Home » Uncategorized » Beranikah?

Beranikah?

Menjadi siswa doctorate tidaklah sederhana dan mudah. Ada banyak hal yang harus diubah terutama secara internal jika hendak melabeli diri kita sebagai seorang doctorate. Dimulai dari diri kita sendiri secara internal. Dari dalam diri kita harus ada perubahan yang mengindikasikan diri kita sebagai seorang educated, diantaranya memiliki dan menjalankan budaya membaca dan menulis. Seorang doctorate paling tidak harus membaca sebanyak 2.300 buku dalam kurun 2 tahun. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan menulis tesis yang mensyaratkan paling tidak memiliki  6 lembar halaman referensi, atau paling tidak memuat sebanyak 220 buku untuk mendukung tulisan yang diusungnya.

Kita orang  Indonesia yang dibekali dan dibesarkan dalam budaya dengar dan catat ( refleksi hasil pembelajaran bergaya CBSA-PAKEM?), memiliki ketidakbisaaan menghabiskan waktu dengan membaca dan dilanjutkan dengan menulis. Seperti kata orang kebanyakan, menulis tidaklah mudah, dan itu benar. Salah satu penyebab sukarnya menulis adalah karena kita tidak memiliki referensi dan bekal yang cukup untuk materi menulis. Seseorang dengan gelar Ph.D dari Australia berkata bahwa dia mengubah gaya baca dari 3 jam menjadi 4 x lebih banyak dari itu.  Perubahan ini mengubah pula gaya hidup. Dia menghitung untuk chit chat mulai how are you dan ditutup dengan good bye, menghabiskan kira-kira 3 bahkan sampai 5 menit. Ketika dalam satu hari dia bertemu dengan paling tidak dengan 12 orang yang mengajaknya ngalor ngidul, dalam hematnya dia telah kehilangan 60 menit. 1 jam sama maknanya dengan kehilangan 3 judul buku yang harus dibacanya dan dia kehilangan 3 lembar halaman yang bisa ditulisnya. Dia melakukan strategi untuk tidak kehilangan precious time dan mood, dengan pindah tempat. Berpindah tempat ternyata bisa merupakan salah satu cara untuk menjadikan seseorang bisa terus qona’ah pada apa yang sedang dia kerjakan. Pernyataan ini di dukung oleh Quraisy Shihab (penulis tafsir Al- Misbah) yang menyatakan bahwa jika engkau marah maka tinggalkanlah tempat itu, karena setan marah ada di situ. Dan sama halnya dengan tempat yang menyebabkan kita kehilangan waktu berharga kita karena ada gangguan yang tidak kita harapkan, maka tinggalkan tempat itu dan carilah tempat lain yang kira-kira mengantarkan kita kearah suasana (membaca atau menulis) yang lebih baik.

Tetap saja, seorang doctorate ditentukan oleh seberapa banyak dia membaca dan mengkaji tulisan orang lain. Dalam pandangan seorang doctorate ‘tidak ada teks yang free value dan setiap teks adalah problematik’. Dari sebuah teks dia tidak hanya melihat atau membaca words (kata-kata) tapi juga WORLD. Dia harus mampu merespon teks dan menemukan apa manfaat teks itu paling tidak bagi dirinya, pekerjaannya, dan dunianya. Sehingga dari respon tersebut dia bisa menghasilkan suatu sintesa baru yang membawa dunianya kearah yang lebih baik. Respon yang diberikan seorang doctorate tentu saja disampaikan secara tertulis dengan credible dan memuat argument yang kuat. Kedua hal terakhir tadi sangat dibutuhkan karena tulisan doctorate akan direspon secara berbeda-beda pula dan dia harus siap dengan semua pros dan cons yang nanti akan dia terima.

Untuk menjadi seorang doctorate haruslah memiliki gaya baca dan nulis yang berbeda, bukan berarti menerobos tatanan konvensional dalam kaidah karena dianggap rigid-kaku, tetapi dalam  kecerdikan menemukan informasi yang dibutuhkannya. Dia haruslah menjadi seorang fast-reader. Bagiamana seseorang bisa disebut fast-reader, apakah ini ditentukan oleh seberapa cepat dia membaca dalam satu menit, sehingga bisa dihitung dalam satuan detik dia mampu membaca sekian kata. Jawabannya tentu saja tidak. Speed bukan syarat untuk menjadi seorang fast reader. Semuanya dimulai dari slow reader. Slow merupakan langkah awal untuk menjadi fast. Pada tahap awal membaca, seseorang yang tidak bisaa membaca buku (apalagi dalam bahasa asing) akan menemukan kesulitan untuk mencerna apa yang dibacanya, tidak mampu read between the lines. Jadilah slow reader, baca dan ulangi, terus sedemikian rupa sehingga kemampuan koordinasi antara mata dengan otak sinkron, karena membaca adalah pelatihan, maka harus ada proses pembisaaan bagi mata dan otak untuk bekerja sama. Pada fase ini akan dirasakan keputusasaan, frustrated, hal normal yang akan dirasakan karena gelombang otak menerima sesuatu yang baru. Yang menjadi masalah adalah jika frustrated ini menyebabkan enggan membaca lagi karena merasa tidak mengerti dan kemudian  berhenti membaca. Hal ini merupakan sebagian dari penyebab seorang mahasiswa tidak mendapatkan doktoratenya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: