Home » LIVE » PHOBIA SEBAGAI HIBURAN

PHOBIA SEBAGAI HIBURAN

Sekitar pertengahan bulan September 2011, tanpa sengaja saya melihat tayangan teve swasta. Secara harfiah, saya menebak tujuan dari acara yang dipandu presenter laki-laki (tapi dengan gaya bicara dan pakaian ala wanita) itu untuk menghibur. Siapa yang hendak dia hibur, mungkin bukan manusia. Sebab jika dia menganggap acara yang dipandunya adalah hiburan, tidak bisa diterima kayanya oleh lapisan sosial masyarakat manapun. Bagi anak-anak, jelas itu bukan acara yang memberikan pengajaran nilai, norma ataupun etika. Tak ada yang dapat diambil ‘pelajaran’ dari acara yang lumayan lama ditayangkannya. Bagi remaja, saya yakin, remaja yang jahilpun tidak akan meniru dan menganggap program ini lucu. Bagi orang tua, seperti saya. Wah, saya yang tidak paham dengan gaya entertainment masa kini, merasa tayangan ini tidak punya identitas.

Adalah sepasang suami istri (saya anggap begitu saja. Supaya tidak jadi dugaan negatif atas intimacy gaya artis. Karena kalau bukan suami istri tidak mungkin si lelaki berlagak begitu tanpa ada rasa risih dengan si perempuannya) yang diajak jalan-jalan oleh presenter. Si presenter dengan berhaha hihi, membawa crew menyorot suami-istri tadi pada sebuah tempat parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil, tiba-tiba ada pocong jejadian berdiri dibelakang si lelaki (tanpa sepengatahuan si lelaki, pocong itu telah berdiri dibelakangnya). Barangkali dalam dugaan saya, si lelaki amat takut dengan pocong. Sedangkan si perempuan amat phobia dengan ular. Entah apa yang ada dalam pikiran si presenter. Dia dengan entengnya membawa lelaki itu face to face dengan pocong jejadian. Pertemuan antara si lelaki  dengan pocong jejadian ini amat memilukan hati saya. Si lelaki sangat kaget, dan takut. Ketakutannya nyata terlihat dan tertangkap kamera. Anehnya si presenter tambah keras berhaha hihi, apakah dia senang melihat si lelaki yang meringis sedang berjuang melawan takutnya. Si lelaki kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya dari takut. Satu-satunya cara yang mampu dia lakukan hanya berkata, “suda, sudah, sudah,’ dan dia menutup mata. Pocongnya sangat agresif, dia mengahiskan segala gaya untuk membuat si lelaki takut (padahal semenjak awal, sudah jelas lelaki itu ketakutan). Tontonan apa ini? Apakah takut merupakan hal lucu? Apakah kita tidak boleh takut? Apakah dengan memiliki rasa takut seorang lelaki menjadi banci?

Belum lagi kekagetan saya lulus, tiba-tiba si perempuan disuruh membuka semacam tas, dan dari dalam tas itu muncul semacam ular. Si perempuan reflek meloncat, dan lari sekencang-kencangnya. Sementara itu, si presenter tambah keras berhaha hihi. Dia tertawa untuk apa? Sepasang suami-istri menjadi korban si presenter. Dengan tegas sipresenter menyebut mereka “korban”. Saya bersetuju dengan sebutan ‘korban’, karena memang benar suami-istri ini korban kebodohan media massa yang didalangi presenter.

Sebetulnya apa sih Phobia?  Phobia dapat dikatakan sebagai rasa takut yang sangat terhadap sesuatu akibat dorongan emosi kita. Apakah rasa takut atau phobia merupakan sesuatu yang faktual atau nyata? Jawabannya ya, walaupun tentu saja faktualnya sebuah phobia tidak bersifat universal.  Alsan tidak universal karena 1) phobia merupakan ketakutan yang didasari kuat oleh emosi terhadap sesuatu benda atau realitas tertentu. 2) pbobia bisa terjadi pada siapapun. 3) Phobia dapat muncul pada usia berapapun dan 4) phobia biasanya dapat dihilangkan.

Sebetulnya rasa takut yang berlebihan dapat disembuhkan oleh diri kita sendiri. Caranya dengan 1) belajar untuk relax/tenang, 2) kenali hirarki rasa takut, 3) gunakan hirarki rasa takut untuk menyadarkan takut yang berlebihan tadi dan 4) terapkan metoda penanganan rasa takut misalnya dengan teknik mengatur nafas dan self-talk.

Ketika phobia dijadikan hiburan dan ditonton segala lapisan masyarakat, pelajaran apa yang diperoleh dari itu. Seharusnya setelah melihat tayangan ini, paling tidak masyarakat menjadi tahu bahwa ada sebagian orang ada yang memiliki ketakutan yang sangat terhadap sesuatu yang menurut diri orang itu tidak dapat tertahankan. Misalnya takut yang berlebihan pada kecoa, ulat, ketinggian atau hal-hal biasa lainnya. Selain itu, selayaknya pula, penonton menjadi cerdas. Cerdas ketika menemukan seseorang yang sedang berjuang dengan rasa takutnya sendiri. Kejahilan menakuti seseorang bukan tidak mungkin mendatangkan bahaya yang tidak terduga. Bisa saja karena sangat takut, si penderita phobia bertindak tidak rasional. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki yang sangat takut dengan ulat bulu. Suatu hari dia memanjt pohon yang lumayan tinggi. Ketika berada pada sebuah dahan pohon, dia sekilas melihat ‘seperti’ ada ulat bulu. Tanpa pikir panjang dia loncat. Karena loncatnya dari pohon yang tingginya tidak kurang dari empat meter, ketika dia jatuh tulang punggungnya tidak lagi selamat dan lumpuh sejak saat itu. Sebagai penutup, tayangan teve yang memuat jahil pada penakut tadi, akan banyak manfaatnya jika memberikan pelajaran mengenai hakikat phobia dan cara meananganinya tentu saja penyampaiannya ala standar teve. Waktu 30 menit sangatlah cukup untuk menyumbangkan kesadaran kasuistis yang terjadi pada emosi manusia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: