Start here

Transformasi Guru

Tenaga Pendidik, tanpa henti dikritik. Guru, khususnya diasumsikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maju dan/atau mundurnya pendidikan. Upaya berbagai pihak untuk memajukan pendidikan yang tengah dijalankan seperti memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan; penyediaan standar kompetensi lulusan dan kurikulum nasional untuk memandu guru merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pemberian pengalaman belajar kepada peserta didiknya. Upaya-upaya tersebut  belum menunjukkan hasil,  akibatnya kritikan tidak berkurang. Dari hasil penelitian dan uji kompetensi masih ditemukan guru berkinerja rendah, tidak efektif, tidak inovatif, atau tidak berubah sesuai zaman. Padahal pengawasan sudah cukup ketat, dan guru bersertifikat telah meningkat. Kondisi ini seolah mengisyaratkan bahwa guru secara sadar harus melakukan ‘kajian terhadap dirinya dirinya sendiri secara mandiri’ (self-study)  menyoal apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan dalam upayanya untuk meningkatkan layanan pendidikan.

Terdapat beberapa pilihan cara untuk melakukan ‘kajian terhadap tindakan sendiri’ atau self-study yang dapat dilakukan guru sehingga nantinya lahir pembaharuan personal, pengembangan diri, dan pembaharuan layanan pendidikan. Cara pertama adalah dengan melakukan kajian terhadap catatan harian yang dibuat guru. Jurnal guru merupakan bukti-tekstual mengenai cara pandang guru terhadap apa yang telah dilakukannya pada hari dia mengajar. Catatan harian guru menjadi artefak yang dapat dikaji dan diteliti oleh guru. Dari artefak tersebut dia dapat menelusuri metode, strategi, pendekatan mengajar yang telah diaplikasikannya; dia dapat mengumpulkan data bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dalam menghadapi peserta didik atau masalah kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, dia dapat melakukan perbaikan pemberian pengalaman belajar bedasarkan bukti-bukti pada artefak yang dibuatnya.

Cara kedua, untuk melakukan transformasi, guru dapat mengkaji asumsi dirinya terhadap mengajar sehingga pada akhirnya mengubah cara mengajarnya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menghubungkan metakognitif-nya dengan persepsi-nya. Metakognisi yang dimaksud pada tulisan ini adalah cara guru melihat bagaimana dirinya menjadi pembelajar profesional, dan persepsi adalah bagaimana guru mengidentifikasi perubahan serta menanggapi cara dia melihat dirinya sebagai guru. Cara ini serupa dengan melakukan refleksi sambil tetap mengajar. Secara hati-hati guru mempelajari perkembangan dirinya sebagai guru, kemudian mengidentifikasi evolusi asumsi dirinya mengenai cara mengajarnya dan menghubungkannya dengan perubahan-perubahan pada cara mengajarnya dari waktu ke waktu.

Cara lainnya adalah melalui melihat bagaimana guru lain mengajar. Melalui observasi dan memperhatikan bagaimana rekan guru lainnya memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, cara  pandang dan praktik mengajar guru akan berubah. Serta lewat kajian bagaimana orang lain mendidik, guru dapat melihat kontradiksi antara teori dengan praktik, melihat manajemen kelas, melihat ketidakberhasilan atau keberhasilan suatu metode, dan melihat upaya-upaya praktis persoalan peserta didik yang berbasis-masalah. Cara ini nantinya membantu guru untuk mengapresiasi pentingnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki waktu bereksplorasi, menemukan sendiri cara belajarnya,  dan secara perseorangan mengetahui bagaimana dirinya harus belajar.

Self-study merupakan upaya yang harus dicoba oleh guru agar terjadi transformasi mengajar dan pembaharuan dalam pemberian layanan pendidikan. Upaya self-study manapun yang dilakukan oleh guru, akan menjadi harapan penangkal kritik terhadap kinerja guru yang selama ini dipandang belum optimal.

 

Menangkal Kesulitan Merencanakan Pembelajaran

Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan bagian dari tugas profesional tenaga pendidik. Perencanaan pembelajaran sangat penting dilakukan oleh tenaga pendidik karena pada saat itulah tujuan pembelajaran ditetapkan, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar diurutkan, dan pengukuran keberhasilan penguasaan kompetensi peserta didik diatur.

Untuk menghasilkan sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, para ahli bersepakat bahwa tidak ada format statis yang berlaku disemua tempat dan tidak ada cara yang paling benar untuk membuatnya. Oleh karena tidak adanya kebakuan dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebagian guru menghadapi kesulitan dalam membuatnya. Kesulitan ini mengakibatkan: proses pemberian pengalaman belajar berjalan tanpa menggunakan acuan RPP; menggunakan buku pelajaran sebagai patokan; atau memperlakukan kegiatan belajar-mengajar sebagai  kegiatan rutin yang tidak memerlukan lagi perencanaan.

Di Indonesia, keluh kesah pembuatan RPP dapat diminimalisir karena pemerintah mengeluarkan Permendiknas nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang didalamnya memuat penjelasan mengenai rancangan penyusunan rencana pembelajaran. Dengan adanya Permendiknas ini sebagian besar kesulitan guru dalam melakukan perancangan pembelajaran dapat diatasi. Namun, sebelum melakukan proses menulis RPP, sebaiknya para guru melakukan hal-hal berikut.

Pertama, membaca silabus mata pelajaran yang diampu dengan seksama. Dengan membaca silabus akan diketahui kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar, alokasi waktu yang bisa digunakan, jenis penilaian yang ditagihkan dan sumber belajar yang dapat dipakai.

Kedua, melakukan analisis terhadap silabus yang memuat Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sehingga dapat dipetakan cakupan materi ajar, indikator pencapaian kompetensi yang akan ditetapkan,  jumlah alokasi waktu untuk setiap materi ajar, sebaran pemberian materi per semester, penetapan waktu untuk melakukan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.

Ketiga, membaca Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Permendiknas ini memberikan penjelasan yang rinci mengenai batasan dan peristilahan yang berkaitan dengan perancangan pembelajaran. Telaah dan kajian mendalam terhadap setiap pasalnya dapat menjadi memberikan gambaran gamblang mengenai RPP dan aturan lain terkait pembuatan RPP.

Keempat, menelaah lampiran Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Pada bagian lampiran dijelaskan secara rinci pengertian, konsep, prinsip, lingkup, mekanisme, komponen dan sistematika RPP. Dengan mengacu pada komponen dan sistematika RPP, paling tidak penulisan RPP mendekati setengah selesai.

Kelima, tulislah RPP dengan mengacu kepada komponen dan sistemtika yang ditetapkan. Perhatikan perubahan-perubahan yang membedakannya dengan cara penulisan pada peraturan sebelumnya. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran tidak lagi dicantumkan.

Membuat RPP menjadi keasyikan tersendiri ketika mekanismenya telah diketahui dan sistematikanya telah dikuasai. Diibaratkan ‘pemandu jalan’, RPP membantu tenaga pendidik melaksanakan proses pemberian pengalaman belajar dengan lebih efektif dan efisien. RPP yang telah dibuat dan diaplikasikan untuk memberikan pengalaman belajar merupakan wujud tanggung jawab profesional.  Oleh karenanya diperlukan kerangka pikir dan langkah kerja profesional untuk mewujudkannya.

2. Guru

Guru adalah orang yang luar biasa sekaligus mendapat tempat istimewa. Sebutan Guru menunjukkan tingginya derajat kedudukan dan keilmuan yang dimilikinya. Dalam pandangan global, sebagai contoh, Guru menurut kamus Merriam-Webster termasuk kedalam kata benda yang mengacu pada: 1) a religious teacher and spiritual guide in Hinduism (pembimbing agama atau pembimbing spiritual dalam agama Hindu), 2) a teacher or guide that you trust (pendidik atau pembimbing yang dipercayai), 3) a person who has a lot of experience in or knowledge about a particular subject (orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam/mengenai sebuah keilmulan, 4) a person with knowledge or expertise (orang yang memiliki ilmu atau ahli pada ilmu tertentu).

Definisi Guru yang pertama mengisyaratkan bahwa Guru bukanlah orang biasa-biasa saja. Dia memiliki pengetahuan yang melebihi orang kebanyakan mengenai agama dan spritualisme. Pada definisi ini dikhususkan pada agama Hindu, hal ini disebabkan karena kata Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang kemudian digunakan dalam konteks keagamaan. Dalam agama Hindu, guru memiliki arti yang sangat dalam yaitu one who dispels the darkeness and ignorance atau orang yang membuka tabir kegelapan dan menyingkirkan sikap tidak acuh (Thirumaleshwar, 2015). Sekarang ini, kata Guru diadopsi untuk merujuk pada orang yang membimbing pada cahaya kebenaran dan mengajarkan kebaikan.

Selanjutnya, pada definisi kedua, Guru melebihi dari sekedar manusia. Acuan kata Guru adalah kata benda, oleh karenanya bisa saja Guru adalah gunung, sungai, pohon, atau benda lainnya. Sering kita dengar, ‘berguru kepada gunung, berguru ke padang datar, berguru pada alam. Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa Guru tidak selalu harus manusia. Pada dunia pewayangan, dikisahkan bahwa seorang Raja atau siapa saja yang sedang gundah gulana, menghadapi masalah berat, dia akan pergi naik gunung, dan tidak melakukan kontak dengan dunia luar selama beberapa tahun, kemudian turun gunung, jadilah dia Raja atau seseorang yang adil dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan tempat yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Definisi ketiga, guru adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan banyak pada ilmu tertentu. Dengan kata lain, guru adalah orang yang mumpuni karena pengalaman dan pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang petani-guru adalah orang yang hidupnya dipersembahkan untuk menghasilkan butiran padi yang bernas. Dia akan belajar tanpa henti untuk dapat memproduksi gabah terbaik. Dia akan mencari cara dan upaya agar setiap usahanya mengarah kepada panen yang menguntungkan. Dari seluruh tindakannya, dia bisa berbagi pengalaman bagaimana cara menanam padi yang baik, bagaimana cara mengairi sawah yang benar, bagaimana cara memberikan pupuk yang tepat, bagaimana cara menjaga tanaman padi agar tidak diserang hama, dan bagaimana cara memanen padi serta bagaimana cara menyimpan padi yang aman. Seorang guru Bahasa Inggris, dia akan terus belajar tanpa henti agar memiliki ilmu yang cukup mengenai tata cara mengajarkan Bahasa Inggris, terus menerus mengajar sehingga pengalaman mengajarnya bertambah, sehingga nantinya dirinya dapat berbagi pengalaman dan keilmuan mengenai mengajar Bahasa Inggris.

Definisi keempat, guru adalah seorang ahli atau seorang yang profesional. Sebagai seorang ahli, seorang guru sangat menghindari tindakan malpraktek dalam mengajar. Selain itu, kata ahli menyiratkan bahwa tidak sembarang orang dapat menjadi guru atau tidak bisa seseorang tiba-tiba berdiri di depan peserta didik dan mengajar. Dia harus memiliki keahlian terlebih dahulu. Seorang piawai penganyam tikar dari daun pandan, dia bisa menjadi guru penganyam tikar, karena itulah keahliannya. Dia tidak bisa dipertukarkan untuk mengajar hal lain di luar keahliannya. Jika hal ini dipaksakan, yang terjadi adalah kemunduran, kemerosotan, dan kekacauan.

Dalam pandangan lokal, Guru merupakan orang terpenting dalam budaya Indonesia. Pepatah tua mengatakan ada tiga orang yang harus dihormati, dipatuhi, dan ditinggikan, yaitu 1) Guru,  2) Ratu, dan 3) Wong Atua Karo. Guru menempati urutan pertama karena dialah yang memanusiakan manusia, dan dia pulalah yang menunjukkan bagaiamana cara menjadi manusia. Ratu mengacu kepada pemimpin. Pemimpin harus dipatuhi karena dialah yang mengatur kehidupan manusia. Dan yang terakhir adalah Wong Atua atau orang tua. Mereka harus dipatuhi dan dihormati karena pengorbanan mereka tanpa batas, kasih mereka tanpa pamrih, dan mereka menerima kita-anaknya apa adanya.

Guru atau teacher dalam Bahasa Inggris (dan saya lebih setuju menggunakan kata teacher –ticer- daripada guru) mengemban tanggung jawab besar bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia. Temuan Prof. Alwasilah (2010) bahwa 65% guru di Indonesia tidak profesional tidak harus menjadi was-was dan menduga bahwa sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya. Buruknya wajah pendidikan Indonesia, tidak semuanya karena guru…eh ticer.

Bagaimana seorang guru memandang dirinya dan menentukan definisi bagi profesinya, di kemudian hari akan menentukan guru apa yang diperankannya dan dilakukannya.

Brain, Teacher, and Curriculum

Our mind is like a black box. It is said so as we do not know what is in there. To understand what our brain do, we ask the help of psychologist. Psychologists do not  recognize the work of our brain easily, so they try to do analogy. For example, Pavlov, he tried to see human brain’s work by making experiment on a dog. From his experiment, people then see that there Stimulus-Response relation. Other expert makes experiment on Chimpanzee. The results of those experts open a little understanding on the work of brain.

Then, expert found out that environment plays a vital role for our brain. They said ‘mind is in society”. Mind is conditioned by the environment.  This implicitly acknowledged that each of us has capacity to be what we want as long as we are put in the right environment. In school’s context this means that every student is good seed, teacher becomes a person who nurture the seed. The good seed will not grow or even die if the teacher does not provide good environment for learning.

A professional teacher should cause the students to experience learning. Since the heart of education is learning. To do so, teacher should apply curriculum because any curriculum is product of accomplished mind. Curriculum is developed by innovator who are small in number. Then it will be adopted by early adopters like people who are in charge in education and later used by early majority such as teacher. As the distance from the innovators to teachers are quite long, sometimes the innovator said “quay” and distortion occurs it becomes “key”. Those words are different in meaning and fatal if it happens in the educational world. Teacher may lead the students to a wrong end as distortion had happened.

Anjing Shalat

Dua rumaja guntreng ngobrol.

A: “Njing, geus magrib ning, urang mah rek solat.”

B: “Emang, sia wae nu sok solat Njing, dewek oge osok. Hayu ah urang bareng Njing ka masigit.”

A: “Hayu, saha imamna Njing?”

B: “Didinya we Njing.”

A: “Heg lah Njing. Eh..Njing, rek solat mah kudu wudu heula, hayu Njing urang wudu.”

A ngimamanan solat magrib, aya sababaraha urang nu lain nu gabung milu ngama’mum ka manehna. A solat kalayan khusu, manehna maca surah Al-Fatihah kalayan rineh. Sarengse maca Fatihah, sanggeus ngucapekun walad’doooliiinnn. Ma’mum reang ngajawab,’aaaamiiiiiiin.’

A ngalieuk, pok ngomong, “Anjing Kompak!!!!”

Si B keuheul kacida, apan dina solat mah ulah ngomen. Dina hatena manehna ngagerentes, “ Keun siah mun maca Fatihah dina roka’at kadua, ku aing moal diaminan.”

A nuluykeun raka’at. Sarengse maca Fatihah, manehna rada ngajenghok lantaran taya nu ngaminkeun. Manehna galecok dina hatena, “Keun siah, tadi jempe wae, teu ngaminkeun, ku aing engke mun takbir moal ditarikkeun”.

Solat geus asup kana sujud pangahirna, A cengkat tina sujud, tapi teu nyebut Allohu akbar di tarikkeun sakumaha biasana pikeun ngabejaan pindah gerak solat. A tahiyat ahir dina hatena, terus aweh salam, leos bae indit.

Ari si B jeung ma’mun liana nungguan kode ti imam, tapi teu aya wae. Ahirna B cengkat, bari tumanya, naha bet lila-lila teuing sujud teh. Barang manehna cengkat terus nempo ka hareup, sihoreng si A, imamna, geus teu aya di tempatna. Manehna semu keuheul ngagorowok: “Anjing euweuh supiran…!!!!!!!”

Answer these questions

  1. What is the story about?
  2. What will you do if you are A?
  3. What will you do if you are B?
  4. What lesson you get from the story above?

Hari Ke-1

Pertemuan pertama (28 Juli 2015)

Kata ‘pertama’ selalu menarik untuk dibahas. Demikian pula kata pertama bagi saya dalam peran sebagai wali kelas: kelas Sosial. Dalam pengalaman menjadi guru selama 18 tahun, inilah kali pertama saya mendapat tugas sebagai orang tua di sekolah bagi kelas 12 Ilmu Sosial 4.

Seperti umumnya, siswa yang berada pada kelas sosial dianggap golongan kedua setelah siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sesungguhnya tidak demikian untuk siswa yang menggunakan Kuikulum 2013 mengingat siswa kelas Soaial banyak mengambil materi ajar Lintas Minat yang memungkinkan siswa tersebut mendapatkan materi ajar yang sama dengan siswa IPA.

Saya mendapat ucapan selamat dari rekan sekerja atas penunjukkan sebagai wali kelas sosial 4. Ucapan ini dapat dimakanai positif dan negatif. Seorang teman secara langsung berkata, ‘sesekali cobalah menikmati bagaimana rasanya menjadi wali kelas sosial dan mengajar kelas sosial’. Teman lainnya berkelakar, ‘tumben nih jadi wali kelas sosial’. Saya akan meninggalkan komentar rekan sekerja. Di bawah ini akan saya paparkan apa yang saya lakukan pada pertemuan pertama dengan siswa sosial 4.

Bersitatap dengan siswa sosial 4 di ruang kelas sosial 4, saya tidak merasakan perbedaan mencolok seolah ‘inilah kelas sosial’. Bahkan, terlihat lebih menarik. Jumlah siswa hanya 33 orang. Bagi saya itu sebuah keuntungan. Selama ini, ketika mengajar kelas IPA, jumlah siswa paling sedikit 42 orang.
Pertemuan pertama dimulai dengan mencoba saling mengenal antara saya dengan siswa secara lebih personal. Saya berusaha memberikan kesan bahwa guru di sekolah dapat menjadi orang yang dapat dipercaya dan menjadi teman secara akademis.

Mulanya para siswa terlihat ragu-ragu. Untuk mengurangi kecangungan saya mengubah penggalian pengenalan personal dari lisan menjadi tulisan. Saya memberikan 8 pertanyaan yang akan membantu saya nantinya mengenal siswa. Pertanyaan tersebut adalah: 1) Apakah yang kamu ketahui tentang saya? 2) Siapa kamu?, 3) Siapakah teman sekelas yang menurutmu tidak menyenangkan dan apa alasannya? 4) Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasanya? 5) Siapakah teman yang tidak menyenangkan? 69 Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasannya? 7) APa yang membuat kelas ini dianggap negatif oleh kelas lain? dan 8) apa yang harus dilakukan agar kelas ini menjadi kelas yang terbaik?

Para siswa terlihat sangat antusias memberikan jawaban. Saya mengumpulkan jawaban dan melanjutkan kegiatan dengan memberikan arahan untuk membangun citra kelas menjadi lebih positif. Saya meminta pendapat siswa menganai bagaiamna caranya agar kelas terlihat bersih dan rapih, siapa yang akan bertanggung jawab terhadp keberlangsungan kebersihan, keamanan dan ketrtiban kelas. Diluar dugaan para siswa sangat aktif mengajukan tawaran pilihan dan kemungkinan agar kelas menjadi kelas yang terbaik. Bahkan terlontar rencana membersihkan kelas, membuat baju kelas, membuat nama kelas, memberikan warna khusus untuk menunjukkan nuansa kelas.

Hal-hal yang terjadi di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa tidak ada perbedaan antara siswa IPA dan siswa IS seperti yang selama ini saya dengar. Hal lainnya yang membuat saya terkesan adalah ketika salah seorang siswi mengatakan dengan lantang bahwa ayahnya bekerja sebagai Satpam. Saya bisa merasakan kebanggan yang tersirat dari nada suaranya, dan ini mengharukan.

Yang menarik perhatian saya adalah ada tiga siswa yang tidak hadir: 1) Khisan, 2) Farhan, dan 3) Randi. Saya mendengar dari teman sekerja bahwa salah satu dari ketiga siswa yang tidak hadir ini harus mendapat perhatian khusus. Mereka mengatakan hal-hal yang kurang positif tentang siswa ini diantaranya jarang masuk kelas, terlalu lamban dalam melaksanakan tugas, dan tidak aktif pada saat proses pembelajaran.

Selain dari ketiga siswa diatas, ada siswa lainnya yang juga menarik perhatian saya. Berdasarkan jawaban tertulis siswa saya menemukan bahwa ada siswa yang tidak disukai oleh hampir semua anggota kelas karena sikapnya yang kurang bisa diterima. Namun ada pula siswa yang hampir disukai oleh semua anggta kelas karena dianggap nyaman ketika diajak ngobrol, sikapnya logis, pengertian, dan inspiratif.

Secara pribadi, pertemuan pertama saya dengan siswa sosial 4 memberikan kesan positif. Saya merasa bangga menjadi bagian dari kehidupan mereka dan berkesempatan untuk mengahabiskan 250 hari bersama mereka.

Pra-Seleksi

Sambil menunggu pemberitahuan seleksi, diam-diam saya belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri magang nanti di Australia. Mungkin ini terdengar lucu, guru bahasa Inggris tapi belajar bahasa Inggris. Bagi saya pribadi, ini sama sekali tidak lucu, tapi serius. Sebagai orang yang akan berhadapan langsung dengan native speaker saya harus benar-benar mampu berkomunikasi dan menunjukkan keterampilan reseptif dan produktif pada saat magang, dan tidak mempermalukan bangsa saya sendiri, khususnya guru.
Saya menghabiskan paling tidak satu jam setiap hari untuk menyimak siaran berbahasa Inggris dari TV Channel “Australia” melalui TV Satelit BIG TV. Sengaja saya tune in pada saluran ini, karena saya yakin dialek Inggris-Australia memerlukan latihan untuk dapat mengenalinya dengan baik. Saya pun kembali menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam untuk membaca koran The Jakarta Post dan sesekali majalah Time untuk memperkaya pengetahuan berbahasa. Menjadi peserta magang merupakan hal besar, saya tidak bisa bertindak tanpa ada persiapan.
Saya malah hampir lupa dengan persyaratan yang telah dikirim ketika Dinas memberitahukan bahwa saya harus mengikuti seleksi magang bertempat di Lembang, di Grand Hotel, dengan membawa segala persyaratan tambahan. Persyaratan tambahan ini diantaranya surat keterangan sehat dari dokter Rumah Sakit. Saya mempunyai pengalaman tidak terlupakan ketika membuat surat keterangan sehat. Pagi itu, ketika saya mendaftarkan diri ke Rumah sakit untuk mendapatkan Rekam Medic, saya dipersilahkan mengambil sendiri rekam medic di lantai 2. Saya menunggu berlama-lama agar dapat mengambil Rekam Medic. Setelah hampir satu jam, seorang Ibu (mungkin orang yang biasa mengurusi wilayah Rekam Medic) berkata, ‘maaf, rekam mediknya hilang, terkena air hujan, silakan kembali ke bagian pendaftaran dan buat data baru’.
Segera setelah mendaftar ulang, saya menuju ruang untuk menerima layanan pemeriksaan. Pada bagian pendaftaran pemeriksaan seorang Perawat bertanya, ‘Ibu, harus saya periksa apanya?’. Saya jawab dengan polos, ’saya tidak tahu, mungkin rumah sakit memiliki daftar atau list standard apa yang harus diperiksa untuk keperluan pergi ke luar negeri’. Saya diminta untuk diroentgen, periksa darah, urin. Saya memasuki ruang periksa, seorang petugas berkata, ‘maaf Ibu, kami tidak bisa menjalankan tugas kami, listrik mati’. Kejutan lainnya adalah bahwa setiap hasil pemeriksaan labratorium, baru bisa diambil dua hari kemudian. Sedangkan, pemberitahuan harus menyertakan Surat Keterangan Sehat baru saya terima sore hari sebelumnya, dan pukul 11 siang ini, surat tersebut harus sudah diserahkan kepada Disdik.
Segera saya meninggalkan Rumah Sakit dan menuju Betta Lab yang bisa menyediakan fasilitas pemeriksaan Urine dan Darah, sedangkan untuk Roentgen saya harus bergegas ke Klinik lain, mencari Klinik yang menyediakan Roentgen, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pada saat itu.
Singkat cerita, pukul 11 siang itu, semua persyaratan lengkap, dan bisa diserahkan ke Disdik. Esok harinya saya berangkat menuju tempat seleksi bersama guru lainnya. Saya mengikuti kegiatan tes TOEFL, kemudian wawancara. Untuk wawancara, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Saya termasuk kelompok dua. Pewawancara menanyakan apa yang akan saya teliti ketika saya mengobservasi kegiatan pembelajaran di Australia. Saya menjawab ingin mengetahui bagaimana pengajaran reading dilaksanakan. Wawancara berjalan lancar, saya merasa mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Termasuk bagaimana cara saya melakukan observasi, siapa yang akan diobservasi, instrument yang digunakan selama observasi. Pikiran saya kembali ke menulis tesis. Sebagai orang yang akan menemukan ‘sesuatu’ dinegeri Kanguru, saya harus berpikir sistematis.
Sebetulnya saya sedikit terkejut ketika wawancara dilaksanakan. Satu pewawancara berhadapan dengan enam orang sekaligus. Pada beberapa panduan yang saya baca untuk large interview panel idealnya pewawancara berhadapan dengan dua atau tiga orang agar dapat mengevaluasi potensi calon secara akurat.
Di luar yang ditanyakan oleh pewawancara sesungguhnya saya telah menyiapkan bahan untuk 1) menjelaskan siapa diri saya, 2) menjelaskan sifat saya, 3) alasan mengapa saya menjadi guru bahasa, 4) kelemahan saya, 5) hal yang saya banggakan, 6) pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan ketika di SA. Berikut ini adalah persiapan yang saya buat.
1. I have always considered myself lucky to have been admitted to school of education at university and eventually become a teacher. I was admitted to school of education in order to become a teacher when the teaching profession was not so attractive in terms of financial rewards.
I registered in the school of education then purely in idealistic terms because I love teaching, love being with young people, being with kids, and I love reading books about education.
2. Scholarly, bookish, easy going, friendly, firm, self-disciplined, highly confident. Those are some of the adjectives my best friend(s) use(s) to describe myself.
3. I want to encourage young people to read English because it will be useless to learn English if they don’t want to end up reading in that language. It doesn’t make sense if learning English is devoted to being able to communicate orally, whereas in Indonesian curriculum it is emphasized that knowledge seeking through reading is the main goal.
4. I consider this is one of my weaknesses, I tend to be an unmaterialistic teacher due to my passion for education. I don’t mind guiding students beyond school prescribed time. I even open the door of my home to my students who want to consult or confide to me. I realize at the end that my teaching profession in order to be successful cannot depend on idealism alone; more money is needed. (there are some students who happen to be broke, they don’t have to compensate for the copied paper I provide for them)
I am a school teacher and house wife as well. This double role leaves me very little time for professional advancement through reading. That’s why I always try to use every minute of my spare time in school to read. This behaviour is misunderstood by my colleagues who tend to think me as asocial, introvert, lonely, and arrogant. In fact, I am the opposite of those things.

5. It takes a teacher not less than 20 years to have a small home of his or her own if they count on salary alone. It took me relatively shorter time to have a big house in western style. Apart from regular salary which is better now, I have additional income from writing and private teaching which are considerably big so that I can build that home. There are seven spacious, high-ceiled rooms, one of which is my personal library. (self-learned architect). One of the successful culminations of my writing interest is being rewarded as one of the winners in the teacher science forum and eventually I was rewarded to go on pilgrimage to the Holly land, Mecca (I wish I could go to an English-speaking country such as Australia which was considered to be the best destination for such a winner as myself). It is a pity that the proposal to send the science forum winners to Australia was rejected by the majority of the teachers. It was the one of the provincial department of education official that proposed sending the winners to Australia which I fully supported. It is for this reason that I don’t want to miss the second chance to go to Australia.

6. Do you have breakfast at a regular basis, not casually as most Indonesian do?
– Have you been in any Indonesian school?
– Do parents give pocket money to their children to go to school as in Indonesia? If so, how much is in average? Do the teacher-parents association in most Australian schools work well? Do parents in Australia participate in deciding what to teach to their kids whereas in Indonesia gullibility is the norm.
– Do principals know the teachers’ name and some of their students?
– Do family and children consume only local food or they consume ethic foods that are available in Australia?