Home » Uncategorized » Karakter Bangsa

Karakter Bangsa

Masihkah adakah karakter bangsa?

Karakter adalah ciri yang membedakan dari sesuatu yang lain. Karakter bangsa adalah ciri pembeda dari satu bangsa dari bangsa lainnya. Karakter tumbuh bersama eksistensi dan budaya bangsa itu sendiri. Ketika kita berbicara karakter bangsa Indonesia, maka dalam benak kita tergambar secara utuh sosok unik spesifik yang menampilkan sintesa internal dan eksternal seorang Indonesia secara individual ataupun secara komunal.

Karakter terinternalisasikan ke dalam diri seseorang sehingga menjadi ciri khususnya melalui pembiasaan. Dimulai sejak lahir dan berproses terus sehingga membentuk paten untuk kemudian menjadi individu yang utuh. Karena karakter terbentuk melalui proses, ini mengindikasikan adanya masa pemerolehan awal sebelum menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Masa pembentukan awal karakter dimulai sejak lahir. Anak-anak pada awalnya mendapatkan bentukan langsung dari orangtua yang mengasuhnya. Mereka meniru atau mengimitasi semua yang didengar, dilihat, atau dirasanya.

Pada masa kekinian, dalam lingkungan keluarga tidak saja orangtua yang memberikan asuhan, tetapi hadir “new religion” yaitu televisi. Istilah new religion atau agama baru diartikan untuk mengacu pada kenyataan bahwa banyak penonton televise meniru dan melakukan yang ditayangkannya dan bahkan menjadi fanatic karenanya. Televise memberikan sumbangan yang besar pada pembentukan awal bangsa ini. Para orangtua merasa senang ketika mereka melihat anaknya “ada dirumah” (menonton TV). Mereka tidak merasa sedang mengkhianati darahdagingnya dengan membiarkan mereka akrab dengan karakter-karakter imaginative yang menjauhkan Indonesia dari dunia anak-anaknya. Para balita dengan serius menonton Naruto, Doraemon, Kapten Tsubasa, Ipin Upin dan sederet tayangan lainnya yang sejenis. Maka ketika mereka memasuki dunia PAUD, mainan yang mereka beli, tas dan sepatu yang mereka pakai, obrolan,  tidaklah jauh dari karakter-karakter  ini yang menemani paling tidak selama 60 menit setiap harinya.

Ketika kita menengok ke dunia pendidikan kita, muncul sebuah pertanyaan. Mengapa pendidikan, khususnya pendidikan tinggi (tertiarty level) tidak memberikan sumbangan bagi pembangunan karakter bangsa ini? Sebagai contoh kecil, kita memiliki universitas dengan jurusan Sastra Indonesia. Kompetensi para lulusan tidak diarahkan untuk mampu membuat naskah cerita kartun yang bernuansa Indonesia. Kompetensi yang diminta berlabel epistemic yakni kemampuan untuk berwacana untuk mengungkapkan pengetahuan (Wells, 1987), bukan kompetensi functional atau menggunakan bahasa untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Maka tidak mengherankan para lulusannnya bertengger mengawang dengan dalih mereka ilmuwan yang harus bersikap ilmiah, tidak berurusan dengan film kartun. Mereka membiarkan kesastraan Indonesia diganti dengan “bahasa terjemahan” yang terdengar kaku (rigid) bagi telinga pengguna bahasa Indonesia. Bahasa terjemahan pada film anak-anak sangat artificial bahasa yang dipaksakan hadir untuk memenuhi gerak mimic tanpa mempertimbangkan kaidah bahasa Indonesia. Saat ini dibutuhkan segera untu membuat kerjasama antara para civitas sastra dengan computer animasi untuk segera membuat film-film kartun yang bernuansa Indonesia agar anak-anak Indonesia mengenal budaya dan karakter melalui tokoh-tokohnya. Jangan membiarkan anak-nak Indonesia akrab dengan karakter IPin Upin sehingga virusnya mulai merangsek ke tatanan bahasa. Anak-anak mulai menirukan gaya bicara pin Ipin, dan yang menyedihkan anak-anak merasa bangga jika memakai baju yang bergambar mereka. Lebih mengharukan lagi, ketika mereka merengek meminta mainan, yang diminta upin ipin. Upin dan Ipinisasi secara perlahan membuahkan karakater bangsa Indonesia yang berbau non-nasionalis.

Contoh lainnya, anak-anak TK (PAUD pada umumnya) berebut membeli mainan “murah” produk China. Mobil-mobilan, robot-robotan, sampai kembang api pun semuanya bukan produksi Indonesia. Padahal jika kita tengok lebih dalam, banyak sekali mainan yang dapat dibuat oleh bangsa ini mengingat banyaknya ‘orang pintar’ pada bidang ini. Mengapa para lulusan teknik tidak menciptakan mainan saja? Agar uang anak-anak Indonesia tidak lari ke luar negeri.

Anak-anak yang sedang membentuk karakter bangsanya, dikerubuti oleh elemen-elemen yang malah menjauhkan mereka dari karakter bangsa ini. Tayangan film kartun asing, drama dan lagu-lagu Korea, Manga Jepang setiap hari akrab menemani bangsa ini, adalah contoh kecil pembentuk yang mengakibatkan muncul karakter-karakter non-Indonesia. Munculnya gagasan memberikan Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa (PBKB) kepada anak-anak Indonesia mengindikasikan bahwa karakter dan budaya pada bangsa ini belum terbentuk sehingga harus diajarkan. Sangat memprihatinkan jika “jujur, toleran, cinta damai, bersahabat dan karakter lainnya harus disisipkan dalam pelajaran.  Karakter dapat dibentuk mulai dari rumah melalui tauladan. Kita tida membutuhkan akdemisi-akademisi epistemistis tetapi para fungsionalis membumi yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan sehari-hari sehingga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang kehilangan karakter.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: