Home » LIVE » I am Different

I am Different

Ketika saya kecil dulu, saya tidak tahu kalau saya berbeda dari anak-anak yang lainnya. Semuanya terasa sama. Saya bermain dengan anak-anak sekampung seperti berburu belalang, ngambil kayu bakar ke pinggir hutan, menggembala domba, nyabit rumput, ikut mengambil ubi atau buah-buahan lain dari kebun orang, mengaji ke pesantren, dan kegiatan-kegiatan lain yang umum dilakukan anak kampung.

Mungkin saya berusia lima atau enam tahun ketika kakak-kakak tiri saya mempermainkan saya, dan sejak itulah saya tahu, bahwa saya berbeda dari dari kebanyakan anak-anak sekampung. Oh ya supaya tidak membingungkan, sepertinya harus saya kenalkan siapa ayah dan kenapa saya memiliki banyak kakak tiri. Ayah saya menikah tiga kali. Dari istri pertamanya ayah punya anak 4 (3 laki-laki dan 1 perempuan), dari istri kedua ayah memiliki 3 anak perempuan, dan dari istri ke tiga yaitu ibuku–ayah punya anak 4 (3 laki-laki dan 1 perempuan yaitu saya). Saya tidak canggung dengan eksistensi poligami. Saya sering mendengar bahwa si A dari kampung C punya istri empat dan ditinggal dalam satu rumah, mereka akur. Sementara si B dari kampung beristri tiga. Ayah saya menikah tiga kali, tidak terdengar weird (aneh) untuk konteks kampung saya.

Samar-samar saya masih ingat. Waktu itu malam hari. Saya diajak dua orang kakak tiri perempuan saya untuk menginap dirumah mereka (semua kakak tiri saya telah menikah ketika saya belum masuk SD). Entah bagaimana mulainya, tiba-tiba saja salah kakak saya menyodorkan lampu Gembling (sejenis lampu minyak tanah, nyala apinya menggunakan sim-sim kapas dan ditutup semprong kaca) ke depan muka saya. Dia bilang “hey, tutup mata kanan kamu, coba lihat ke cahaya lampu, keliahatan ga?”. Saya ikuti kata-kata kakak saya dan aneh saya tidak bisa melihat cahaya lampu dengan mata kiri saya. Spontan sekali saya jawab “ga”. Saya heran, karena selama ini saya tidak merasakan hal itu. Saya bisa melihat. Kakak saya berkata lagi,”coba balik, tutup mata kiri kamu, lihat cahaya lampu dengan mata kanan”. Saya diam dan manut mengikuti perintah kakak saya. Dia tertawa. Saya tak paham apa makna tawanya. Dia panggil adiknya dan setengah berbisik dia bilang “coba kamu suruh dia lihat cahaya lampu dengan mata kirinya!” Yang dipanggil mengikuti perintahnya. Dan seperti kejadian sebelumnya saya berkata “ga ada cahaya lampu”. Tiba-tiba mereka berdua menggelegak tertawa. Sambil meninggalkan saya yang terheran-heran dan kebingungan mereka berkata, “ha ha ha bener… anak sialan itu pecak(istilah dalam bahasa sunda untuk orang yang matanya tidak melihat sebelah), mata kirinya buta!”. Sejak saat itu, saya sangat benci kata picak. Setiap kali kata itu diucapkan, mereka akan menyarakan dengan nada tertentu untuk menunjukkan penghinaan dan perendahan. Atau saya salah, maksud mereka bukan menghinakan, tetapi ungkapan rasa puas karena mampu menjatuhkan rasa harga diri seseorang pada titik terendah sebagai manusia yang kata Tuhan telah dibuat sempurna.

Saya tidak merasa terlalu berbeda ketika saya berada dalam rumah. Ibu saya memperlakukan saya seperti anak sempurna lainnya. Saya tidak pernah mendengar sekalipun Ibu saya menyoal mata kiri. Ibu saya lebih banyak melindungi dengan caranya agar saya tidak tersinggung. Tetapi ketika saya berada jauh dari rumah, proteksi Ibu sayapun terbuka, dan siapapun dengan mudah dan bebas untuk melakukan penghancuran perkembangan jiwa anak perempuan kecil dengan kata-kata miris. Apakah saya menangis, saya tidak ingat lagi.

Suatu hari, saya diajak Ibu saya berkunjung ke rumah nenek saya di Cijati. Cijati merupakan kampung besar, ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dengan jalan kaki dari rumah.  Pada saat itu, sangat umum bepergian dengan jalan kaki. Motor dan mobil hanya ada di kota kabupaten. Seingat saya, mobil yang ada untuk mampu membawa kami ke kota hanya ada satu. Mobil Bayawak Mang Juhadi. Kenapa namanya Bayawak, mungkin karena mobilnya diengkol dan harus banyak minum seperti Biawak di sungai.

Di Cijati saya diperkenalkan dengan Uwa-Uwa dari pihak Ibu. Salah satunya Wa Yaya. Wa Yaya punya warung, menjual kaleng untuk tempat nasi, minyak goreng, saya tidak ingat betul apa saja yang dijual diwarung Wa Yaya, samar-samar saya melihat ada kerupuk “ditiir”/ diikat dengan tali dari bambu (tapi apa benar kerupuk dijual tanpa kantong plastik tapi diikat dengan tali bambu, kebenarannya harus dikonfirmasikan terlebih dahulu). Dekat warungnya ada rumah pa Mantri. Pada saat itu, mantri dianggap memiliki kemampuan menyembuhkan lebih dari Dokter spesialis. Mantri dapat mengobati penyakit apapun dengan cara disuntik. Pa Mantri punya anak perempuan, mungkin seusia saya. Ibu Mantri ketika melihat saya, dia memanggil anaknya dan berkata, “Neng, main, tuh sama si Ecak” Saya diam saja. Saya tahu “ecak” adalah kependekan dari pecak dalam bahasa Sunda artinya picak. Dalam hati saya berkata “kenapa dia tidak menanyakan nama saya; Kenapa dia langsung memberi nama yang tidak saya ingini; Kenapa dia menyebut seseorang dengan kekurangan yang dimilikinya; Kenapa orang kaya dapat berbuat apa saja pada anak kecil dari kampung sekena hatinya; kenapa dia merasa sangat senang memanggil saya dengan panggilan yang menurut seleranya pas; kenapa saya harus ikut Ibu saya ke Cijati kalau hanya untuk dites untuk dapat menjawab puluhan pertanyaan ‘kenapa’”. Sejak saat itu, sebetulnya saya tidak suka berkunjung ke Cijati. Satu hal yang membuat saya tetap melangkahkan kaki kecil saya ke Cijati jika diajak Ibuku adalah karena saya akan bertemu dengan nenek. Nenek dengan tanpa memberikan nama baru untuk saya, katanya telah menyimpan buah mangga untuk saya. Buah mangga yang dipetik dari depan rumah nenek. Dalam anggapan sebagai anak kecil, nenek adalah satu-satunya orang di Cijati yang baik. Selain dari nenek, semuanya jahat, semuanya akan tertawa mencibir menertawakan mata kiri dan memberon-dongnya dengan cercaan yang tidak dapat dipahami tetapi dapat saya rasakan bahwa itu adalah hinaan.

 Ketika mulai masuk SD, ayah saya pada saat itu hampir menjelang masa pensiun sebagai guru. Saya tidak sempat mendapat pembelajaran membaca dan menulis dari ayah. Tetapi saya sering mendengar pembicaraan ayah saya tentang ‘nakal’nya saya di kelas. Saya tidak tahu dan atau ingat kenakalan jenis apa yang saya lakukan. Ayah menganggap saya mengganggu kelas. Kemampuan membaca saya yang selangkah lebih maju dari teman-teman sekelas mengakibatkan saya jadi pengganggu ketenangan kelas dalam cara pandang ayah.

Selepas SD saya bermimpi untuk bisa sekolah ke SMP seperti kakak-kakak lelaki lainnya. Tetapi apa hendak dikata, saya harus bersitegang dengan ayah saya yang tidak mendukung mimpi akan perempuan melanjutkan sekolah. Ayah memiliki 5 anak perempuan. Empat orang sudah dia nikahkan selepas lulus SD, bahkan salah satunya belum lepas SD telah dinikahkannya dengan guru kelasnya. Saya sebagai anak perempuan kelima, direncanakan memiliki nasib yang sama. Penghambat jodoh saya pada saat itu adalah mata kiri. Ayah saya tidak berani menawarkan perjodohan atas nama anaknya yang cacat. Sebelumnya ayah saya dengan bangga akan memilih satu pria untuk anak gadisnya. Anak-anak gadisnya sangat terkenal kecantikannya, sehingga banyak pria yang meminangnya. Ayah mengatakan untuk ‘keamanan’ anak gadisnya harus dinikahkan sesegera mungkin, tanpa harus menanyakan terlebih dahulu apa anaknya mau menikah atau tidak. Tanpa harus mengetahui apakah anaknya menilai bahwa pernikahan merupakan pilihan sakral untuk dirinya. Tahun 60-an, ketika ada anak gadis usia belasan masih belum menikah akan menjadi aib keluarga. Sebutan ‘jomblo, ga laku, lapuk’ akan memerahkan telinga. Efek dari kekejaman sosial ini, maka banyak anak gadis usia 9 tahun telah menikah dan pada usia 10 tahun punya anak, kemudian pada usia 11 menjadi janda dengan satu anak.  

Entah kekhawatiran ayah saya yang tidak tega menjadikan saya janda beranak pada usia 11 tahun ataukah memang tidak ada satu priapun yang mendaftar sebagai calon mantu, lepas SD saya aman.

Akhirnya saya bisa melanjutkan ke sekolah tingkat menengah. Saya diijinkan masuk SKKP. Tapi tidak sesederhana itu saya bisa masuk SKKP (Sekolah Kecakapan Kepandaian Putri). Saya harus meninggal-kan kampung Caringin tempat yang relatif nyaman bagi hinaan atas kecacatan. Saya tinggal bersama sebuah keluarga mantan ABRI yang memiliki satu putra dan satu putri. Kenapa saya harus kos-kosan di rumah itu, katanya atas saran kakak tiri no.3, saya akan baik tinggal di sana.  

Usia 11 atau 12 tahun; sebelumnya tidak tahu gambaran kota seperti apa; kepindahan ke gang kecil dengan rumah berderet-deret sangat membingungkan saya. Saya kebingungan sendiri memikirkan bagaimana saya pulang jika selesai sekolah. Saya khawatir tidak tahu jalan pulang. Mungkin akan terdengar lucu ketika ada anak kurus dengan tampang dari kampung menanyakan nama sebuah gang, sementara gang yang ditanyakannya persis berada di depan hidungnya.

Hari pertama saya meninggalkan rumah kos untuk menuju sekolah dengan diantar kakak saya. Saya berusaha keras mengingat setiap belokan dan bentuk rumah yang dilewati. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan kampung Caringin. Kemanapun saya pergi, saya tidak akan tersesat. Rumah-rumah dan siapa pemilik rumah itu saya kenal, sekalipun jaraknya 4 km jauhnya dari rumah saya. Kalaupun tersesat, 25 km jauhnya dari rumah, saya hanya perlu berkata “dimana rumah Pa Bobon?”, maka dengan mudahnya orang yang akan menunjuk ke Kampung Caringin.

Ketika saat pulang sekolah tiba, katakutan tidak bisa pulang benar-benar memenuhi pikiran. Ke arah mana saya harus menuju. Patokan yang saya pakai hanyalah keluar dari gang yang sebelah kirinya ada pohon jambu. Saya tidak kepikiran kalau saat pulang, segala yang saya tandai dan coba ingat-ingat sebagai patokan berada di sebelah kanan, akan berada di sebelah kiri semuanya. (to be continued)


1 Comment

  1. yunus says:

    Miss,,i wait the other ,,i like your story,,it’s give me spirit to for facing life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: