Start here

Aku Wanita

Berani mengaku diri sebagai wanita untuk diriku sendiri, bukanlah perkara sederhana. Pengakuan secara genital mempengaruhi bagaimana kubersikap kepada diriku sendiri dan bagaimana memperlakukan diriku di depan orang diuar diriku.

Pengakuan diri sebagai wanita, bagiku, melalui proses yang tidak sebentar. Semula aku selalu menganggap bahwa aku, salah satu anak dari ibu kandungku, sama saja dengan saudaraku.

Ibuku memperlakukanku tiada beda diantara kami berempat. Masih kuingat ketika aku menerima baju tidur yang sama dengan saudaraku. Ketika hendak tidur kami memakai baju dengan warna dan model yang sama. Rasanya sangat menyenangkan  pada saat kami bisa bercengkrama dalam keluarga tanpa memperhitungkan jenis kelamin. Aku menyukai diriku yang menjadi bagian dari empat bersaudara dalam keluarga kecilku.

Aku mempersoalkan keluarga, bukan jenis kelamin. Aku memiliki keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil adalah aku, ibuku, dan saudara-saudara seibuku. Keluarga besar adalah keluarga kecilku ditambah ayah, dua ibu tiri, dan empat orang saudara perempuan tiri, serta tiga orang saudara lelaki tiri.

Aku, menjadi bukan siapa-siapa bagi ayahku yang memiliki empat orang anak wanita, dan memiliki tiga wanita pendamping hidup. Aku, bukan anak wanita yang diharapkan ayahku, aku tidak pernah ditegur atau disapa ayahku. Aku tidak menyukai diriku dilihat dari sisi ayahku. Aku tidak mengetahui jika aku wanita. Aku hanya tahu bahwa ayahku tidak menyukai diriku. Itu saja.

Ketika aku masuk sekolah dasar, barulah aku mengetahui bahwa aku digolongkan ke barisan anak wanita. Aku diminta berganti baju. Berganti baju artinya berganti pula permainan yang harus aku ikuti. Bagiku, yang anak kampong, bermain tanah merah dan membuatnya menjadi mobil-mobilan bersama teman-temanku sambil memperhatikan domba-domba yang kami jaga, adalah kesenangan tersendiri.  Aku selalu sangat pandai membuat mobil ‘Bayawak’. Sebutan untuk miniatur mobil Chevrolet yang aku tumpangi ketika ke kota.

Sejak aku masuk sekolah dasar, dan berganti baju. Perlahan-lahan aku kehilangan teman sepermainanku. Mereka tidak bersedia menerimaku mandi di Rawa Hideung bersama kerbau-kerbau merah mereka. Mereka menyuruhku agar bermain bersama jenisku. Membuat boneka dari kelopak bunga pisang dan menghiasinya dengan bunga Harendong, bukan keahlianku. Aku merasa sepi karena aku berganti baju.

Menjadi wanita, tidak terlalu aku sukai. Bukan karena wanitanya, tapi karena efek sebutannya. Ketika aku diketahui menstruasi pertama, ayahku dengan serta merta menghentikan sekolahku. Beliau dengan tegas berkata bahwa tugasnya sebagai ayah untuk memberi nama, membesarkan, dan mendidik telah khatam. Kini tugas selanjutnya adalah menikahkanku, dan ayah serius dengan hal itu.

Aku tak paham menikah. Aku tak paham kenapa harus mengikuti semua kata ayah. Kata ibuku, ayah harus selalu diutamakan. Pada saat makan, ayah makan terlebih dahulu, ibuku makan sisa ayah. Ibu berkata, ‘ pada sisa makanan ayah ada berkah.’

Aku tak paham berkah. Menikah dengan guru sekolah dasarku sendiri yang telah duda, itu berkah kata ibuku. Berkah dari ayahku. Untuk aku, anak wanita.

Literasi dalam Pembelajaran

Hal menarik dari kegiatan mendampingi guru adalah para nara sumber yang memberikan wawasan tambahan kepada para guru. Nara sumber adalah para pemikir yang sangat peduli pendidikan Indonesia. Ambil contoh, Ibu Pangesti Wiedarti. Beliau penggagas literasi yang mengharapkan peserta didik di Indonesia tanpa kecuali menjadi warga negara dan warga dunia yang literat. Beliau menawarkan cara literasi melalui pembiasaan terlebih dahulu. Secara teratur, peserta didik dan pendidik menghabiskan waktu 15 menit setiap hari untuk membangun kebiasaan membaca. Selanjutnya setelah terbangun kebiasaan. Selanjutnya masuk tahap literasi dalam pembelajaran.

Literasi dalam pembelajaran tentu memiliki strategi. Terdapat dua strategi pokok yakni: 1) strategi pemahaman wacana/teks dan 2) kompetensi representasi multimoda. Mencapai kedua hal tersebut tentulah memerlukan kerja keras semua warga sekolah, terutama dari pendidik. Pada saat mengajar, pendidik menguraikan literasi kedalam tiga bagian penting yakni: 1) sebelum membaca, 2) ketika membaca dan 3) setelah membaca (Wiedarti, 2017).

Pada pengajaran berbahasa strategi pemahaman teks dibagi kedalam sebelum, selama, dan setelah membaca. Misalnya, pada tahap sebelum membaca, peserta didik diajak untuk menebak apa topik bacaan yang akan dibahas. Atau misalnya dengan meminta peserta didik menyebutkan tujuan membaca sebuah teks.

Selanjutnya, pada tahapan saat membaca, penting bagi peserta didik untuk dapat menunjukkan pemahaman terhadap bacaan/teks dengan cara menjelaskan informasi rinci/tersurat/tersirat dari teka yang sedang dibacanya. Cara lain adalah dengan memvisualisasikan isi bacaan. Penggunaan mind map dan concept map sebagai representasi pemahaman isi  bacaan dapat digunakan sebagai alternative visualisasi pemahaman. Menggali apakah peserta didik memahami membaca dapat pula diuji dengan meminta mereka menunjukkan inferensi bacaan atau menunjukkan keterkaitan isi bacaan (lihat teori Rheme-Theme yang diajukan Halliday).

Pada tahap setelah membaca, pendidik dapat mengetahui sejauh mana peserta didik memahami bacaan dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membuat ringkasan, mengevaluasi teks dan mengkonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi.

Pertanyaannya, apakah mungkin guru melakukan semua hal di atas?

Jika ditanya mungkin, jawabannya sangat mungkin. Pengajar bahasa asing (juga bahasa Ibu, dan Bahasa Nasional) sesungguhnya telah melakukan hal yang disebutkan di atas. Mengapa seolah terasa membingungkan? Masalahnya, istilah. Pemberian nama pada sebuah aktivitas, bagi sebagian guru bisa saja menimbulkan kebingungan. Kita lihat secara lebih dekat mengapa para guru pengajar bahasa telah menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran.

Ketika seorang guru bahasa Inggris misalnya akan memberikan pengalaman belajar menyusun teks biografi orang terkenal. Dia memulainya dengan memberi foto-foto orang terkenal secara nasional dan internasional pada berbagai bidang. Dia menanyakan siapa mereka, apa keberhasilan mereka, pada bidang apa mereka berkiprah. Peserta didik menjawab bahwa mereka mengenal sebagian dari tokoh-tokoh nasional dan internasional yang ditanyakan. Setelah itu guru menanyakan kira-kira apa pelajaran hari ini yang akan dibahas, peserta  didik tanpa ragu menjawab orang terkenal, orang hebat, atau jawaban sejenis.

Ketika peserta didik menjawab orang keren, penyanyi idolaku, atau inspirasiku, mereka telah melakukan prediksi. Mereka memperkirakan bahwa yang akan mereka pelajari berdasarkan stimulus berupa foto yang mereka lihat.

Bagimana pada saat membaca?

Apakah ketiga cara ini bisa diterima? Ahli literasi lain, menyatakan tidak setuju. Bahasan ketidaksetujuannya ditulis pada entri blog selanjutnya.

(to be continued) silahkan beri komentar dan pertanyaan (jika perlu) agar tulisan ini berfungsi

Transformasi Guru

Tenaga Pendidik, tanpa henti dikritik. Guru, khususnya diasumsikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maju dan/atau mundurnya pendidikan. Upaya berbagai pihak untuk memajukan pendidikan yang tengah dijalankan seperti memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan; penyediaan standar kompetensi lulusan dan kurikulum nasional untuk memandu guru merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pemberian pengalaman belajar kepada peserta didiknya. Upaya-upaya tersebut  belum menunjukkan hasil,  akibatnya kritikan tidak berkurang. Dari hasil penelitian dan uji kompetensi masih ditemukan guru berkinerja rendah, tidak efektif, tidak inovatif, atau tidak berubah sesuai zaman. Padahal pengawasan sudah cukup ketat, dan guru bersertifikat telah meningkat. Kondisi ini seolah mengisyaratkan bahwa guru secara sadar harus melakukan ‘kajian terhadap dirinya dirinya sendiri secara mandiri’ (self-study)  menyoal apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan dalam upayanya untuk meningkatkan layanan pendidikan.

Terdapat beberapa pilihan cara untuk melakukan ‘kajian terhadap tindakan sendiri’ atau self-study yang dapat dilakukan guru sehingga nantinya lahir pembaharuan personal, pengembangan diri, dan pembaharuan layanan pendidikan. Cara pertama adalah dengan melakukan kajian terhadap catatan harian yang dibuat guru. Jurnal guru merupakan bukti-tekstual mengenai cara pandang guru terhadap apa yang telah dilakukannya pada hari dia mengajar. Catatan harian guru menjadi artefak yang dapat dikaji dan diteliti oleh guru. Dari artefak tersebut dia dapat menelusuri metode, strategi, pendekatan mengajar yang telah diaplikasikannya; dia dapat mengumpulkan data bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dalam menghadapi peserta didik atau masalah kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, dia dapat melakukan perbaikan pemberian pengalaman belajar bedasarkan bukti-bukti pada artefak yang dibuatnya.

Cara kedua, untuk melakukan transformasi, guru dapat mengkaji asumsi dirinya terhadap mengajar sehingga pada akhirnya mengubah cara mengajarnya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menghubungkan metakognitif-nya dengan persepsi-nya. Metakognisi yang dimaksud pada tulisan ini adalah cara guru melihat bagaimana dirinya menjadi pembelajar profesional, dan persepsi adalah bagaimana guru mengidentifikasi perubahan serta menanggapi cara dia melihat dirinya sebagai guru. Cara ini serupa dengan melakukan refleksi sambil tetap mengajar. Secara hati-hati guru mempelajari perkembangan dirinya sebagai guru, kemudian mengidentifikasi evolusi asumsi dirinya mengenai cara mengajarnya dan menghubungkannya dengan perubahan-perubahan pada cara mengajarnya dari waktu ke waktu.

Cara lainnya adalah melalui melihat bagaimana guru lain mengajar. Melalui observasi dan memperhatikan bagaimana rekan guru lainnya memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, cara  pandang dan praktik mengajar guru akan berubah. Serta lewat kajian bagaimana orang lain mendidik, guru dapat melihat kontradiksi antara teori dengan praktik, melihat manajemen kelas, melihat ketidakberhasilan atau keberhasilan suatu metode, dan melihat upaya-upaya praktis persoalan peserta didik yang berbasis-masalah. Cara ini nantinya membantu guru untuk mengapresiasi pentingnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki waktu bereksplorasi, menemukan sendiri cara belajarnya,  dan secara perseorangan mengetahui bagaimana dirinya harus belajar.

Self-study merupakan upaya yang harus dicoba oleh guru agar terjadi transformasi mengajar dan pembaharuan dalam pemberian layanan pendidikan. Upaya self-study manapun yang dilakukan oleh guru, akan menjadi harapan penangkal kritik terhadap kinerja guru yang selama ini dipandang belum optimal.

 

Menangkal Kesulitan Merencanakan Pembelajaran

Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan bagian dari tugas profesional tenaga pendidik. Perencanaan pembelajaran sangat penting dilakukan oleh tenaga pendidik karena pada saat itulah tujuan pembelajaran ditetapkan, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar diurutkan, dan pengukuran keberhasilan penguasaan kompetensi peserta didik diatur.

Untuk menghasilkan sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, para ahli bersepakat bahwa tidak ada format statis yang berlaku disemua tempat dan tidak ada cara yang paling benar untuk membuatnya. Oleh karena tidak adanya kebakuan dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebagian guru menghadapi kesulitan dalam membuatnya. Kesulitan ini mengakibatkan: proses pemberian pengalaman belajar berjalan tanpa menggunakan acuan RPP; menggunakan buku pelajaran sebagai patokan; atau memperlakukan kegiatan belajar-mengajar sebagai  kegiatan rutin yang tidak memerlukan lagi perencanaan.

Di Indonesia, keluh kesah pembuatan RPP dapat diminimalisir karena pemerintah mengeluarkan Permendiknas nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang didalamnya memuat penjelasan mengenai rancangan penyusunan rencana pembelajaran. Dengan adanya Permendiknas ini sebagian besar kesulitan guru dalam melakukan perancangan pembelajaran dapat diatasi. Namun, sebelum melakukan proses menulis RPP, sebaiknya para guru melakukan hal-hal berikut.

Pertama, membaca silabus mata pelajaran yang diampu dengan seksama. Dengan membaca silabus akan diketahui kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar, alokasi waktu yang bisa digunakan, jenis penilaian yang ditagihkan dan sumber belajar yang dapat dipakai.

Kedua, melakukan analisis terhadap silabus yang memuat Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sehingga dapat dipetakan cakupan materi ajar, indikator pencapaian kompetensi yang akan ditetapkan,  jumlah alokasi waktu untuk setiap materi ajar, sebaran pemberian materi per semester, penetapan waktu untuk melakukan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.

Ketiga, membaca Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Permendiknas ini memberikan penjelasan yang rinci mengenai batasan dan peristilahan yang berkaitan dengan perancangan pembelajaran. Telaah dan kajian mendalam terhadap setiap pasalnya dapat menjadi memberikan gambaran gamblang mengenai RPP dan aturan lain terkait pembuatan RPP.

Keempat, menelaah lampiran Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Pada bagian lampiran dijelaskan secara rinci pengertian, konsep, prinsip, lingkup, mekanisme, komponen dan sistematika RPP. Dengan mengacu pada komponen dan sistematika RPP, paling tidak penulisan RPP mendekati setengah selesai.

Kelima, tulislah RPP dengan mengacu kepada komponen dan sistemtika yang ditetapkan. Perhatikan perubahan-perubahan yang membedakannya dengan cara penulisan pada peraturan sebelumnya. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran tidak lagi dicantumkan.

Membuat RPP menjadi keasyikan tersendiri ketika mekanismenya telah diketahui dan sistematikanya telah dikuasai. Diibaratkan ‘pemandu jalan’, RPP membantu tenaga pendidik melaksanakan proses pemberian pengalaman belajar dengan lebih efektif dan efisien. RPP yang telah dibuat dan diaplikasikan untuk memberikan pengalaman belajar merupakan wujud tanggung jawab profesional.  Oleh karenanya diperlukan kerangka pikir dan langkah kerja profesional untuk mewujudkannya.

2. Guru

Guru adalah orang yang luar biasa sekaligus mendapat tempat istimewa. Sebutan Guru menunjukkan tingginya derajat kedudukan dan keilmuan yang dimilikinya. Dalam pandangan global, sebagai contoh, Guru menurut kamus Merriam-Webster termasuk kedalam kata benda yang mengacu pada: 1) a religious teacher and spiritual guide in Hinduism (pembimbing agama atau pembimbing spiritual dalam agama Hindu), 2) a teacher or guide that you trust (pendidik atau pembimbing yang dipercayai), 3) a person who has a lot of experience in or knowledge about a particular subject (orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam/mengenai sebuah keilmulan, 4) a person with knowledge or expertise (orang yang memiliki ilmu atau ahli pada ilmu tertentu).

Definisi Guru yang pertama mengisyaratkan bahwa Guru bukanlah orang biasa-biasa saja. Dia memiliki pengetahuan yang melebihi orang kebanyakan mengenai agama dan spritualisme. Pada definisi ini dikhususkan pada agama Hindu, hal ini disebabkan karena kata Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang kemudian digunakan dalam konteks keagamaan. Dalam agama Hindu, guru memiliki arti yang sangat dalam yaitu one who dispels the darkeness and ignorance atau orang yang membuka tabir kegelapan dan menyingkirkan sikap tidak acuh (Thirumaleshwar, 2015). Sekarang ini, kata Guru diadopsi untuk merujuk pada orang yang membimbing pada cahaya kebenaran dan mengajarkan kebaikan.

Selanjutnya, pada definisi kedua, Guru melebihi dari sekedar manusia. Acuan kata Guru adalah kata benda, oleh karenanya bisa saja Guru adalah gunung, sungai, pohon, atau benda lainnya. Sering kita dengar, ‘berguru kepada gunung, berguru ke padang datar, berguru pada alam. Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa Guru tidak selalu harus manusia. Pada dunia pewayangan, dikisahkan bahwa seorang Raja atau siapa saja yang sedang gundah gulana, menghadapi masalah berat, dia akan pergi naik gunung, dan tidak melakukan kontak dengan dunia luar selama beberapa tahun, kemudian turun gunung, jadilah dia Raja atau seseorang yang adil dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan tempat yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Definisi ketiga, guru adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan banyak pada ilmu tertentu. Dengan kata lain, guru adalah orang yang mumpuni karena pengalaman dan pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang petani-guru adalah orang yang hidupnya dipersembahkan untuk menghasilkan butiran padi yang bernas. Dia akan belajar tanpa henti untuk dapat memproduksi gabah terbaik. Dia akan mencari cara dan upaya agar setiap usahanya mengarah kepada panen yang menguntungkan. Dari seluruh tindakannya, dia bisa berbagi pengalaman bagaimana cara menanam padi yang baik, bagaimana cara mengairi sawah yang benar, bagaimana cara memberikan pupuk yang tepat, bagaimana cara menjaga tanaman padi agar tidak diserang hama, dan bagaimana cara memanen padi serta bagaimana cara menyimpan padi yang aman. Seorang guru Bahasa Inggris, dia akan terus belajar tanpa henti agar memiliki ilmu yang cukup mengenai tata cara mengajarkan Bahasa Inggris, terus menerus mengajar sehingga pengalaman mengajarnya bertambah, sehingga nantinya dirinya dapat berbagi pengalaman dan keilmuan mengenai mengajar Bahasa Inggris.

Definisi keempat, guru adalah seorang ahli atau seorang yang profesional. Sebagai seorang ahli, seorang guru sangat menghindari tindakan malpraktek dalam mengajar. Selain itu, kata ahli menyiratkan bahwa tidak sembarang orang dapat menjadi guru atau tidak bisa seseorang tiba-tiba berdiri di depan peserta didik dan mengajar. Dia harus memiliki keahlian terlebih dahulu. Seorang piawai penganyam tikar dari daun pandan, dia bisa menjadi guru penganyam tikar, karena itulah keahliannya. Dia tidak bisa dipertukarkan untuk mengajar hal lain di luar keahliannya. Jika hal ini dipaksakan, yang terjadi adalah kemunduran, kemerosotan, dan kekacauan.

Dalam pandangan lokal, Guru merupakan orang terpenting dalam budaya Indonesia. Pepatah tua mengatakan ada tiga orang yang harus dihormati, dipatuhi, dan ditinggikan, yaitu 1) Guru,  2) Ratu, dan 3) Wong Atua Karo. Guru menempati urutan pertama karena dialah yang memanusiakan manusia, dan dia pulalah yang menunjukkan bagaiamana cara menjadi manusia. Ratu mengacu kepada pemimpin. Pemimpin harus dipatuhi karena dialah yang mengatur kehidupan manusia. Dan yang terakhir adalah Wong Atua atau orang tua. Mereka harus dipatuhi dan dihormati karena pengorbanan mereka tanpa batas, kasih mereka tanpa pamrih, dan mereka menerima kita-anaknya apa adanya.

Guru atau teacher dalam Bahasa Inggris (dan saya lebih setuju menggunakan kata teacher –ticer- daripada guru) mengemban tanggung jawab besar bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia. Temuan Prof. Alwasilah (2010) bahwa 65% guru di Indonesia tidak profesional tidak harus menjadi was-was dan menduga bahwa sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya. Buruknya wajah pendidikan Indonesia, tidak semuanya karena guru…eh ticer.

Bagaimana seorang guru memandang dirinya dan menentukan definisi bagi profesinya, di kemudian hari akan menentukan guru apa yang diperankannya dan dilakukannya.

Brain, Teacher, and Curriculum

Our mind is like a black box. It is said so as we do not know what is in there. To understand what our brain do, we ask the help of psychologist. Psychologists do not  recognize the work of our brain easily, so they try to do analogy. For example, Pavlov, he tried to see human brain’s work by making experiment on a dog. From his experiment, people then see that there Stimulus-Response relation. Other expert makes experiment on Chimpanzee. The results of those experts open a little understanding on the work of brain.

Then, expert found out that environment plays a vital role for our brain. They said ‘mind is in society”. Mind is conditioned by the environment.  This implicitly acknowledged that each of us has capacity to be what we want as long as we are put in the right environment. In school’s context this means that every student is good seed, teacher becomes a person who nurture the seed. The good seed will not grow or even die if the teacher does not provide good environment for learning.

A professional teacher should cause the students to experience learning. Since the heart of education is learning. To do so, teacher should apply curriculum because any curriculum is product of accomplished mind. Curriculum is developed by innovator who are small in number. Then it will be adopted by early adopters like people who are in charge in education and later used by early majority such as teacher. As the distance from the innovators to teachers are quite long, sometimes the innovator said “quay” and distortion occurs it becomes “key”. Those words are different in meaning and fatal if it happens in the educational world. Teacher may lead the students to a wrong end as distortion had happened.

Anjing Shalat

Dua rumaja guntreng ngobrol.

A: “Njing, geus magrib ning, urang mah rek solat.”

B: “Emang, sia wae nu sok solat Njing, dewek oge osok. Hayu ah urang bareng Njing ka masigit.”

A: “Hayu, saha imamna Njing?”

B: “Didinya we Njing.”

A: “Heg lah Njing. Eh..Njing, rek solat mah kudu wudu heula, hayu Njing urang wudu.”

A ngimamanan solat magrib, aya sababaraha urang nu lain nu gabung milu ngama’mum ka manehna. A solat kalayan khusu, manehna maca surah Al-Fatihah kalayan rineh. Sarengse maca Fatihah, sanggeus ngucapekun walad’doooliiinnn. Ma’mum reang ngajawab,’aaaamiiiiiiin.’

A ngalieuk, pok ngomong, “Anjing Kompak!!!!”

Si B keuheul kacida, apan dina solat mah ulah ngomen. Dina hatena manehna ngagerentes, “ Keun siah mun maca Fatihah dina roka’at kadua, ku aing moal diaminan.”

A nuluykeun raka’at. Sarengse maca Fatihah, manehna rada ngajenghok lantaran taya nu ngaminkeun. Manehna galecok dina hatena, “Keun siah, tadi jempe wae, teu ngaminkeun, ku aing engke mun takbir moal ditarikkeun”.

Solat geus asup kana sujud pangahirna, A cengkat tina sujud, tapi teu nyebut Allohu akbar di tarikkeun sakumaha biasana pikeun ngabejaan pindah gerak solat. A tahiyat ahir dina hatena, terus aweh salam, leos bae indit.

Ari si B jeung ma’mun liana nungguan kode ti imam, tapi teu aya wae. Ahirna B cengkat, bari tumanya, naha bet lila-lila teuing sujud teh. Barang manehna cengkat terus nempo ka hareup, sihoreng si A, imamna, geus teu aya di tempatna. Manehna semu keuheul ngagorowok: “Anjing euweuh supiran…!!!!!!!”

Answer these questions

  1. What is the story about?
  2. What will you do if you are A?
  3. What will you do if you are B?
  4. What lesson you get from the story above?