Posted by: badriah | November 16, 2011

PKG dan PKB- Kinerja Guru

Pengembangan profesi guru ditujukan untuk membentuk guru yang profesional, bermartabat dan sejahtera. Hal ini didasarkan atas kesepakatan perundangan yang diterakan pada Pembukaan UUD, Pasal 20 ayat 1 UUD 45 berhak mengembangkan diri. Pengembangan diri dapat diperoleh salah satunya melalui pendidikan. diharapkan dengan diperolehnya pendidikan dapat terbentuk bangsa yang cerdas. Sehingga kemudian nantinya dapat diperoleh peningkatan kesejahtraan masyarakat yang berkeadilan. Mengacu pada tujuan mulia tadi, maka dibutuhkan guru yang profesional.

Regulasi yang jelas dibutuhkan untuk membingkai guru profesional. Bingkai profesi yang pertama, guru diharapkan memiliki empat kompetensi yaitu pedagogi, sosial, kepribadian dan profesional . dari keempat kompetensi, kompetensi kepribadian dan sosial merupakan kompetensi yang agak sulit dikuasai. Kehadiran MGMP merupakan sarana sosialisasi untuk meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosial.

Guru profesional adalah kunci untuk melaksanakan pendidikan yang berkualitas.  Berdasarkan Permennegpan & RB (Reformasi Birokrasi) No. 16/2009, guru profesional harus memenuhi: 1) berlatar belakang S1, 2) CPNS guru harus mengikuti Program Induksi (1 sampai 2 tahun) dan Pendidikan Pelatihan Pra-Jabatan, 3) Empat jabatan fungsional guru (Pertama, Muda, Madya, dan Utama), 4) beban mengajar guru 24 jam sampai 40 jam tatap muka perminggu atau membimbing 150-250 konseli per tahun, dan 5) Instansi pembina Jabatan Fungsional adalah Kemendiknas, 6) penilaian kinerja guru dilakukan setiap tahun (Formatif dan Sumatif), 7) nilai kinerja dikonversikan kedalam angka kredit yang harus dicapai (125%, 100%, 75%, 50%, 25%), 8) peningkatan karir guru ditetapkan melalui penilaian angka kredit oleh Tim Penilai, 9) jumlah angka kredit yang diperlukan untuk kenaikan jabatan terdiri dari:

a)      Unsur Utama (Pendidikan, PK Guru dan PKB) lebih kurang 90%

b)      Unsur penunjang kurang lebih 10%

Penilaian kinerja guru merupakan penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya. Dilakukan setiap tahun oleh kepala sekolah atau guru yang diserahi tugas untuk memberikan penilaian kinerja guru. Penilaian didasarkan kepada 14 kompetensi bagi guru mata pelajaran, 17 kompetensi bagi BK, atau guru yang mendapatkan tugas tambahan (KS, Wakasek, Kepala Lab).

Hasil PK guru harus menjadi bahan evaluasi diri bagi guru untuk mengembangkan potensi dan krir. Selain itu, dapat menjadi acuan bagi sekolah untuk merencanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). Terakhir, untuk mendi dasar pemberian nilai prestasi kerja guru dalam rangka pengembangan karir guru sesuai dengan permenegpan.

Penilaian formatif berfungsi sebagai bahan untuk penyusunan kompetensi dan perencanaan program PKB tahunan bagi guru. Sedangkan hasil penilaian sumatif digunakan untuk memperikan nilai prestasi kerja guru untuk menghitung perolehan angka kredit guru pada tahun tersebut.

Komponen pedagogi ada 7 kompetensi, kepribadian ada 3 kompetensi, sosial 2 dan profesional 2.

Kompetensi pedagogi mencakup:

  1. Mengenal karakteristik anak didik
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembejalaran yang mendidik
  3. Pengembangan kurikulum
  4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
  5. Memahami dan mengembangakan potensi
  6. Komunikasi dengan peserta didik
  7. Penilaian dan evaluasi

Kompetensi kepribadian (3)

  1. Bertindak sesuai denga norma agama
  2. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
  3. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

Kompetensi sosial

  1. Bersikap inovatif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif
  2. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidikan, orang tua peserta didik dan masyarakat

Kompetensi profesional

  1. Penguasaan materi struktur konsep dan pola pikr keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
  2. Mengembangkan keprofesian melalhui tindakan reflektif

 

Posted by: badriah | October 31, 2011

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

RPP 21 MAKING PAPER

Posted by: badriah | October 29, 2011

Istilah-istilah dalam Pernikahan

Seorang anak SD kelas 3 setibanya pulang dari sekolah, tergesa-gesa sekali menemui ibunya. Terengah-engah dia berkata,”Mah, aku tadi ulangan IPS, tapi ibu gurunya marah-marah’.

“Emang kenapa?” tanya ibunya.

“Mah, tadi tuh soal ulangannya tentang Pernikahan kaya gitu deh, aku bisa jawab, tapi ga taulah.”

“Terus?” tanya ibunya yang ingin tahu apa soal-soal yang dihadapi anaknya disekolah.

“Pertanyaan pertama: Kalau laki-laki punya istri lebih dari satu disebut apa? Jawabnya POLIGAMI, bener kan Mah?” tanya anaknya.

“Bener, kamu memang pinter” puji ibunya.

“Pertanyaan kedua: Kalau perempuan punya suami lebih dari satu disebut apa? jawabnya POLIANDRI, ya kan Mah?”

“Iya, kamu bener lagi”

“Pertanyaan terakhir: Kalau suami yang istrinya satu atau istri yang suaminya satu, disebut apa?”

“Kamu jawab apa Nak?” ibunya merasa penasaran.

“Aku jawab: MONOTON”

“Kenapa kamu jawab gitu Nak?” ibunya heran campur bingung.

“Itu kan kata si Papa, istri satu mah monoton!”.

Posted by: badriah | October 28, 2011

Puisi: pintu mengenal sastra

Saya lempeng-lempeng aja dalam urusan menggunakan  bahasa. Ketika orang bicara tentang Sastra, saya tidak merasa tertarik. Saya pikir hasil karya sastra dalam bentuk Puisi, hanyalah wadah dan pelarian bagi pendukung-pendukung cengengisme dan penikmat sentimental. Maka tak heran, selama 45 tahun saya membawa kepala ini, tak pernah seharipun saya berikan kesempatan kepada kepala saya untuk meikmati puisi. Selain bahasanya susah dimengerti, keindahannya pun tidak dapat dengan mudah dapat diraih. Dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa puisi bukan bagian dari hidup saya.

                Keindahan berbahasa tidak sempat saya raih mungkin karena saya dibesarkan pada lingkungan maskulin, dominan laki-laki yang katanya lebih banyak mengutamakan logika ketimbang perasaan (feeling). Berangkat dari keluarga yang tidak Nyastra, membuat saya sangat takut ketika saya ditawari ‘menikmati puisi’. Puisi dengan berbagai hidden meaning, awkward lexicon, manalah saya mampu menikmati sesuatu yang tidak saya kenal.

                Selain hal di atas, hal yang menjauhkan saya dari puisi adalah sistem pengajaran puisi itu sendiri. Pada saat puisi atau karya sastra diperkenalkan lewat bangku formal, saya harus mengingat-ngingat nama, tahun, jenis dan ketegorisasi-kategorisasi yang saya tak paham. Keindahan puisi dan karya sastranya itu sendiri hampir tidak pernah hadir di ruang kelas.

                Tetapi, kondisi berbeda menimpa saya saat pertama disuguhi “Perjamuan” karya Agus S. Sarjono (2002) yang dibacakan oleh Doktor BM. Puisi dan ‘puisi yang dibacakan’ membuat saya terkesima dan terkaget-kaget. Kok bisa bahasa sehari-hari (ordinary sentence) membuat saya ternganga. Sekompleks itukah makna yang bisa dibawa Puisi tiga babak ini? Coba kita mulai dengan penggalan Puisi #1

Dan kumulai semuanya dengan hatiku

Kupetik padi dan sayuran terbaik

dari kebun jiwaku. Kupasak sepenuh rindu

sepenuh mesra hingga mengepul segala salam

dalam darahbatinku.

….

                Saya tidak bisa memaknai secara wor-per-word. Padi dan sayuran yang berbeda tentunya, jika mereka bisa dipetik dari kebun jiwa. Dan dimasak dengan rindu, dengan mesra dengan salam. Hasilnya pastilah bukan makanan biasa. Maka pemaknaan puisi pun tidak bisa dengan cara ‘biasa-biasa’ saja.

                Berangkat dari kejahiliahan saya pada Puisi, maka sayapun dengan marah membeli buku-buku puisi berbahasa Indonesia dan mencoba membacanya. Hasilnya, masih tetap confussion/ kebingungan. Saya punya anggapan jika saya membaca puisi-puisi berbahasa Sunda kebingungan akan berakhir. Maka dibelilah buku-buku puisi berbahasa Sunda. Hasilnya? Lebih meyedihkan. Saya semakin tidak mengerti apa yang disampaikan oleh si penulis. Sayapun menjadi sangat frustasi. Dalam kefrustasian, saya ajak anak saya untuk sekedar mendengarkan saya membacakan puisi-puisi yang ditulis Amir Hamzah. Entah mengerti atau tidak, anak saya tertarik dengan puisi berjudul “Batu Belah” dan dia akan meminta saya untuk membacakannya puisi sebelum dia tidur. Mungkin rima Rang…rang..kup yang ditulis berulang-ulang membuat dia tertarik dengan permainan kesamaan bunyi.

                Saya merasakan kerisauan yang sangat ketika membaca puisi. Otak saya berputar dan mencoba berpikir keras harus kaya apa bacanya agar saya bisa mendapatkan content/isi puisinya. Saya tahu persis huruf-huruf yang dipakai pada setiap lariknya, tetapi saya tidak tergolong orang eksperimental atau oponturir untuk mencoba terus membaca tanpa harus sambil mikir. Padahal jika saya baca saja terus, sekalipun tidak paham, bukan berarti saya harus menghindari dan  berhenti membaca. Rasa kagok secara estetik yang saya rasakan atau aestetic anonimy yang membuat ssya gamang merupakan cognitive disequilibrium yang normal. Ketidakseimbangan atau guncangan secara kognitif yang dialami saya sebetulnya sangat normal karena saya tidak tahu credo pengarangnya. Seperti Sutarji Calsoem Bachri (SCB) misalnya, dia mengajukan credo bahwa ‘kata’ harus terbebas dari beban gramatika dan moralitas. Sehingga kata dapat menciptakan dirinya sendiri. Bagi SCB  kata pertama adalah Mantra. Maka tak heran jika puisinya memiliki daya magis yang kental.

                Untuk menikmati puisi, sesungguhnya kita tidak harus tahu setiap kata dan kalimat yang digunakan pada puisi itu. Untuk ‘happy’ dengan puisi kita tidak harus tahu kenapa puisi itu bikin hepi. Bayangkan betapa repotnya jika kita harus punya alasan untuk setiap hal. Bahasa puisi, sekalipun aneh, tetap saja punya daya tarik dan keindahan tersendiri. Sekalipun ada yang beranggapan bahwa keindahan adalah kompleksitas baik bentuk atau maknanya. Makanya ada anggapan bahwa harus ada pergerseran dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa extraordinary ketika dia sedang menjadi puisi. Sebagai tambahan ketika dibaca puisi sederhanapun dapat menghasilkan multi interpretasi. Plurality of meaning or interpretation creates the beauty itself. Tidak usahlah kita memikirkan kenapa dia menjadi indah. Membaca sebuah puisi tidak harus tahu maknanya. Nikmati saja, toh setiap kali dibaca, puisi itu akan melahirkan Ghost text-nya sendiri.

                Jika saya harus mengatakan apa yang sesungguhnya yang terjadi setelah bersinggungan dengan karya sastra selama enam minggu. Pertama, secara sikap/attitude saya memiliki pergeseran sikap terhadap puisi dan sastra pada umumnya. Sebelumnya saya sangat pesimis dan tidak berminat sedikitpun untuk mengkaji dan membaca puisi. Saya berkeyakinan, sekalipun saya menyediakan waktu untuk baca puisi, maka hanya akan berakhir frustasi. Karena saya telah sangat tahu bahwa saya memang tidak tahu bagaimana cara membaca puisi. Saking tidak tahunya cara membaca puisi, saya sempat terlongo ketika ada seorang anak SMA membaca puisi seperti orang kehilangan rohnya. Dengan suara melengking, kaki dihentakkan, mata melolot, dia memegang kertas print berisi puisi tangannya bergetar mungkin dia merasa sangat berat menahan bobot selembar kertas A4. Kenapa harus seperti itu? Apa baca puisi harus seheboh itu? Saya jadi merasa takut untuk belajar membaca puisi, karena saya tidak bisa berteriak ketika hendak menyampaikan message sebuah puisi.

                Sekarang saya mulai melihat puisi sebagai piece of art, dan itu tulus. Puisi-puisi hebat karya orang-orang hebat seperti Rendra, Asep Zam-Zam Noor, SCB, dan sederet nama besar lainnya yang diperkenalkan Doktor BM melalui karya-karyanya membuat saya tercerabut dari keyakinan awal mengenai puisi. Puisi dapat saya rasakan, nikmati, dalami, bedah, interpretasi, sehingga meyakinkan saya bahwa puisi bukan ekslusifisme. Mungkin ada yang mengatakan ahwa puisi itu personal, dalam arti hanya beberapa orang saja yang dapat menikmatinya. Sama seperti karya lukisan. Misalnya untuk lukisan abstrak, hanya orang yang tahu nikmatnya lukisan abstrak saja yang mampu menggembar gemborkan bahwa lukisan itu bagus dan indah. Sementara bagi layman/ orang awam, lukisan itu terlalu mahal untuk dihargai 200 juta. Saya pun termasuk layman, tapi untuk puisi, saya sedikit bisa mengintip keindahannya dari sudut pandang keawaman saya tentunya. Literature makes us more human, bolehlah saya berkomentar seperti itu.

                Masih secara sikap, sebagai pembaca puisi, kadang saya bersikap pasrah terhadap apapun yang ditawarkan oleh puisi itu. Saya membiarkan emosi, pikiran, perasaan, bahkan keyakinan saya tercabik-cabik.  Saya menjadi makhluk mati kreatif dan menerima apapun yang puisi sodorkan. Tetapi, pada kondisi tertentu, saya memberontak pada puisi yang saya baca. Sikap resistence saya karena puisi itu sendiri menggiring saya untuk berpikir dan memberikan ruang bagi saya untuk menafsirkannya secara personal. Apalagi jika puisinya seolah directly speak to me. Ada beberapa puisi yang sepertinya berbicara langsung pada saya dan mengundang saya untuk bereaksi.

                Selain secara sikap, hal kedua yang saya rasakan adalah secara pengetahuan/ knowledge, saya pun beringsut. Saya mulai bisa mengerti bagaimana cara sebuah puisi dibacakan membuat puisi menjadi lebih indah dari hanya sekedar tulisan hitam di atas putih. Secara akademis, beberapa teori mulai menyesuaikan pada file-file yang telah ada dalam kepala saya.  

                Seharusnya saya bisa menjelaskan bagaimana skill dan habit of mind juga ikut berubah setelah enam minggu menggauli puisi. Tapi untuk saat ini, saya hanya bisa menyebutkan sebagaian saja.

Posted by: badriah | October 27, 2011

Experiencing Literary Work with DR. BM

Perjamuan is my first acquaintance with poem. It was a shocked-experience to me. I questioned myself how a writer could use a language in such an effective and unpredictable way in terms of offering meaning of content. The lexicons the writer employed tends to be ordinary words, but the meaning behind those words brings me to a world where I almost never imagine before. The poet succeeds in delivering his theme to the audience in such a beautiful way and leaves a deep impression on the audience mind like me.

In my point of view, choice of words is not the only power of a poem to astonish its reader but also its capability to be interpreted in various ways.The experience offered was interpreting Perjamuan classically. Quietly, I struggled to interpret what Perjamuan is when it was being read by DR. BM. My interpretation went wrong. Interpreting word-by-word sent me to a denotative meaning whereas the poem itself employed metaphors. In interpreting a poem, there is what so called personal point of view interpretation and communal interpretation. Personal interpretation derives from individual understanding on a poem. This kind of interpretation may vary from one person to another. One’s past literary experiences or prior knowledge influence the understanding and response. As an example, I kept my mouth shut and a little scared when Perjamuan was read. I have my own frame and certain expectation on poem. In other words, I had a firm belief that poem is not my world and enjoy a poem is a kind of impossible mission to me. Interpreting Perjamuan corners me to the fact that a poem speaks more than its words. I realized that “close reading” is a start to understand a poem, besides knowing the rule of significance, character of the writing, and coherence of metaphor. In metaphor, Perjamuan means something else, not a kind of serving food but somewhat like screaming of dissatisfaction soul. Meanwhile, communal interpretation means that a poem has a cultural bound. The implication of this can mean that teach literature can not be given one on one. Sharing is the right model. Each of the individual offers their interpretation based on their personal life experiences as a part of a community. Through sharing, the greatness of a poet in his thought can be felt. His ability to make virtual reality or imaginer reality sounds real can be traced by listening what others said and what joy they had on the poem.

For a novice and almost poem-allergic person like me, being given a task to experience on how to select poem would look like was a new big leap for my understanding on poems. Jump from one poem to another in a binding book and a digital book had confused me. Questions arouse on my head, what these poems are trying to say and why the writer made them. Select one poem from hundreds of poems was a mourning task to me. I decided to choose Indonesian poem, even though it contradict with my own first intention. I chose Sundanese poem. I thought it would work for me since it uses my mother tongue then I can understand it easier. But alas, Sundanese poem looked and structured too weird for me and I could not even see them as a great work of art. On my desperate, I picked an Indonesian poem Jejak di Tangga. I can say that this poem seem to relate to my emotion. After I re-type, re-read, and read it aloud. This poem represents my loneliness feeling, my choice to enjoy my solitude, and my isolation. When the poet wrote: Sudah berapa lamakah musim ini memenjarakanu, wahai rumah yang selalu menutup pintu? This stanza is like directly ask my hidden or cloak feeling. This stanza represents a good poem since the message is framed perfectly. It applies grammatically acceptable and correct sentence as its syntactic reference. As I can digest the message then the aesthetic experience can be gained. From this point, it can be said that a good poet can advantage from a simplest thing and he lifts it into a beautiful thing. Question is our everyday clause. But a good writer turn everyday question into ‘another sound’ as he takes a great linguistic and put his imagination in it. Besides, the nouns rumah, pintu (house, door) used as metaphor suggesting that the writer emphasizes the closeness. Rumah represents the familiarity and emotional bound between the occupant and the building itself. Further, I considered that Jejak di tangga uses simple-understandable sentences.

I guess simplicity works for me. A layperson like me who does not have a detailed knowledge on poem, consider a complicated skill demanding poem needs time to enjoy it. Even though all the writers use the same raw material for their writing, which is language. But the style of them to create poem is not the same. It depends on when, where, and how he lives. These differences causes the poems have their own strength. They are called good poems if they at least have three characteristics. First, a good poem makes good prose or makes good essay. Second, its explication can return to the source text, and the last, good interpretation is coherence or lack of contradiction. Another experience provided was theorizing a literary work from inside out. The writer of “The One” is DR. BM. He is a man who has blood and flesh, and ID card, so that he is called the biological creature. Meanwhile, the images creatures created by the writer or I poetical is another thing. In “The One”, there are He, me and you. When ‘He’ is interpreted as God, it causes a question arise whether it is a responsible interpretation. ‘He’ is marked by the capital letter. Can this mean that the writer has a God. To theorize this, we can try by make a prose from a poem. Good poem make good essay. ‘The One’ can make good essay or good prose, so it is a good poem. And by using I poetical, “The One” offered new understanding on the difference between the writer and the image created by the writer. The last, the unforgettable and unexplainable mixture of feeling and experience was when I was being challenged to translate “The One” into Bahasa Indonesia. In my point of view, to convey meaning or meanings of “The One”-as a given linguistic-discourse- into Bahasa demands high understanding on study of meaning or semantics. The shift from dictionary meaning to contextual meaning causes meaning-gain and meaning-loss. I found out it is very difficult to obtain equivalent meaning especially when the culture of English and Bahasa Indonesia are different. Even though I could catch the conceptual meaning and the logical meaning of a given word, but that type of meaning does not come as it was in the translation. I can say meaning-loss occurred. An effort to find lexical equivalent was easy as dictionary provides its denotative meaning, but became worthless and did not help in translating The One into Bahasa Indonesia.

 I can conclude that experiencing literary work with DR. BM is a great experience and cause me to take me a bundle of joy. Even though feeling afraid is still around me as literary work is new to me but I believe DR. BM can bring a different atmosphere and condense a new insight on literary work for me. Thank you DR. BM.

Posted by: badriah | October 3, 2011

SEPATU PERTAMAKU

Kalau saja pernah tahu gimana rasanya memungut durian runtuh, maka saya dapat mengatakan bahwa rasanya seperti mendapat durian runtuh ketika Tuhan dengan kehendakNya memberikan saya mimpi bertemu teman semasa SD.

Dia, Harir. Teman berpostur paling tinggi diantara teman sekelas. Dia juga ornag paling pemalu (untuk ukuran laki-laki) ketika saya isengin. Dia juga pemilik rumah yang paling jauh, dan dia berangkat dari rumahnya jam 5.30 pagi untuk bisa tiba di sekolah jam 6.45. Berjalan kaki selama 1 jam 05 menit,  sama maknanya dengan menempuh perjalanan 15 kilometer dengan jalan kaki. Pada saat itu usia saya 8 atau 9 tahun, saya telah mampu menempuh jarak 5 kilometer dengan jalan kaki selama 20 menitan.

Untuk berangkat sekolah, biasanya saling jemput. Saya (juga teman-teman semuanya) bertelanjang kaki manapaki jalan tanah menuju sekolah. Pada saat itu tidak ada satu orang pun yang bersepatu ke sekolah. Kaki bersendal jepitpun, rasanya sangat keren. Saya masih ingat, satu-satunya anak sekolah yang bersepatu adalah anaknya Ceu Maskoyah yang baru pindah dari Sukabumi. Dia memakai sepatu kulit warna hitam. Dengan sedikit rasa heran, saya menatapi sepatu yang dilengkapi dengan kaus kaki putih. Dalam benak saya berkata ‘kenapa dia pake yang begituan’. Mungkin cetusan pikiran kanak-kanak saya  sangat enak untuk ditertawakan. Tapi ya begitulah, saya tidak tahu kalau kaki anak orang kota bersepatu jika ke sekolah.

Dalam mimpi, saya seperti dibawa ke masa kanak-kanak. Saya berjalan dipinggir selokan, menapaki bibir-bibir jurang untuk ke rumah Harir. Cileutak nama kampung tempat dia tinggal, sangatlah jauh. Jika saya tempuh sekarang, saya tidak akan mampu lagi. Saya yakin itu, karena sekarang, untuk ke warung saja, yang jaraknya kurang dari 600 meter, saya pake motor. Tak heran maka saya tidak sehat. Kaki saya terlalu dimanjakan.

Di dalam mimpi, sepertinya Harir sulit untuk saya temui. Ternyata, dia sakit cacar. Saya berbicara dengannya, entahlah apa yang saya katakan padanya, tak jelas dan tak ingat. Yang saya ingat ketika saya akan meninggalkannya, saya jambak rambutnya. Saya tidak melihat kemarahan di mukanya. Mungkin jambakan saya membuat dia tahu jika sebetulnya saya teman kecil yang baik. Iseng saya tujuannya membuat agar dia tahu jika saya manusia biasa yang bisa diajak bercanda. Mungkin…

Kembali ke sepatu. Ketika saya melihat ada anak pake sepatu, pikiran saya menerawang jauh, bagaimana rasanya jika bersepatu. Saya punya sandal jepit dari karet pada saat itu. Dengan bersendal ria saja ke sekolah pada jaman itu, secara ekonomi, sudah mampu memisahkan saya dengan teman-teman lain. Apakah keluarga saya miskin? Tidak. Ayah orang terpandang, semua orang kenal ayah saya. Katanya ketenaran ayah karena terwariskan dari Kakek. Masih katanya lagi, kakek orang yang berpengaruh. Cara dia berhadapan dengan Belanda dan pemerintah membuatnya dianggap sebagai ‘tetua’.  Kondisi ini membuat ayah ikut menikmati ‘kharisma warisan’. Atau mungkin saya salah, ayah saya memang memiliki kharisma dan pengaruh bagi wilayah tempat saya tinggal karena memang dia selalu punya ide-ide cemerlang dan punya solusi bersifat win-win solution.

Selain bersendal jepit, untuk membawa buku, saya memakai kantong keresek. Ketika itu, di sekolahku, sayalah orang pertama yang punya buku tulis. Merknya “Letjes” dengan jilid warna ungu tua. Kertas yang terbuat dari jerami, serat-seratnya nyata dan kasar (mungkin saya salah  dalam kajian mengenai bahan untuk membuat buku). Teman-teman hanya memiliki satu atau dua buku saja untuk digunakan sepanjang tahun. Untuk melihat betapa saya lebih beruntung dari teman sekelas lainnya, selain punya buku tulis, saya pun punya buku bacaan, namanya si Kuncung. Majalah yang diperoleh dari sekolah. Saya bisa meminjam dan membawanya ke rumah, Kharisma ayah sayalah yang membuat saya punya ijin illegal untuk membawa buku sekolah ke rumah. Apa yang saya baca saat itu, ada satu yang masih saya ingat dengan baik. Cita-cita. Sebuah artikel menuliskan tentang tugas dan tanggung jawab seorang duta besar. Maka, itulah pertama kalinya saya punya cita-cita. Maka saya menetapkan cita-cita ‘aku ingin jadi duta besar’. Jaman sekarang, seorang anak kecil ketika ditanya cita-cita, dengan mudahnya menjawab ‘aku ingin jadi dokter, insinyur, presiden, mentri’. Saat itu saya tidak tahu, cita-cita itu apa. Maka saya tidak punya cita-cita, sampai saya baca di majalah bahwa seseorang harus punya cita-cita agar punya sesuatu yang dikejar dalam hidupnya. Saya membayangkan, menjadi duta besar pekerjaan yang sangat enak. Dia bisa mengunjungi setiap negara dan diberi ongkos oleh negara. Dan pasti punya sepatu!

Duta besar pasti bersepatu. Duta besar pasti naik mobil. Saat itu saya tidak tahu bagaimana rasanya naik mobil. Melihatnya pun hanya dari gambar. Hati saya berkata ‘pasti teman-teman akan memuji dan mengagumi saya jika saya memakai sepatu’. Keinginan punya sepatu sangat mengganggu saya. Maka saya menemui Ibu. Saya katakan jika saya ingin punya sepatu untuk bersekolah. Saya juga ingin punya kaus kaki putih. Saya membayangkan bersepatu dan berkaus kaki akan mengakibatkan saya menjadi anak kota. Ibu saya hanya diam. Beberapa hari kemudian Ibu saya berkata ‘nanti sepatunya Ibu belikan, sekarang lagi di pesan sama Haji Nurohman’. Siapa Haji Nurohman? Dia adalah satu-satunya pemilik warung yang sesekali pergi ke kota untuk berbelanja. Dia berjualan minyak tanah, payung, garpu, cangkul, dan benda-benda lainnya yang saya tidak ingat lagi. Kalau tidak salah, dia tidak menjual minyak goreng. Saat itu, minyak goreng dibuat sendiri dari kelapa parut dan digodok diatas api kayu bakar. Saya sanyat menyukai residu minyak kelapa, namanya Galendo, rasanya gurih dan punya bau khas.  Dia juga tidak menjual permen. Kita mempunyai permen buatan sendiri. Gulali. Gulali terbuat dari gula yang dipulut, dan jadilah permen. Untuk menikmati Gulali, tidak semudah menikmati permen jaman sekarang dimana warung berjejer kurang dari 5 meter dari satu warung ke warung lainnya. Gulali hanya dijual di pinggir madrasah tempat ibu-ibu dan anak gadis melakukan pengajian Mingguan. Mingguan adalah kegiatan pengajian rutin yang dilakukan oleh masyarakat untuk belajar agama. Cara mengikuti Mingguan sangatlah mudah. Hanya duduk di dalam Madrasah (ruangan di sebelah mesjid, biasanya digunakan untuk mengajar para santri mengaji), kita hanya wajib diam, dan diam, dan diam, mendengarkan Kyai berbicara sendiri. Kita sebagai mustami (pendengar ceramah) Tidak boleh bertanya, tidak boleh ngobrol, tidak boleh lalu lalang berjalan, tidak boleh ngapa-ngapain. Hanya duduk dan diam. Setelah Kyai selesai bicara, barulah hak kita sebagai manusia dapat kita peroleh kembali. Kita boleh bertegur sapa dengan orang di sebelah kita, boleh membeli Gulali. Tetapi masih ada satu hal yang masih tidak boleh dilakukan, bertanya. Kita tidak boleh bertanya kepada Kyai jika apa yang diajarkannya tidka kita pahami. Terima saja, dan setelah itu pulang. Kalau saja iseng kita nanya salah satu mustami begini ‘tadi, pak Kyai bicara apa, apa pesan religius yang dititipkannya’. Maka kita akan tercengang. Mereka para mustami yang duduk bersimpuh itu akan mengatakan ‘ya itu, pokoknya kita ga boleh buat dosa’. Selesai.

Sebulan setelah Ibu mengabarkan saya akan dibelikan sepatu. Datanglah hari bersejarah itu. Ibu saya sepulang dari warung Haji Nurohman, selain membawa minak tanah, beliau menunjukkan sebuah kotak, dan disuruhnya saya membukanya. Dan isinya, sepasang sepatu!! Saya gembira bukan kepalang. Bergetar tangan kurus kecil saya mengeluarkan sepatu dari kotaknya. Warnanya putih, terbuat dari kain belacu (mungkin). Ada talinya berwarna putih. Bawahnya terbuat dari karet, putih juga. Sepatu putih. Saya coba pasangkan pada kaki. Mematut-matut diri sendiri dengan mencoba berjalan di atas papan lantai rumah. Terdengar papan berdecit ketika kaki saya bergerak. Decit suara papan terdengar indah. Suaranya terasa beda karena di kaki saya ada sepatunya. Sepatu yang akan dipuji anak sekampung, sepatu yang akan diraba-raba anak sekampung. Saya yakin, saya akan dikerumuni dan ditanya dari mana saya punya sepatu. Saya akan ditanya, bagaimana rasanya memakai sepatu. Saya bersiap dengan segala kemeriahan yang akan menghampiri. Saya berkata dalam hati ‘tak satupun akan saya biarkan mencoba memakai sepatu ini’.

Esok harinya, dengan sumringah, saya bangun pagi, mandi. Hari itu berangkat sekolah terasa sangat istimewa. Saya punya sepatu dan kaus kaki. Mula-mula saya pakai kaus kaki. Terasa aneh ketika kain kaus kaki menyentuh kulit kaki. Kaki terasa dibungkus sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Sedikit geli, kaki terasa diikat, jari-jarinya tidak bebas bergerak. Saya berkata pada diri sendiri ‘emang kalo pake kaus kaki mah, begini rasanya, kaki jadi agak aneh, tapi itu kan bagian dari usaha dan gaya supaya bisa mirip anak Ceu Murkoyah-anak kota’. Saya pasangkan kaus kaki pada kaki satunya lagi. Sambil duduk saya tatap kaki berkaus kaki putih. Ada keganjilan dalam pikiran saya. Saya merasa lucu ketika melihat kaki berkaus. Apa kerennya kaki berkaus? Kenapa orang kota sepertinya ‘enak’ berkaus kaki? Apa bangganya berkaus kaki? Kenapa orang kota sepertinya tak mau lepas dari kaus kaki? Pikiran kampungan saya memunculkan banyak tanya.

Sepatu putih saya pakai. Karena saya berkaus kaki, sepatu terasa lebih sempit. Saya berjinjit, kembali papan rumah berderit. Ah… sepatu ini memang luar biasa. Dengan rasa bangga, saya keluar rumah. Hati-hati sekali saya menginjakkan sepatu di atas tanah. Saya khawatir sepatunya jadi kotor. Ternyata berjalan dengan menggunakan sepatu, susah. Saya susah memilih tanah yang tidak akan membuat sepatu saya kotor. Kekhawatiran saya makin meninggi ketika saya harus melewati pematang sawah. Lumpur basah menutupi permukaan pematang sawah. Itu artinya sepatu putih akan berubah hitam karena menyentuh lumpur setengah kering di atas pematang sawah yagn HARUS saya injak. Saya terlalu khawatir sepatunya jadi kotor. Keputusan terbaik saya adalah sepatunya harus dibuka. Akhirnya sepatu saya buka, kembali saya berjalan dengan bertelanjang kaki, menapaki setiap jengkal pematang sawah. Sementara sepatu kebanggaan, bertengger di pundak. Tali-talinya saya ikatkan supaya dia bisa saya pasangkan di pundak. Bau karet menebar menutupi hidung. Kesegaran hawa pedesaan tersingkir. Ternyata sepatu kota itu bau.

Setiba di jalan besar. Mungkin jaman sekarang mah jalan raya. Saya duduk di pinggir jalan. Dan saya cuci kaki saya dengan air selokan. Setelah kaki kering, saya pasangkan kaus kaki. Kembali rasa geli itu muncul lagi. Saya usahakan bisa menyesuaikan kaki (diri) dengan rasa baru ‘kaki berkaus’. Saya pasangkan kembali sepatu barunya. Tak lama setelah itu teman-teman satu persatu berdatangan. Dan saya benar, saya dikerumuni. Sepatu saya diusap-usap, dipegang-pegang, mereka semuanya kagum. Saya merasa sederajat lebih tinggi dari teman-teman saya. Saya berdiri, dan selangkah demi selangkah saya menginjakkan kaki ke tanah jalan. Terasa sangat kaku. Saya berjalan paling depan. Teman-teman mengikuti saya dari belakang. Seolah mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana moment setiap saat telapak sepatu karet itu menyentuh tanah.

Berjalan dengan memakai sepatu dengan jarak tempuh tiga kilometer untuk pertama kali sangatlah sulit untuk dilupakan. Kilometer pertama, iring-iringan di belakang saya tidak lebih dari 8 anak. Mereka kehabisan kata-kata memuji betapa enaknya berjalan memakai sepatu. Mereka bilang, kaki akan aman dari tahi kerbau; kaki tidak akan tertusuk duri, kaki akan jadi lepas dari jebrag, dan hal-hal memalukan lainnya. Sekarang saya merasa dua derajat lebih tinggi dari teman-teman.

Sebenarnya sejak pertama sepatu itu dipakai, kaki sudah merasa kaku dan canggung. Tapi karena atas nama keren dan gengsi jika teman-teman tahu jika saya tidak pandai bersepatu, saya berjalan seolah-olah memakai sepatu merupakan hal terbaik dalam hidup anak-anak. Tetapi mulai kilometer kedua, bagian belakang dan ujung-ujung jari saya terasa nyeri. Saya tahan saja. Saya katakan pada diri saya ‘kalo pake sepatu mah sakit, tenang saja, nanti juga reda sakitnya’. Rupanya bagian kaki saya lecet. Karena lecet otomatis gaya berjalan saya jadi rada ‘aneh’. Teman-teman menganggap itu ‘gaya keren’ kalau berjalan pakai sepatu. Mereka mengikuti gaya saya berjalan, seolah ingin ikut sedikit menikmati indahnya dan nikmatnya bersepatu. Iring-iringan mulai agak panjang ketika saya akan tiba di sekolah. Semua anak memandang saya. Mereka memusatkan pandangan pada kaki saya. Aduh sepatu putih ini ternyata punya daya pesona luar biasa. Tapi, sakitnya pun luar biasa. Saya merasakan komplikasi antara sakit menahan lecet dan bangga memakai sepatu.

Seharian saya memakai sepatu. Kaki terasa pegal, gerah dan perasaan-perasaan lain. Saya tidak menghiraukan segala kekacauan di kaki, saya utamakan keren diatas segalanya. Saya mulai merasa gatal dan panas. Tapi saya tidak berani membuka sepatu karena khawatir ditanya kenapa sepatunya dibuka. Hari itu pada saat beristirahat, saya tidak ikut main petak umpet, tidak juga ikut main ‘loncat tinggi’, tidak main apapun yang melibatkan gerak kaki. Saya hanya main “bekles”, mainan anak perempuan yang tidak begitu saya suka karena tantangnnya seolah sama.  Saya takut kalau ketahuan saya tidak bisa berjalan karena kakinya lecet. Saya berusaha senyum ketika anak-anak lain mengagumi sepatu saya.

Waktu pulangpun tiba. Gawat. Saya harus berjalan tiga kilometer menuju rumah. Saya trauma jika harus berjalan didepan dan teman-teman berjalan dibelakang saya. Akan seperti apa langkah saya nanti. Saya cari akal agar tidak pulang bersama teman-teman. Saya katakan pada teman-teman jika saya harus ke rumah kakak saya dulu jadi tidak pulang bersama-sama. Saya menunggu beberapa saat sampai semua teman saya pulang. Setelah yakin tidak satu orangpun tertinggal, saya buka sepatunya. Kebebasan rasanya kembali ke dalam kehidupan saya. Angin semilir terasa sangat nyaman menyentuh kaki. Sakit di kaki saya hampir hilang. Gatal juga tidak ada. Saya mengutuki diri saya sendiri. Keren itu tidak enak. Apa yang dipakai orang lain belum tentu pas dipakai saya.  Saya lihat kaki saya memerah karena terberangus sepatu.

Saya pulang. Bertelanjang kaki. Tuhan telah menciptakan kaki dengan segala kekuatannya, tergantung pada bagaimana cara kita melatihnya. Bagi saya, anak kampung yang terbiasa bertelanjang kaki, memakai sepatu adalah siksaan. Semenjak saat itu, saya tidak pernah lagi merajuk ingin dibelikan sepatu. Cukuplah satu sepatu untuk selama saya sekolah di SD.

Posted by: badriah | September 30, 2011

PHOBIA SEBAGAI HIBURAN

Sekitar pertengahan bulan September 2011, tanpa sengaja saya melihat tayangan teve swasta. Secara harfiah, saya menebak tujuan dari acara yang dipandu presenter laki-laki (tapi dengan gaya bicara dan pakaian ala wanita) itu untuk menghibur. Siapa yang hendak dia hibur, mungkin bukan manusia. Sebab jika dia menganggap acara yang dipandunya adalah hiburan, tidak bisa diterima kayanya oleh lapisan sosial masyarakat manapun. Bagi anak-anak, jelas itu bukan acara yang memberikan pengajaran nilai, norma ataupun etika. Tak ada yang dapat diambil ‘pelajaran’ dari acara yang lumayan lama ditayangkannya. Bagi remaja, saya yakin, remaja yang jahilpun tidak akan meniru dan menganggap program ini lucu. Bagi orang tua, seperti saya. Wah, saya yang tidak paham dengan gaya entertainment masa kini, merasa tayangan ini tidak punya identitas.

Adalah sepasang suami istri (saya anggap begitu saja. Supaya tidak jadi dugaan negatif atas intimacy gaya artis. Karena kalau bukan suami istri tidak mungkin si lelaki berlagak begitu tanpa ada rasa risih dengan si perempuannya) yang diajak jalan-jalan oleh presenter. Si presenter dengan berhaha hihi, membawa crew menyorot suami-istri tadi pada sebuah tempat parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil, tiba-tiba ada pocong jejadian berdiri dibelakang si lelaki (tanpa sepengatahuan si lelaki, pocong itu telah berdiri dibelakangnya). Barangkali dalam dugaan saya, si lelaki amat takut dengan pocong. Sedangkan si perempuan amat phobia dengan ular. Entah apa yang ada dalam pikiran si presenter. Dia dengan entengnya membawa lelaki itu face to face dengan pocong jejadian. Pertemuan antara si lelaki  dengan pocong jejadian ini amat memilukan hati saya. Si lelaki sangat kaget, dan takut. Ketakutannya nyata terlihat dan tertangkap kamera. Anehnya si presenter tambah keras berhaha hihi, apakah dia senang melihat si lelaki yang meringis sedang berjuang melawan takutnya. Si lelaki kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya dari takut. Satu-satunya cara yang mampu dia lakukan hanya berkata, “suda, sudah, sudah,’ dan dia menutup mata. Pocongnya sangat agresif, dia mengahiskan segala gaya untuk membuat si lelaki takut (padahal semenjak awal, sudah jelas lelaki itu ketakutan). Tontonan apa ini? Apakah takut merupakan hal lucu? Apakah kita tidak boleh takut? Apakah dengan memiliki rasa takut seorang lelaki menjadi banci?

Belum lagi kekagetan saya lulus, tiba-tiba si perempuan disuruh membuka semacam tas, dan dari dalam tas itu muncul semacam ular. Si perempuan reflek meloncat, dan lari sekencang-kencangnya. Sementara itu, si presenter tambah keras berhaha hihi. Dia tertawa untuk apa? Sepasang suami-istri menjadi korban si presenter. Dengan tegas sipresenter menyebut mereka “korban”. Saya bersetuju dengan sebutan ‘korban’, karena memang benar suami-istri ini korban kebodohan media massa yang didalangi presenter.

Sebetulnya apa sih Phobia?  Phobia dapat dikatakan sebagai rasa takut yang sangat terhadap sesuatu akibat dorongan emosi kita. Apakah rasa takut atau phobia merupakan sesuatu yang faktual atau nyata? Jawabannya ya, walaupun tentu saja faktualnya sebuah phobia tidak bersifat universal.  Alsan tidak universal karena 1) phobia merupakan ketakutan yang didasari kuat oleh emosi terhadap sesuatu benda atau realitas tertentu. 2) pbobia bisa terjadi pada siapapun. 3) Phobia dapat muncul pada usia berapapun dan 4) phobia biasanya dapat dihilangkan.

Sebetulnya rasa takut yang berlebihan dapat disembuhkan oleh diri kita sendiri. Caranya dengan 1) belajar untuk relax/tenang, 2) kenali hirarki rasa takut, 3) gunakan hirarki rasa takut untuk menyadarkan takut yang berlebihan tadi dan 4) terapkan metoda penanganan rasa takut misalnya dengan teknik mengatur nafas dan self-talk.

Ketika phobia dijadikan hiburan dan ditonton segala lapisan masyarakat, pelajaran apa yang diperoleh dari itu. Seharusnya setelah melihat tayangan ini, paling tidak masyarakat menjadi tahu bahwa ada sebagian orang ada yang memiliki ketakutan yang sangat terhadap sesuatu yang menurut diri orang itu tidak dapat tertahankan. Misalnya takut yang berlebihan pada kecoa, ulat, ketinggian atau hal-hal biasa lainnya. Selain itu, selayaknya pula, penonton menjadi cerdas. Cerdas ketika menemukan seseorang yang sedang berjuang dengan rasa takutnya sendiri. Kejahilan menakuti seseorang bukan tidak mungkin mendatangkan bahaya yang tidak terduga. Bisa saja karena sangat takut, si penderita phobia bertindak tidak rasional. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki yang sangat takut dengan ulat bulu. Suatu hari dia memanjt pohon yang lumayan tinggi. Ketika berada pada sebuah dahan pohon, dia sekilas melihat ‘seperti’ ada ulat bulu. Tanpa pikir panjang dia loncat. Karena loncatnya dari pohon yang tingginya tidak kurang dari empat meter, ketika dia jatuh tulang punggungnya tidak lagi selamat dan lumpuh sejak saat itu. Sebagai penutup, tayangan teve yang memuat jahil pada penakut tadi, akan banyak manfaatnya jika memberikan pelajaran mengenai hakikat phobia dan cara meananganinya tentu saja penyampaiannya ala standar teve. Waktu 30 menit sangatlah cukup untuk menyumbangkan kesadaran kasuistis yang terjadi pada emosi manusia.

Posted by: badriah | September 22, 2011

My Indonesia’s Future Job

Do you believe in a man who claims that he can send energy, power, cure and other magical thing from a distance? I don’t!

In Indonesia’s vocabulary having ‘power’ to heal using his/her own capability through the strength of pray or his/her claim on his/her closeness to God is quite acceptable.  You will find a situation when suddenly you meet a man who can read your ‘life and future’, saying this and that, and you just node. Nodding as signal that what that man said is true or it is just a say for you to show respect and try not to hurt other by not showing your real feeling, ambiguous here.

There is a kind of job that you will not find and you can not able to apply to. This job is ‘a healer and a future reader’.  Sometimes these two jobs immerse in one man. The man usually claim that he can heal (using his own way) and he also can ‘read’ what is good for you, what may happen to you, and what you must do to make your life better or least take a distance from your problem.

Actually, you can make yourself and claim yourself a healer easily. Spread a gossip in a quite distance from the place where you live to make people believe that you can heal. Is it difficult? No. what you need is only a man. Train the chosen man to tell story about you, about your magical power in healing others. Getting a client for this kind of healer, your advertisement is only mouth. Mouth to mouth the story will spread. And it is easy to mount. Most Indonesian still believe in superstitious and fairy tales. When one narrates an unbelievable thing, he will be asked to tell more.  Then, he become the spot, all eyes are on him. He, then, makes up story to make his narrative more exciting. Fact and created fact mix up and create a perfect story that make listeners believe and save the story in their mind as an additional reference to choose a man visit to heal them. Those listeners will narrate the same story to their friends, and to make the story interested, they will also add the story in their own version.

As it happened a few years ago. A boy was led to be believed that he found out a magical stone that has healing power. The stone is the tooth of the thunder. How the boy got the stone never be traced or questioned. A story began when someone told that this boy with his magical stone can heal. He healed any kinds of disease by rinsing his stone into water, and if you drink the water, you will be recovered magically. Then, in less than a week, hundreds people force themselves to meet this boy. They wanted to get themselves healed by giving a chance this boy soaking his stone into the water. Suddenly a quite and almost dead village where the boy live turn into crowded and uncontrolled visitors. Mounting visitors could not wait, they wanted to be healed. A temporary ‘security man’ formed and a temporary ‘motel’ emerges. The story of the strength of the stone goes wild. The boy has to heal thousand people a day. He was not able to neither go to school nor play as a normal child. He was put in an adult arm and let the boy rinse his stone to every open jar with water in it. The boy said nothing, just rinse his magical stone to the water. I believe this is fun for the boy. He who was used to alone, suddenly become the main character that is chased everywhere he goes. Or he thinks that these adults are insane as they force him to play with his stone but they believe he can heal them. He himself never makes any statement about his magical stone. Others titled him had a magical stone. No one asked his opinion.

The story of the magical stone spreads in national level. People flew to meet this boy.  The security man got confused and exhausted. They had no strategic way to handle the flow of people who believe the boy to be their healer. Then, two lives gone. The next day,  another life also gone. The victims died because they were stepped by thousands feet when the owner tried to make steps to get close to the boy. The medical department seems not to care. The geologist did not try to make a study on the stone. What the stone is made of and consist of so that it can heal all kind of disease as the believer think.  They consider this a phenomena and source for news. I feel sorry for the boy and also the people who let themselves as the clients of this boy. What they have in their mind, no one knows. Why they do not do to doctor who study disease scientifically. Or they wait for a miracle. They are tired with scientific thing, or they are tired with hospital that they cannot pay for its service.

Posted by: badriah | September 21, 2011

Scaffolding EFL Young Learners Through Varying Activities ppt.

RBP VARYING- JURNAL PPT

Posted by: badriah | September 21, 2011

SCAFFOLDING EFL YOUNG LEARNERS THROUGH VARYING ACTIVITIES

RBP VARYING – JURNAL FORM

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.