Home » LIVE » UNINTENDED

UNINTENDED

Kehadirannya di rumah saya tidak terlalu terlihat. Saya teringat dia setelah dia tidak ada.

Biasanya sebelum matahari terbit, dia sudah menginjak hampir seluruh bagian rumah. Dia mulai dari kamarnya sendiri, kemudian semua lantai 1, lantai 2, dan lantai 3. Ketika jam akan menunjukkan pukul 6 pagi, dia sudah menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Kami pun menikmati sarapan yang dibuatnya, tanpa bertanya apakah hari ini dia ingin jalan-jalan, atau ingin mengidamkan suatu jenis makanan seperti yang sering saya rasakan, atau sedang tidak mood untuk mengurusi rumah, atau sedang males memasak, semua itu tidak pernah saya tanyakan. Diapun tidak pernah mengeluh, atau menunjukkan kebosanan karena setiap hari terkurung dalam rumah,  atau menolak mengerjakan sesuatu yang tiap hari dilakukan dengan urutan dan prosedur yang relative sama.

Suatu hari dengan uraian airmata pertanda ketidakmampuan hati menanggung beban yang ditahankannya selama dua tahun terkahir ini. “Ibu, saya merasa bahwa Tuhan memberikan bagian perjalanan nasib yang terlalu berat bagi saya,” begitulah dia memulai paparan terpendamnya.

“Memang, apa yang Tuhan berikan?” Tanya saya.

“ Bu, saya menghabiskan lebih dari 700 hari di tempat yang disebut orang Dubai, kota metropolis-ambisius baru, kota dengan magnet bisnis memukau tiap bangsa, termasuk majikan saya dari Iran.”

Saya tidak merasa harus menunjukkan sikap sebagai pendengar yang baik dengan mengajukan pertanyaan karena dia dengan segera melanjutkan pembicaraannya tanpa menunggu apakah saya tertarik dengan topic yang disampaikannya atau tidak.

“Saya tinggal di sebuah apartemen untuk melayani Sir Ali, Madam Royaa dan kedua putranya. I think I am lucky enough to have such a nice family to serve.”

Saya terkejut, dia fasih berbahasa Inggris! Dia yang saya kenali dengan panggilan Bibi. Dia yang tidak pernah saya tayakan namanya  dan saya tidak bernimat untuk mengetahui siapa dirinya, kini duduk di depan saya dan berbicara bahasa Inggris, sangat luar biasa.

Menutupi keterkejutan, saya berkata, “lantas apa yang terjadi kemudian?”.

“Saya habiskan hari-hari saya hanya untuk mengabdikan diri pada majikan. Saya lupakan bahwa sebagai manusia saya diciptakan dan diberi hak yang sama oleh Tuhan saya. Ketika saya disebut stupid, careless, dan kata-kata sifat negative lainnya untuk menyampaikan ketidakpuasan atas pekerjaan saya, saya hanya diam. Saya hanya ingat, nun jauh di sana, di negeri nan hijau, tempat dimana kata orang kayu dan batu jadi tanaman, ada dua jiwa yang menantikan keberhasilan saya di sini. Maka saya hanya berusaha melakukan segala sesuatu sesuai selera Tuan, bukan atas norma kepatutan seperti di tempat saya dulu tinggal.”

Dia diam, mungkin sedang mencoba membuka file-file kehidupan yang telah disimpan baik dalam backup otaknya. Dia bicara lagi,” Bu, saya hanya lulusan SD, punya satu anak, satu suami, dan berani membuang diri. Saya katakana membuang diri, karena ketika saya pergi saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi di sana. Negara tidak membekali senjata apapun  untuk mampu mengahadapi hutan belantara asing yang harus saya arungi selama tanggal pada kontrak kerja saya belum habis. Saya tidak dipersenjatai dengan bahasa, keahlian, pemahaman cross culture atau paling tidak hal praktis minimal yang wajib dikuasai pekerja kasar. Saya hanya mengikuti nasib, mencoba memahami semuanya dengan taruhan deportasi.

Saya berhasil mengirimkan ratusan Dirham kepada keluarga. Saya lulus, dua tahun habis, dan saya pulang. I could go home to see my son and my husband.

Saya bisa melihat tanah air, tanah dalam arti sesungguhnya Bu. Selama dua tahun di sana, saya hampir tidak melihat tanah, semua jalan yang saya lewati tertutup semen. Eh tapi…, saya melihat tanah, mungkin debu, ketika saya dibawa ke Jeddah. Nice to be at home. Yang saya rindukan pertama kali adalah anak saya; dan hapus sudah karena dia dengan airmata menyongsong saya ketika saya turun dari mobil. Bahkan dia menyodorkan kabahagiaan baru, seorang bayi mungil. Anak saya menikah ketika saya masih di sana.”

Dia diam lagi, saya pun diam, dalam benak saya tergambar pertemuan mengharukan seperti yang ditayangkan pada sinetron. Saya mencoba menebak mau kemana arah kisah yang disajikannya akan berujung.

“Bu,  Ibu termasuk orang pilihan dan sangat beruntung.”

Sebuah pernyataan yang mengejutkan, selama ini saya tidak pernah merasa menjadi manusia unggul dan saya hanya menjalani hari-hari saya sesuai tanggungjawab yang harus saya genapi.

“How could you say so?” saya merasa penasaran.

“Ibu memiliki keluarga yang utuh, pekerjaan yang terhormat, perempuan yang bisa berbicara atas nama keluhuran budi pekerti sehingga tidak harus mencari perhatian suami, wanita yang mampu menghidupi dan menghidupkan dirinya sendiri sehingga berlimpah cinta Ibu dapatkan setiap hari. Sementara saya….” Dia mencoba menahan butiran airmatanya tumpah.

Kemudian dia  terbata-bata melanjutkan ceritanya:“Saya pulang Bu, dan suami saya  berada di rumah lain, katanya dia menikah lagi ketika saya pergi. Apakah suami saya tidak menghormati pengorbanan saya? Saya yang tiap hari hanya tidur 3 jam saja demi sepetak tanah yang jadi impian untuk dibuatkan gubuk diatasnya. Kenapa dia tidak melihat sisi hati keperempuanan saya?”

Dia menatap saya, dengan mantap dia berkata,” Bu, saya akan berhenti mengabdikan diri pada kebaikan Ibu, saya akan kerja lagi ke Luar Negeri, saya tidak sanggup menanggung penduaan hati yang harus saya terima setiap detik. Mungkin jika saya jauh, saya bisa melupakan bagaimana cara istri ke dua dari suami  tertawa, menertawakan kekalahan saya atas lepasnya tangga kasih dari tangan suami dan pindah kepadanya. Saya akan membuang diri saya, kemanapun saya dibawa paspor, saya tidak peduli. Saya tidak mampu mencerna perkataan suami yang menyatakan mencintai dan tidak ada niat menyakiti saya tetapi tidak bisa berpisah dari madu saya.”

Sesaat saya diam. Setiap orang berhak menyampaikan buah pikirannya dan sangat benar jika menyatakan keinginan sesuai dengan kata hatinya. Tiba-tiba saya teringat lagu Unintendid-Muse yang dalam liriknya menyiratkan bahwa ada seorang laki-laki yang tidak mau kehilangan perempuan ke-2 nya, tetapi pada saat yang sama keberadaan perempuan ke-1 nya adalah belahan jiwanya sendiri dan menempatkannya sebagai the one he always love. Bibi menemukan rival- unintended dalam rumahtangganya.

Saya tetap diam. Saya hanya bertanya-tanya dalam pikiran saya: ”jika Bibi mencintai suaminya, kenapa dia memilih pergi ke luar negeri seolah membuang diri, kenapa Bibi tidak memperjuangkan cintanya. Jika Bibi menginginkan suaminya, kenapa dia biarkan madunya bersama suaminya sedangkan dia memutuskan jadi unskilled labor dan mengirimkan hasil jerih payahnya untuk kemudian digunakan madunya. Jika Bibi tidak mau kehilangan suaminya, kenapa Bibi nekat jadi robot hidup di tanah orang, kenapa Bibi tidak menunjukkan jika dirinya berhak meminta penjelasan dan pilihan adil dari suaminya.

Sampai saat Bibi berangkat, entah di bawa ke Negara mana, saya masih tetap diam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: