. Majalah yang diperoleh dari sekolah. Saya bisa meminjam dan membawanya ke rumah, Kharisma ayah sayalah yang membuat saya punya ijin illegal untuk membawa buku sekolah ke rumah. Apa yang saya baca saat itu, ada satu yang masih saya ingat dengan baik. Cita-cita. Sebuah artikel menuliskan tentang tugas dan tanggung jawab seorang duta besar. Maka, itulah pertama kalinya saya punya cita-cita. Maka saya menetapkan cita-cita ‘aku ingin jadi duta besar’. Jaman sekarang, seorang anak kecil ketika ditanya cita-cita, dengan mudahnya menjawab ‘aku ingin jadi dokter, insinyur, presiden, mentri’. Saat itu saya tidak tahu, cita-cita itu apa. Maka saya tidak punya cita-cita, sampai saya baca di majalah bahwa seseorang harus punya cita-cita agar punya sesuatu yang dikejar dalam hidupnya. Saya membayangkan, menjadi duta besar pekerjaan yang sangat enak. Dia bisa mengunjungi setiap negara dan diberi ongkos oleh negara. Dan pasti punya sepatu!

Duta besar pasti bersepatu. Duta besar pasti naik mobil. Saat itu saya tidak tahu bagaimana rasanya naik mobil. Melihatnya pun hanya dari gambar. Hati saya berkata ‘pasti teman-teman akan memuji dan mengagumi saya jika saya memakai sepatu’. Keinginan punya sepatu sangat mengganggu saya. Maka saya menemui Ibu. Saya katakan jika saya ingin punya sepatu untuk bersekolah. Saya juga ingin punya kaus kaki putih. Saya membayangkan bersepatu dan berkaus kaki akan mengakibatkan saya menjadi anak kota. Ibu saya hanya diam. Beberapa hari kemudian Ibu saya berkata ‘nanti sepatunya Ibu belikan, sekarang lagi di pesan sama Haji Nurohman’. Siapa Haji Nurohman? Dia adalah satu-satunya pemilik warung yang sesekali pergi ke kota untuk berbelanja. Dia berjualan minyak tanah, payung, garpu, cangkul, dan benda-benda lainnya yang saya tidak ingat lagi. Kalau tidak salah, dia tidak menjual minyak goreng. Saat itu, minyak goreng dibuat sendiri dari kelapa parut dan digodok diatas api kayu bakar. Saya sanyat menyukai residu minyak kelapa, namanya Galendo, rasanya gurih dan punya bau khas.  Dia juga tidak menjual permen. Kita mempunyai permen buatan sendiri. Gulali. Gulali terbuat dari gula yang dipulut, dan jadilah permen. Untuk menikmati Gulali, tidak semudah menikmati permen jaman sekarang dimana warung berjejer kurang dari 5 meter dari satu warung ke warung lainnya. Gulali hanya dijual di pinggir madrasah tempat ibu-ibu dan anak gadis melakukan pengajian Mingguan. Mingguan adalah kegiatan pengajian rutin yang dilakukan oleh masyarakat untuk belajar agama. Cara mengikuti Mingguan sangatlah mudah. Hanya duduk di dalam Madrasah (ruangan di sebelah mesjid, biasanya digunakan untuk mengajar para santri mengaji), kita hanya wajib diam, dan diam, dan diam, mendengarkan Kyai berbicara sendiri. Kita sebagai mustami (pendengar ceramah) Tidak boleh bertanya, tidak boleh ngobrol, tidak boleh lalu lalang berjalan, tidak boleh ngapa-ngapain. Hanya duduk dan diam. Setelah Kyai selesai bicara, barulah hak kita sebagai manusia dapat kita peroleh kembali. Kita boleh bertegur sapa dengan orang di sebelah kita, boleh membeli Gulali. Tetapi masih ada satu hal yang masih tidak boleh dilakukan, bertanya. Kita tidak boleh bertanya kepada Kyai jika apa yang diajarkannya tidka kita pahami. Terima saja, dan setelah itu pulang. Kalau saja iseng kita nanya salah satu mustami begini ‘tadi, pak Kyai bicara apa, apa pesan religius yang dititipkannya’. Maka kita akan tercengang. Mereka para mustami yang duduk bersimpuh itu akan mengatakan ‘ya itu, pokoknya kita ga boleh buat dosa’. Selesai.

Sebulan setelah Ibu mengabarkan saya akan dibelikan sepatu. Datanglah hari bersejarah itu. Ibu saya sepulang dari warung Haji Nurohman, selain membawa minak tanah, beliau menunjukkan sebuah kotak, dan disuruhnya saya membukanya. Dan isinya, sepasang sepatu!! Saya gembira bukan kepalang. Bergetar tangan kurus kecil saya mengeluarkan sepatu dari kotaknya. Warnanya putih, terbuat dari kain belacu (mungkin). Ada talinya berwarna putih. Bawahnya terbuat dari karet, putih juga. Sepatu putih. Saya coba pasangkan pada kaki. Mematut-matut diri sendiri dengan mencoba berjalan di atas papan lantai rumah. Terdengar papan berdecit ketika kaki saya bergerak. Decit suara papan terdengar indah. Suaranya terasa beda karena di kaki saya ada sepatunya. Sepatu yang akan dipuji anak sekampung, sepatu yang akan diraba-raba anak sekampung. Saya yakin, saya akan dikerumuni dan ditanya dari mana saya punya sepatu. Saya akan ditanya, bagaimana rasanya memakai sepatu. Saya bersiap dengan segala kemeriahan yang akan menghampiri. Saya berkata dalam hati ‘tak satupun akan saya biarkan mencoba memakai sepatu ini’.

Esok harinya, dengan sumringah, saya bangun pagi, mandi. Hari itu berangkat sekolah terasa sangat istimewa. Saya punya sepatu dan kaus kaki. Mula-mula saya pakai kaus kaki. Terasa aneh ketika kain kaus kaki menyentuh kulit kaki. Kaki terasa dibungkus sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Sedikit geli, kaki terasa diikat, jari-jarinya tidak bebas bergerak. Saya berkata pada diri sendiri ‘emang kalo pake kaus kaki mah, begini rasanya, kaki jadi agak aneh, tapi itu kan bagian dari usaha dan gaya supaya bisa mirip anak Ceu Murkoyah-anak kota’. Saya pasangkan kaus kaki pada kaki satunya lagi. Sambil duduk saya tatap kaki berkaus kaki putih. Ada keganjilan dalam pikiran saya. Saya merasa lucu ketika melihat kaki berkaus. Apa kerennya kaki berkaus? Kenapa orang kota sepertinya ‘enak’ berkaus kaki? Apa bangganya berkaus kaki? Kenapa orang kota sepertinya tak mau lepas dari kaus kaki? Pikiran kampungan saya memunculkan banyak tanya.

Sepatu putih saya pakai. Karena saya berkaus kaki, sepatu terasa lebih sempit. Saya berjinjit, kembali papan rumah berderit. Ah… sepatu ini memang luar biasa. Dengan rasa bangga, saya keluar rumah. Hati-hati sekali saya menginjakkan sepatu di atas tanah. Saya khawatir sepatunya jadi kotor. Ternyata berjalan dengan menggunakan sepatu, susah. Saya susah memilih tanah yang tidak akan membuat sepatu saya kotor. Kekhawatiran saya makin meninggi ketika saya harus melewati pematang sawah. Lumpur basah menutupi permukaan pematang sawah. Itu artinya sepatu putih akan berubah hitam karena menyentuh lumpur setengah kering di atas pematang sawah yagn HARUS saya injak. Saya terlalu khawatir sepatunya jadi kotor. Keputusan terbaik saya adalah sepatunya harus dibuka. Akhirnya sepatu saya buka, kembali saya berjalan dengan bertelanjang kaki, menapaki setiap jengkal pematang sawah. Sementara sepatu kebanggaan, bertengger di pundak. Tali-talinya saya ikatkan supaya dia bisa saya pasangkan di pundak. Bau karet menebar menutupi hidung. Kesegaran hawa pedesaan tersingkir. Ternyata sepatu kota itu bau.

Setiba di jalan besar. Mungkin jaman sekarang mah jalan raya. Saya duduk di pinggir jalan. Dan saya cuci kaki saya dengan air selokan. Setelah kaki kering, saya pasangkan kaus kaki. Kembali rasa geli itu muncul lagi. Saya usahakan bisa menyesuaikan kaki (diri) dengan rasa baru ‘kaki berkaus’. Saya pasangkan kembali sepatu barunya. Tak lama setelah itu teman-teman satu persatu berdatangan. Dan saya benar, saya dikerumuni. Sepatu saya diusap-usap, dipegang-pegang, mereka semuanya kagum. Saya merasa sederajat lebih tinggi dari teman-teman saya. Saya berdiri, dan selangkah demi selangkah saya menginjakkan kaki ke tanah jalan. Terasa sangat kaku. Saya berjalan paling depan. Teman-teman mengikuti saya dari belakang. Seolah mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana moment setiap saat telapak sepatu karet itu menyentuh tanah.

Berjalan dengan memakai sepatu dengan jarak tempuh tiga kilometer untuk pertama kali sangatlah sulit untuk dilupakan. Kilometer pertama, iring-iringan di belakang saya tidak lebih dari 8 anak. Mereka kehabisan kata-kata memuji betapa enaknya berjalan memakai sepatu. Mereka bilang, kaki akan aman dari tahi kerbau; kaki tidak akan tertusuk duri, kaki akan jadi lepas dari jebrag, dan hal-hal memalukan lainnya. Sekarang saya merasa dua derajat lebih tinggi dari teman-teman.

Sebenarnya sejak pertama sepatu itu dipakai, kaki sudah merasa kaku dan canggung. Tapi karena atas nama keren dan gengsi jika teman-teman tahu jika saya tidak pandai bersepatu, saya berjalan seolah-olah memakai sepatu merupakan hal terbaik dalam hidup anak-anak. Tetapi mulai kilometer kedua, bagian belakang dan ujung-ujung jari saya terasa nyeri. Saya tahan saja. Saya katakan pada diri saya ‘kalo pake sepatu mah sakit, tenang saja, nanti juga reda sakitnya’. Rupanya bagian kaki saya lecet. Karena lecet otomatis gaya berjalan saya jadi rada ‘aneh’. Teman-teman menganggap itu ‘gaya keren’ kalau berjalan pakai sepatu. Mereka mengikuti gaya saya berjalan, seolah ingin ikut sedikit menikmati indahnya dan nikmatnya bersepatu. Iring-iringan mulai agak panjang ketika saya akan tiba di sekolah. Semua anak memandang saya. Mereka memusatkan pandangan pada kaki saya. Aduh sepatu putih ini ternyata punya daya pesona luar biasa. Tapi, sakitnya pun luar biasa. Saya merasakan komplikasi antara sakit menahan lecet dan bangga memakai sepatu.

Seharian saya memakai sepatu. Kaki terasa pegal, gerah dan perasaan-perasaan lain. Saya tidak menghiraukan segala kekacauan di kaki, saya utamakan keren diatas segalanya. Saya mulai merasa gatal dan panas. Tapi saya tidak berani membuka sepatu karena khawatir ditanya kenapa sepatunya dibuka. Hari itu pada saat beristirahat, saya tidak ikut main petak umpet, tidak juga ikut main ‘loncat tinggi’, tidak main apapun yang melibatkan gerak kaki. Saya hanya main “bekles”, mainan anak perempuan yang tidak begitu saya suka karena tantangnnya seolah sama.  Saya takut kalau ketahuan saya tidak bisa berjalan karena kakinya lecet. Saya berusaha senyum ketika anak-anak lain mengagumi sepatu saya.

Waktu pulangpun tiba. Gawat. Saya harus berjalan tiga kilometer menuju rumah. Saya trauma jika harus berjalan didepan dan teman-teman berjalan dibelakang saya. Akan seperti apa langkah saya nanti. Saya cari akal agar tidak pulang bersama teman-teman. Saya katakan pada teman-teman jika saya harus ke rumah kakak saya dulu jadi tidak pulang bersama-sama. Saya menunggu beberapa saat sampai semua teman saya pulang. Setelah yakin tidak satu orangpun tertinggal, saya buka sepatunya. Kebebasan rasanya kembali ke dalam kehidupan saya. Angin semilir terasa sangat nyaman menyentuh kaki. Sakit di kaki saya hampir hilang. Gatal juga tidak ada. Saya mengutuki diri saya sendiri. Keren itu tidak enak. Apa yang dipakai orang lain belum tentu pas dipakai saya.  Saya lihat kaki saya memerah karena terberangus sepatu.

Saya pulang. Bertelanjang kaki. Tuhan telah menciptakan kaki dengan segala kekuatannya, tergantung pada bagaimana cara kita melatihnya. Bagi saya, anak kampung yang terbiasa bertelanjang kaki, memakai sepatu adalah siksaan. Semenjak saat itu, saya tidak pernah lagi merajuk ingin dibelikan sepatu. Cukuplah satu sepatu untuk selama saya sekolah di SD.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: