Posted by: badriah | September 30, 2011

PHOBIA SEBAGAI HIBURAN

Sekitar pertengahan bulan September 2011, tanpa sengaja saya melihat tayangan teve swasta. Secara harfiah, saya menebak tujuan dari acara yang dipandu presenter laki-laki (tapi dengan gaya bicara dan pakaian ala wanita) itu untuk menghibur. Siapa yang hendak dia hibur, mungkin bukan manusia. Sebab jika dia menganggap acara yang dipandunya adalah hiburan, tidak bisa diterima kayanya oleh lapisan sosial masyarakat manapun. Bagi anak-anak, jelas itu bukan acara yang memberikan pengajaran nilai, norma ataupun etika. Tak ada yang dapat diambil ‘pelajaran’ dari acara yang lumayan lama ditayangkannya. Bagi remaja, saya yakin, remaja yang jahilpun tidak akan meniru dan menganggap program ini lucu. Bagi orang tua, seperti saya. Wah, saya yang tidak paham dengan gaya entertainment masa kini, merasa tayangan ini tidak punya identitas.

Adalah sepasang suami istri (saya anggap begitu saja. Supaya tidak jadi dugaan negatif atas intimacy gaya artis. Karena kalau bukan suami istri tidak mungkin si lelaki berlagak begitu tanpa ada rasa risih dengan si perempuannya) yang diajak jalan-jalan oleh presenter. Si presenter dengan berhaha hihi, membawa crew menyorot suami-istri tadi pada sebuah tempat parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil, tiba-tiba ada pocong jejadian berdiri dibelakang si lelaki (tanpa sepengatahuan si lelaki, pocong itu telah berdiri dibelakangnya). Barangkali dalam dugaan saya, si lelaki amat takut dengan pocong. Sedangkan si perempuan amat phobia dengan ular. Entah apa yang ada dalam pikiran si presenter. Dia dengan entengnya membawa lelaki itu face to face dengan pocong jejadian. Pertemuan antara si lelaki  dengan pocong jejadian ini amat memilukan hati saya. Si lelaki sangat kaget, dan takut. Ketakutannya nyata terlihat dan tertangkap kamera. Anehnya si presenter tambah keras berhaha hihi, apakah dia senang melihat si lelaki yang meringis sedang berjuang melawan takutnya. Si lelaki kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya dari takut. Satu-satunya cara yang mampu dia lakukan hanya berkata, “suda, sudah, sudah,’ dan dia menutup mata. Pocongnya sangat agresif, dia mengahiskan segala gaya untuk membuat si lelaki takut (padahal semenjak awal, sudah jelas lelaki itu ketakutan). Tontonan apa ini? Apakah takut merupakan hal lucu? Apakah kita tidak boleh takut? Apakah dengan memiliki rasa takut seorang lelaki menjadi banci?

Belum lagi kekagetan saya lulus, tiba-tiba si perempuan disuruh membuka semacam tas, dan dari dalam tas itu muncul semacam ular. Si perempuan reflek meloncat, dan lari sekencang-kencangnya. Sementara itu, si presenter tambah keras berhaha hihi. Dia tertawa untuk apa? Sepasang suami-istri menjadi korban si presenter. Dengan tegas sipresenter menyebut mereka “korban”. Saya bersetuju dengan sebutan ‘korban’, karena memang benar suami-istri ini korban kebodohan media massa yang didalangi presenter.

Sebetulnya apa sih Phobia?  Phobia dapat dikatakan sebagai rasa takut yang sangat terhadap sesuatu akibat dorongan emosi kita. Apakah rasa takut atau phobia merupakan sesuatu yang faktual atau nyata? Jawabannya ya, walaupun tentu saja faktualnya sebuah phobia tidak bersifat universal.  Alsan tidak universal karena 1) phobia merupakan ketakutan yang didasari kuat oleh emosi terhadap sesuatu benda atau realitas tertentu. 2) pbobia bisa terjadi pada siapapun. 3) Phobia dapat muncul pada usia berapapun dan 4) phobia biasanya dapat dihilangkan.

Sebetulnya rasa takut yang berlebihan dapat disembuhkan oleh diri kita sendiri. Caranya dengan 1) belajar untuk relax/tenang, 2) kenali hirarki rasa takut, 3) gunakan hirarki rasa takut untuk menyadarkan takut yang berlebihan tadi dan 4) terapkan metoda penanganan rasa takut misalnya dengan teknik mengatur nafas dan self-talk.

Ketika phobia dijadikan hiburan dan ditonton segala lapisan masyarakat, pelajaran apa yang diperoleh dari itu. Seharusnya setelah melihat tayangan ini, paling tidak masyarakat menjadi tahu bahwa ada sebagian orang ada yang memiliki ketakutan yang sangat terhadap sesuatu yang menurut diri orang itu tidak dapat tertahankan. Misalnya takut yang berlebihan pada kecoa, ulat, ketinggian atau hal-hal biasa lainnya. Selain itu, selayaknya pula, penonton menjadi cerdas. Cerdas ketika menemukan seseorang yang sedang berjuang dengan rasa takutnya sendiri. Kejahilan menakuti seseorang bukan tidak mungkin mendatangkan bahaya yang tidak terduga. Bisa saja karena sangat takut, si penderita phobia bertindak tidak rasional. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki yang sangat takut dengan ulat bulu. Suatu hari dia memanjt pohon yang lumayan tinggi. Ketika berada pada sebuah dahan pohon, dia sekilas melihat ‘seperti’ ada ulat bulu. Tanpa pikir panjang dia loncat. Karena loncatnya dari pohon yang tingginya tidak kurang dari empat meter, ketika dia jatuh tulang punggungnya tidak lagi selamat dan lumpuh sejak saat itu. Sebagai penutup, tayangan teve yang memuat jahil pada penakut tadi, akan banyak manfaatnya jika memberikan pelajaran mengenai hakikat phobia dan cara meananganinya tentu saja penyampaiannya ala standar teve. Waktu 30 menit sangatlah cukup untuk menyumbangkan kesadaran kasuistis yang terjadi pada emosi manusia.

Posted by: badriah | September 22, 2011

My Indonesia’s Future Job

Do you believe in a man who claims that he can send energy, power, cure and other magical thing from a distance? I don’t!

In Indonesia’s vocabulary having ‘power’ to heal using his/her own capability through the strength of pray or his/her claim on his/her closeness to God is quite acceptable.  You will find a situation when suddenly you meet a man who can read your ‘life and future’, saying this and that, and you just node. Nodding as signal that what that man said is true or it is just a say for you to show respect and try not to hurt other by not showing your real feeling, ambiguous here.

There is a kind of job that you will not find and you can not able to apply to. This job is ‘a healer and a future reader’.  Sometimes these two jobs immerse in one man. The man usually claim that he can heal (using his own way) and he also can ‘read’ what is good for you, what may happen to you, and what you must do to make your life better or least take a distance from your problem.

Actually, you can make yourself and claim yourself a healer easily. Spread a gossip in a quite distance from the place where you live to make people believe that you can heal. Is it difficult? No. what you need is only a man. Train the chosen man to tell story about you, about your magical power in healing others. Getting a client for this kind of healer, your advertisement is only mouth. Mouth to mouth the story will spread. And it is easy to mount. Most Indonesian still believe in superstitious and fairy tales. When one narrates an unbelievable thing, he will be asked to tell more.  Then, he become the spot, all eyes are on him. He, then, makes up story to make his narrative more exciting. Fact and created fact mix up and create a perfect story that make listeners believe and save the story in their mind as an additional reference to choose a man visit to heal them. Those listeners will narrate the same story to their friends, and to make the story interested, they will also add the story in their own version.

As it happened a few years ago. A boy was led to be believed that he found out a magical stone that has healing power. The stone is the tooth of the thunder. How the boy got the stone never be traced or questioned. A story began when someone told that this boy with his magical stone can heal. He healed any kinds of disease by rinsing his stone into water, and if you drink the water, you will be recovered magically. Then, in less than a week, hundreds people force themselves to meet this boy. They wanted to get themselves healed by giving a chance this boy soaking his stone into the water. Suddenly a quite and almost dead village where the boy live turn into crowded and uncontrolled visitors. Mounting visitors could not wait, they wanted to be healed. A temporary ‘security man’ formed and a temporary ‘motel’ emerges. The story of the strength of the stone goes wild. The boy has to heal thousand people a day. He was not able to neither go to school nor play as a normal child. He was put in an adult arm and let the boy rinse his stone to every open jar with water in it. The boy said nothing, just rinse his magical stone to the water. I believe this is fun for the boy. He who was used to alone, suddenly become the main character that is chased everywhere he goes. Or he thinks that these adults are insane as they force him to play with his stone but they believe he can heal them. He himself never makes any statement about his magical stone. Others titled him had a magical stone. No one asked his opinion.

The story of the magical stone spreads in national level. People flew to meet this boy.  The security man got confused and exhausted. They had no strategic way to handle the flow of people who believe the boy to be their healer. Then, two lives gone. The next day,  another life also gone. The victims died because they were stepped by thousands feet when the owner tried to make steps to get close to the boy. The medical department seems not to care. The geologist did not try to make a study on the stone. What the stone is made of and consist of so that it can heal all kind of disease as the believer think.  They consider this a phenomena and source for news. I feel sorry for the boy and also the people who let themselves as the clients of this boy. What they have in their mind, no one knows. Why they do not do to doctor who study disease scientifically. Or they wait for a miracle. They are tired with scientific thing, or they are tired with hospital that they cannot pay for its service.

Posted by: badriah | September 21, 2011

Scaffolding EFL Young Learners Through Varying Activities ppt.

RBP VARYING- JURNAL PPT

Posted by: badriah | September 21, 2011

SCAFFOLDING EFL YOUNG LEARNERS THROUGH VARYING ACTIVITIES

RBP VARYING – JURNAL FORM

Posted by: badriah | September 20, 2011

HALODO

Panas ngabetrak asa nyocoan kulit sinar panonpoe teh. Geus ampir opat bulan teu turun hujan. Kuduna ayeuna teh usum ngijih. Ceuk kolot baheula mah, mun ngaran bulan Masehi ditungtungan ku –ber saperti September, Obkober jst, eta hartina usum hujan. Sabalikna, mun ngaran bulan ditungtungan ku –ret upamana wae Maret, hartina ret hujan maju halodo. Jaman baheula mah patani sajaba ti ngandelkeun bentang wuluku, oge geus jadi katangtuan mun  bulan ngagayuh ka Aguustus, eta hujan bakal tas tis tus, tereh ka waktu morekat.

Ayeuna mah usum teh kumaha, teu bisa ditebak. Bulan April aya aturan ngecrek hujan. Baheula mah usum Pabaru teh Januari, ayeuna mah duka teuing. Sigana salah manusa. Manusa ngaruksak alam sakahayang anu akibatna mangaruhan kana cuaca jeung uusuman. Manusa sangeunahna ngaruksak alam. Tangkal kai ditutuhan, ditaluaran, dijual kalayan teu melak deui keur gagantina. Cenah di nagara Jepang mah, mun  aya nu nuar satangkal, manehna wajib melak sapuluh tangkal. Di nagara urang mah, lapur. Kacaturkeun teh ngan nuar jeung ngabukbakna we, beja melak jeung ngamumulena mah asa arang pisan. Aeh kungsi ketang nangenan aya pejabat melak tangkal nangka jeung kadu. Melakna teh di Jakarta, di tengah kota! Pejabatna nyekel singkup, dianteur kunu mawa ember dieusi cai jeung gayung diabring-abring, tayohna gayung teh keur nyiuk cai terus dikucurkeun mun tangkalna geus dipelak. Nya pejabat teh sideku, nyokot stek tangkal nangka, ceb dipelakkeun ku saurang lalaki nu sarua sideku gigireunna, manehna nyenyekel singkup leutik, terus singkupna dipake nyiuk taneuh nu geus diwadahan kana ember. Bru, bru, mani kagok pisan. Cur dibanjur. Teu lila seureudeug aya awewe geulis mawa mix, terus nanya “Menurut Bapa bagaimana Program 1000 pohon ini?” cenah.

“Program seribu pohon merupakan program yang mencoba kembali menyeimbangkan kondisi alam. Negara kita terkenal sebagai paru-paru dunia berkewajiban mempertahankan keasrian alam…..dst”

Padahal Jakarta mah rumeuk. Boro-boro jadi paru-paruna dunya, nu aya mah meureun jadi sumber polutan dunya. Coba we titenan, hese pisan pikeun ningali langit nu bulao lenglang di Jakarta. Nu aya teh kulawu jiga memedi. Lamun seug Jakarta bisa nyarita, manehna pasti humandeuar. Saban detik taya eureunna dibere haseup tina knalpot motor, mobil jeung pabrik. Sedengkeun haseup nu jadi gas buangan berbahaya teh keur ngolahna supaya jadi hawa nu  sehat teu aya pisan, dina ayana ge, tangtuna jumlahna teu munasabah. Tatangkalan ngabogaan peran penting pikeun ngolah hawa kotor jadi beresih. Tapi da di Jakarta jeung kota-kota gede lianna, nu loba dipelak teh lain tatangkalan tapi tangkal beton nu di tamblog ku semen.

Inget baheula basa kuring keur budak, meureun umur lima atawa genep taun (taun 1972an). Harita kuring ngalaman jeung nyaho naon ari halodo. Hujan teu turun aya kana tujuh bulanna. Dina bulan katujuh, rawa nu deukeut imah (Rawa Hideung) we geus saat. Padahal biasana Rawa Hideung tara elat cai, komo nepika saat mah. Rawa Hideung, boga sesebutan kitu lantaran caina katingali hideung mun ditingali ti kajauhan. Ieu teh kulantaran rawana aya dinu lengkob, sabudereunna katutup ku tatangkalan gede nu pating jalegir. Mun Rawa Hideung saat eta hartina halodo teh tarik pisan. Tatangkalan parerang, gararing. Nu matak karunya mah iinguan saperti domba, embe jeung munding. Hese parab. Jalan gede teh ngebul, taneuhna nu kabawa angin matak batuk.

Keur nginum, cai teh diempet-empet. Sirah cai nu masih keneh ngocor ngan kari “Ma Iar”. Ngaran sirah cai dicokot tina ngaran nu boga tanah tempat eta cai kaluar. Nu bogana ngaranna Ma Iar.

Dina sirah caina mah caina teu loba. Ukur saguliweng, dijieun kukulahan leutik nu pinuh ku salada nu jadi sorangan. Tina kukulahan eta, dibere awi pikeun talang kaluarna cai nu engkena dipake mandi jeung kaperluan lain. Keur kuring nu imahna rada jauh ti sirah cai Ma Iar, nyokot cai teh ti lengkob jurang nu kira-kira aya kana sakilo meterna ti imah. Jalanna rumpil kacida. Mapay-mapay galengan sawah, terus nurugtug turun ka lengkob jurang. Kuring biasana teu meunang indit sorangan. Mun indit teh ngabring jeung indung oge lanceuk kuring. Lanceuk kuring mawa jarigen ditanggung, kuring ge sarua mawa jerigen leutik. Ari indung kuring mah mawa seuseuheun jeung piring kumbahaneun.

Indit teh jam 10an. Milih jam sakitu sabab mun isuk-isuk mah pinuh ku batur nu rek migawe hal nu sarua jeung kuring. Indung kuring ngagesruk nyeuseuh, kuring ngabantu-bantu leuleutikan. Beres eta, terus mandi, kukumbah ditutup ku solat lohor dina batu nemprak. Maju ka lohor, loba deui batur, tatangga kuring nu daratang. Asa resep mun papanggih jeung batur salembur di tempat nu kacida tiisna.

Nu ripuh dina mangsa halodo nyaeta mun ‘kabeuratan’ Da puguh cai hese. Mun kabeuratan peuting-peuting ulah sagawayah, kudu nyaho prosedur. Prosedurna, leungeun kenca mawa lampu cempor, leungun katuhu ngajingjing ketel nu dieusi cai atah. Gog we nagog disawah, ah teu aya aturanna, di mana we. Burusut-burusut, bebas we. Mun geus beres, nya ombeh make cai tina ketel tea. Geus kitu mah nya balik we, teu nolih kana nanaon. Ngan isukna, melenghir seungit. Atuda kotoran kapoe panonpoe nu ngabetrak, bauna kabawa angin, puguh we matak murel. Ah tapi resep we harita mah. Najan kadang-kadang mah sok kabagean hadiah. Mun meleng keur lempang di sawah, peleye we nincak tai garing. Atuh ramiping dina suku narapel jeung…… bau, ah… teu ambek. Asana teh lumrah we.

Sababaraha bulan katukang kuring balik ka lembur. Rawa Hideung sakurilingna geus ditembok. Caina sakuriwek, saeutik pisan. Disakurilingna sawah wungkul, taya tangkal nanaon, istuning lenglang. Baheula mah kuring sok ngala Kijing jeung Remis. Sigana ayeuna mah moal aya da caina ge mani ngoletrak. Gunung luhureun Rawa Hideung ge sarua matak nalangsa nu ningal. Gunung teh ukur siga gundukan taneuh. Taya tatangkalan nu hirup. Duka teu bisa hirup, duka teu aya nu melak. Boleger katingal taneuhna. Sigana mun hujan turun, urug tangtu kajadian.

Cai Ma Iar oge nya kitu keneh. Hulu cai jadi aya ditengah sawah. Sarua, caina ngoletrak. Sabudereuna geus ditembok. Dina sisi tembokna rimbil ku selang plastik. Selangna sing jarepat, ngarambay, puluhan meter ngagaloler nganteurkeun cai ka imah-imah.  Cenah mah aya taripna sagala. Kasing saha bae nu masang selang kudu mayar. Duka sabaraha mayarna mah, ngan sirah cai teh geus jadi komersil ayeuna mah. Nu teu robah ngan hiji, Tangkal Salada masih aya keneh.

Ayeuna kuring ngalaman deui halodo. Karasa ngentabna hawa kana beungeut. Karasa susahna cai. Kulantaran hirup di kota. Hiji-hijina cara pikeun boga cai, taya deui iwal ti kudu ngajeroan sumur. Tapi mun dipikir-pikir, karunya taneuh teh. Mun diibaratkeun kulit. Sumur nu dijeun ku kuring jadi ngabolongan kulit. Mangkaning nu nyieun sumur lain kuring wae. Atuh kulit teh barolong, ruksak. Sok kapikiran hayang melak tatangkalan itung-itung ngubaran bolong. Tapi melakna dina naon da puguh imah sakieu pateteepna. Boro-boro keur pepelakan, keur moe baju we geus hese.

Kuring ukur bisa ngarahuh. Mudah-mudahan we halodona teu katutuluyan. Teu kuat ku panasna jeung heabna. Kasing saha bae nu ngaku –ngaku bisa nyieun hujan ku ngawinkeun urea jeung mega cenah, pek geura der bae kadinyah.

Posted by: badriah | September 16, 2011

ME AND POETIC WORLD

Today is my first time in my life to read a poem with fifty eyes focus on me. A thrilled experienced since I almost never let myself be poetic or enjoy any poetical work of art. I consider poems are bizarre language and consume time to digest it. I don’t like poems. My Literature-lecturer could catch my nervousness, he even knew that I take a distance and try to hide myself so that I am safe from my duty to read the poem.

                One by one my friends deliver their chosen-poem. My lecturer tried to make us get familiar with the art of work by giving us very critical questions as follow.

-          Why do you choose this?

-          Locate certain sentence(s) that attract you most.

-          Could you give me comment on this?

-          After you read it, rewrite it, is there any changes on your understanding on it?

-          Was it getting stronger on understanding it?

-          What message (amongst messages) that seem very eye catching so that you want to share it with the class.

-          How different does the respond of our soul to Indonesian poem and English one?

Here is a short poem by Sapardi Djoko Darmono (1989) that is delivered by Jo.

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhna:

Dengan kata yang tak sempat tak terucapkan

Kayu dengan api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada yang menjadikannya tiada

My lecturer said that he knew in person with the poet. He even asked the poet how wood and fire without meeting but become ash. He said that in this poem depicted that ‘you are created for me, I am for you. You and I be together and shall be together”. He asked us, “is there any suggestion that the poem said like what I mention earlier?” We agreed that what he mentioned is true. He added that the social practices now cause ungkapan pada cinta menjadi miskin. As a fact, in the past, we felt the shiver even we only saw the roof. Because we knew under that roof the person we love is living. But now, if the lover does not close and can be physically touched is not enough.

                Two of my friends presented poems by WS Rendra. Rendra has a very different way in delivering his ideas. He uses very explicit words. He was very brave in picking the vocabularies that make the reader surprised or shocked for he is very open. When he does critiquing, he really critiques what to be critique using very clear words.

                Kahlil Gibran made an amazing poem. The stanzas talked more than what they were written there. I think this man has a very deep understanding on life and love.

                I selected a poem from a person who is not popular I guess. The poem goes as follow.

JEJAK DI TANGGA by Hasan Aspahani

/1/

Melintas di halamanmu, aku

dipaksa menoleh selintas

oleh jerit suara sepi itu.

 

Baru saja usai hujan, rupanya

di rumput masih teramat jelas basahnya

menembus telapak kakiku

mengalirkan gigil hingga ke bibir

dan memaksa menyebutnya sebagai dingin yang kekal.

 

Kabut tiba-tiba saja turun, dan

mengurai di sela-sela

dindingmu yang angkuh

 

Sudah berapa lamakah

musim ini memenjarakanu,

wahai rumah yang

selalu menutup pintu?

 /2/

Ada jejak membekas di tangga itu:

tamu terakhir yang kau usir

dari hatimu.

 

 

I felt like my lecturer is waiting for my courage to arise and see me stand to read a poem. He said that he wanted everyone to raise their hands and no one read the poem next week. As he said so, I raised my hand. And I must responsible for that. I walk hesitantly and started to read. Many words missed, I hate that. The crazy thing that I don’t like is that everyone like to put all their attention on my reading, the class is very silent, uh….. and finally I finish reading.

 

My lecturer asked me “why do you choose that?” Without my notice my tongue makes a reason. I said frankly, “I chose it as it is the shortest poem I found in the book .” My friends laughed at my reason. My lectures gave me another question, “What do you think about it?”

I did not understand, suddenly my tongue is very elastic and burst many words. I could elaborate the poem. My lecturer praised, “Not bad, for a person who claimed herself doesn’t like poem.”

 My lecturer ended the lesson by giving us Task 2: Next week, you must find an English poem on Love. Emily Dickenson, Frost, or any names that you can pick. I feel very nervous as I know none from those. Then I should consult Google!

Posted by: badriah | September 15, 2011

NAMA ASLI

Seorang professor sejarah Indonesia bertanya kepada mahasiswanya “Siapa nama asli Raden Ajeng Kartini?”

Semua diam. Karena memang professor tidak pernah menyebutkan mengenai asal usul nama Ibu kartini.

Professor pun bosan menunggu, dengan sedikit dongkol beliau berkata, “tiap saat kamu senandungkan, itu loh  Ibu Kita Kartini putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Jadi dapat kita simpulkan nama asli dari Ibu kartini itu Harum.”

Mahasiswanya merasa dikibulin. Tapi salah satu siswanya menganggap ini sebagai tantangan. Maka dia balik bertanya kepada prodessor sebagai tantangan. Dengan pede dia bertanya >_< ”Pa, maaf, kalo memang Bapa sangat familiar dengan segala asal usul nama, pertanyaan saya “apa nama asli NYamuk?”

Professor sedikit kaget. Tapi dia tidak nyaman jika kekagetannya ketahuan. Maka dia berkata begini, “Oke, barang siapa yang bisa menemukan nama asli nyamuk, saya kasi nilai A”.

Si penanya agar tidak kehilangan nilai A, maka dengan cepat dia jawab, “nama asli nyamuk : Tatang.”

Professor dan seisi kelas tidak ada yang faham dengan penjelasan si mahasiswa, malah menduga mengada-ngada agar dia mendapat nilai A dengan mudah. Setelah didesak si mahasiswa menjelaskan : coba perhatikan:

Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap

Tatang seekor nyamuk, hap…lalu ditangkap.

Jadi nama asli nyamuk itu pasti Tatang!

Posted by: badriah | September 14, 2011

NAMA ANAK

“Miss anaknya berapa?” tanya salah seorang murid saya.

Saya kontan menjawab seadanya,”dua, satu cewe dan satu cowo”

“oh, namanya siapa Miss?’ penuh rasa ingin tahu dia terus bertanya.

“yang cewe namanya Miracle, dan yang cowo Excel” saya jelaskan seringkas mungkin. Padahal nama lengkap anak perempuan saya Yaiba Miracle Matahari dan yang laki Excel Nalendra Nugraha.

Belum lagi saya selesai dengan pikiran saya tentang nama anak, dia bertanya lagi ‘Miss punya rencana untuk punya anak yang ketiga?’

Saya melongo, heran, kenapa dia mikirin saya punya anak ke tiga, padahal anak murid saya ini sudah hafal betul kalau umur gurunya sudah hampir 45, beresiko tinggi kalau beranak pinak lagi.

Dengan tenang dan pede dia bilang “ga Miss, saya siapkan nama untuk anak ketiga Miss: Power Point!”

(Saya terjemahkan: anak kesatu Miracle mungkin dekat dengan Microsoft (program pengolah kata), anak kedua Excel (program pengolah angka), dan akan lengkap jika anak ketiga Power Point (pengolah kata dan gambar)… hehehe thanks anyway for the name, but “2 anak lebih baik” begitu kata BKKBN sebagai kelanjutan program “2 anak cukup” pada jamannya Suharto)

Posted by: badriah | September 12, 2011

Folklor

Folkor 1

Bentuk lagu rakyat

Asal Warungawi Cianjur Jawa Barat; Sunda

 Ma, tarasi tutung  (Bu terasi gosong)

Keun, urang balikeun (Tidak apa-apa, kita balik)

Ma, si anu pundung ( Bu, si anu marah)

Keun, urang kawinkeun ( tidak apa-apa, kita nikahkan)

 Bentuknya seperti teka teki. Dua baris awal berupa cangkang dan dua baris akhir berupa  eusi. Tujuannya adalah untuk membuat anak gadis yang marah tidak jadi marah. Misalnya karena suatu hal ada anak gadis yang merasa kesal dan marah. Adik atau kakak si gadis melaporkan kemarahan ini pada ibunya. Si pelapor akan menyanyikan lagu di atas, selain untuk menyampaikan keadaan yang sebenarnya yakni kemarahan si gadis, juga berseloroh bahwa kalau marah tidak apa-apa, nanti kemarahannya akan selesai jika dinikahkan.

 

Folklor 2

Bentuk lagu rakyat bertimbun

Daerah Jawa Barat Suku Sunda

 

Bang kalima-lima gobang bang

Bangkong rayap di sawah wah

Wahai tukang bajigur gur

Guru sakola desa sa

Saban poe ngajar jar

Jarum paranti ngaput put

Putri nu gareulis lis

Lisung kadua halu lu

Luhur kapal udara ra

Ragrag di jakarta ta

Tahun dua hiji ji

Jiwa rek ka mekah kah

Kahar dua rebu bu

Buah meunang ngala la

Lauk meunang nyobek bek

Beker meunang muter ter

Terus ka cikampen pen

Pena reujeung kalam lam

Lampu reujeung damar mar

Maru kangjeng dalem lem

Lempa lempi lempong

Ngadu pipi jeung nu ompong

 

 Foklor 3

Kacaritakeun aya pejabat-pejabat luhur nagara sadunya keur naek kapal. Keur ditengah-tengah perjalanan kapalna aya masalah, baling-baling nu kenca cenah teu muter. Atuh satiap pajabat nu aya dina kapal eta pahibut ngasongkeun jalan kaluar. Ceuk urang Amerika “Keun tenang we, ku urang rek dikirim ahli komputer, engke tangtu kapanggih  kudu kumaha mereskeunna”. Ari ceuk urang Jepang “Alah, sakitu mah tenang we, ke ku urang dikirim ahli nano teknologi, tong melang, ku manehna mah masalah gede ge, beres”. Kabeh ngarasa reugreug, tapi nu matak heran naha urang Indonesia mah cicing wae, atuh terus we ditanya, ari pok teh ngajawab kieu ,” euh, ke heula, abdi nembe bade rapat kango ngadamel panitia pengawas kecelakaan udara!”

 Menyindir bangsa Indonesia yang tidak cepat tanggap terhadap keadaan darurat. Ketika ada suatu masalah bukannya segera diselesaikan, tetapi malah berkumpul  membuat panitia, sementara masalah besar yang harus ditangani dibiarkan. Kondisi ini terjadi pada masa setelah pemerintahan Orde Baru lengser. Banyak masalah yang muncul pada level negara, salah satunya adalah korupsi.  Seperti masalah yang melilit Bank Century. Masalah Bank ini tidak kunjung selesai, pemerintah hanya membuat tim ini-itu serta panitia ini-itu yang menghabiskan banyak rupiah, tetapi kasus yang sebenarnya tidak pernah tersentuh.

 

Folklor 4

Tatarucingan (teka teki) yang semua jawabannya  salah

Mun maneh dina hiji waktu keur dijalan  keur ngeunah leumpang, aipek manggih tai munding, rek kumaha?

Jawaban 1. Rek terus we leumpang.

Salah : api-api leumpang nyah, engke maneh balik deui, tai mundingna dicokot ku maneh.

Jawaban 2. Ah antep we.

Salah: heueuh ku maneh diantep da era mun kanyahoan mun maneh sok nyokotan tai munding.

Jawaban 3. Cicing we.

Salah: maneh cicing nungguan tai munding, paingan atuh dan maneh mah kabeukina tai munding.

Posted by: badriah | September 7, 2011

I am Different

Ketika saya kecil dulu, saya tidak tahu kalau saya berbeda dari anak-anak yang lainnya. Semuanya terasa sama. Saya bermain dengan anak-anak sekampung seperti berburu belalang, ngambil kayu bakar ke pinggir hutan, menggembala domba, nyabit rumput, ikut mengambil ubi atau buah-buahan lain dari kebun orang, mengaji ke pesantren, dan kegiatan-kegiatan lain yang umum dilakukan anak kampung.

Mungkin saya berusia lima atau enam tahun ketika kakak-kakak tiri saya mempermainkan saya, dan sejak itulah saya tahu, bahwa saya berbeda dari dari kebanyakan anak-anak sekampung. Oh ya supaya tidak membingungkan, sepertinya harus saya kenalkan siapa ayah dan kenapa saya memiliki banyak kakak tiri. Ayah saya menikah tiga kali. Dari istri pertamanya ayah punya anak 4 (3 laki-laki dan 1 perempuan), dari istri kedua ayah memiliki 3 anak perempuan, dan dari istri ke tiga yaitu ibuku–ayah punya anak 4 (3 laki-laki dan 1 perempuan yaitu saya). Saya tidak canggung dengan eksistensi poligami. Saya sering mendengar bahwa si A dari kampung C punya istri empat dan ditinggal dalam satu rumah, mereka akur. Sementara si B dari kampung beristri tiga. Ayah saya menikah tiga kali, tidak terdengar weird (aneh) untuk konteks kampung saya.

Samar-samar saya masih ingat. Waktu itu malam hari. Saya diajak dua orang kakak tiri perempuan saya untuk menginap dirumah mereka (semua kakak tiri saya telah menikah ketika saya belum masuk SD). Entah bagaimana mulainya, tiba-tiba saja salah kakak saya menyodorkan lampu Gembling (sejenis lampu minyak tanah, nyala apinya menggunakan sim-sim kapas dan ditutup semprong kaca) ke depan muka saya. Dia bilang “hey, tutup mata kanan kamu, coba lihat ke cahaya lampu, keliahatan ga?”. Saya ikuti kata-kata kakak saya dan aneh saya tidak bisa melihat cahaya lampu dengan mata kiri saya. Spontan sekali saya jawab “ga”. Saya heran, karena selama ini saya tidak merasakan hal itu. Saya bisa melihat. Kakak saya berkata lagi,”coba balik, tutup mata kiri kamu, lihat cahaya lampu dengan mata kanan”. Saya diam dan manut mengikuti perintah kakak saya. Dia tertawa. Saya tak paham apa makna tawanya. Dia panggil adiknya dan setengah berbisik dia bilang “coba kamu suruh dia lihat cahaya lampu dengan mata kirinya!” Yang dipanggil mengikuti perintahnya. Dan seperti kejadian sebelumnya saya berkata “ga ada cahaya lampu”. Tiba-tiba mereka berdua menggelegak tertawa. Sambil meninggalkan saya yang terheran-heran dan kebingungan mereka berkata, “ha ha ha bener… anak sialan itu pecak(istilah dalam bahasa sunda untuk orang yang matanya tidak melihat sebelah), mata kirinya buta!”. Sejak saat itu, saya sangat benci kata picak. Setiap kali kata itu diucapkan, mereka akan menyarakan dengan nada tertentu untuk menunjukkan penghinaan dan perendahan. Atau saya salah, maksud mereka bukan menghinakan, tetapi ungkapan rasa puas karena mampu menjatuhkan rasa harga diri seseorang pada titik terendah sebagai manusia yang kata Tuhan telah dibuat sempurna.

Saya tidak merasa terlalu berbeda ketika saya berada dalam rumah. Ibu saya memperlakukan saya seperti anak sempurna lainnya. Saya tidak pernah mendengar sekalipun Ibu saya menyoal mata kiri. Ibu saya lebih banyak melindungi dengan caranya agar saya tidak tersinggung. Tetapi ketika saya berada jauh dari rumah, proteksi Ibu sayapun terbuka, dan siapapun dengan mudah dan bebas untuk melakukan penghancuran perkembangan jiwa anak perempuan kecil dengan kata-kata miris. Apakah saya menangis, saya tidak ingat lagi.

Suatu hari, saya diajak Ibu saya berkunjung ke rumah nenek saya di Cijati. Cijati merupakan kampung besar, ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dengan jalan kaki dari rumah.  Pada saat itu, sangat umum bepergian dengan jalan kaki. Motor dan mobil hanya ada di kota kabupaten. Seingat saya, mobil yang ada untuk mampu membawa kami ke kota hanya ada satu. Mobil Bayawak Mang Juhadi. Kenapa namanya Bayawak, mungkin karena mobilnya diengkol dan harus banyak minum seperti Biawak di sungai.

Di Cijati saya diperkenalkan dengan Uwa-Uwa dari pihak Ibu. Salah satunya Wa Yaya. Wa Yaya punya warung, menjual kaleng untuk tempat nasi, minyak goreng, saya tidak ingat betul apa saja yang dijual diwarung Wa Yaya, samar-samar saya melihat ada kerupuk “ditiir”/ diikat dengan tali dari bambu (tapi apa benar kerupuk dijual tanpa kantong plastik tapi diikat dengan tali bambu, kebenarannya harus dikonfirmasikan terlebih dahulu). Dekat warungnya ada rumah pa Mantri. Pada saat itu, mantri dianggap memiliki kemampuan menyembuhkan lebih dari Dokter spesialis. Mantri dapat mengobati penyakit apapun dengan cara disuntik. Pa Mantri punya anak perempuan, mungkin seusia saya. Ibu Mantri ketika melihat saya, dia memanggil anaknya dan berkata, “Neng, main, tuh sama si Ecak” Saya diam saja. Saya tahu “ecak” adalah kependekan dari pecak dalam bahasa Sunda artinya picak. Dalam hati saya berkata “kenapa dia tidak menanyakan nama saya; Kenapa dia langsung memberi nama yang tidak saya ingini; Kenapa dia menyebut seseorang dengan kekurangan yang dimilikinya; Kenapa orang kaya dapat berbuat apa saja pada anak kecil dari kampung sekena hatinya; kenapa dia merasa sangat senang memanggil saya dengan panggilan yang menurut seleranya pas; kenapa saya harus ikut Ibu saya ke Cijati kalau hanya untuk dites untuk dapat menjawab puluhan pertanyaan ‘kenapa’”. Sejak saat itu, sebetulnya saya tidak suka berkunjung ke Cijati. Satu hal yang membuat saya tetap melangkahkan kaki kecil saya ke Cijati jika diajak Ibuku adalah karena saya akan bertemu dengan nenek. Nenek dengan tanpa memberikan nama baru untuk saya, katanya telah menyimpan buah mangga untuk saya. Buah mangga yang dipetik dari depan rumah nenek. Dalam anggapan sebagai anak kecil, nenek adalah satu-satunya orang di Cijati yang baik. Selain dari nenek, semuanya jahat, semuanya akan tertawa mencibir menertawakan mata kiri dan memberon-dongnya dengan cercaan yang tidak dapat dipahami tetapi dapat saya rasakan bahwa itu adalah hinaan.

 Ketika mulai masuk SD, ayah saya pada saat itu hampir menjelang masa pensiun sebagai guru. Saya tidak sempat mendapat pembelajaran membaca dan menulis dari ayah. Tetapi saya sering mendengar pembicaraan ayah saya tentang ‘nakal’nya saya di kelas. Saya tidak tahu dan atau ingat kenakalan jenis apa yang saya lakukan. Ayah menganggap saya mengganggu kelas. Kemampuan membaca saya yang selangkah lebih maju dari teman-teman sekelas mengakibatkan saya jadi pengganggu ketenangan kelas dalam cara pandang ayah.

Selepas SD saya bermimpi untuk bisa sekolah ke SMP seperti kakak-kakak lelaki lainnya. Tetapi apa hendak dikata, saya harus bersitegang dengan ayah saya yang tidak mendukung mimpi akan perempuan melanjutkan sekolah. Ayah memiliki 5 anak perempuan. Empat orang sudah dia nikahkan selepas lulus SD, bahkan salah satunya belum lepas SD telah dinikahkannya dengan guru kelasnya. Saya sebagai anak perempuan kelima, direncanakan memiliki nasib yang sama. Penghambat jodoh saya pada saat itu adalah mata kiri. Ayah saya tidak berani menawarkan perjodohan atas nama anaknya yang cacat. Sebelumnya ayah saya dengan bangga akan memilih satu pria untuk anak gadisnya. Anak-anak gadisnya sangat terkenal kecantikannya, sehingga banyak pria yang meminangnya. Ayah mengatakan untuk ‘keamanan’ anak gadisnya harus dinikahkan sesegera mungkin, tanpa harus menanyakan terlebih dahulu apa anaknya mau menikah atau tidak. Tanpa harus mengetahui apakah anaknya menilai bahwa pernikahan merupakan pilihan sakral untuk dirinya. Tahun 60-an, ketika ada anak gadis usia belasan masih belum menikah akan menjadi aib keluarga. Sebutan ‘jomblo, ga laku, lapuk’ akan memerahkan telinga. Efek dari kekejaman sosial ini, maka banyak anak gadis usia 9 tahun telah menikah dan pada usia 10 tahun punya anak, kemudian pada usia 11 menjadi janda dengan satu anak.  

Entah kekhawatiran ayah saya yang tidak tega menjadikan saya janda beranak pada usia 11 tahun ataukah memang tidak ada satu priapun yang mendaftar sebagai calon mantu, lepas SD saya aman.

Akhirnya saya bisa melanjutkan ke sekolah tingkat menengah. Saya diijinkan masuk SKKP. Tapi tidak sesederhana itu saya bisa masuk SKKP (Sekolah Kecakapan Kepandaian Putri). Saya harus meninggal-kan kampung Caringin tempat yang relatif nyaman bagi hinaan atas kecacatan. Saya tinggal bersama sebuah keluarga mantan ABRI yang memiliki satu putra dan satu putri. Kenapa saya harus kos-kosan di rumah itu, katanya atas saran kakak tiri no.3, saya akan baik tinggal di sana.  

Usia 11 atau 12 tahun; sebelumnya tidak tahu gambaran kota seperti apa; kepindahan ke gang kecil dengan rumah berderet-deret sangat membingungkan saya. Saya kebingungan sendiri memikirkan bagaimana saya pulang jika selesai sekolah. Saya khawatir tidak tahu jalan pulang. Mungkin akan terdengar lucu ketika ada anak kurus dengan tampang dari kampung menanyakan nama sebuah gang, sementara gang yang ditanyakannya persis berada di depan hidungnya.

Hari pertama saya meninggalkan rumah kos untuk menuju sekolah dengan diantar kakak saya. Saya berusaha keras mengingat setiap belokan dan bentuk rumah yang dilewati. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan kampung Caringin. Kemanapun saya pergi, saya tidak akan tersesat. Rumah-rumah dan siapa pemilik rumah itu saya kenal, sekalipun jaraknya 4 km jauhnya dari rumah saya. Kalaupun tersesat, 25 km jauhnya dari rumah, saya hanya perlu berkata “dimana rumah Pa Bobon?”, maka dengan mudahnya orang yang akan menunjuk ke Kampung Caringin.

Ketika saat pulang sekolah tiba, katakutan tidak bisa pulang benar-benar memenuhi pikiran. Ke arah mana saya harus menuju. Patokan yang saya pakai hanyalah keluar dari gang yang sebelah kirinya ada pohon jambu. Saya tidak kepikiran kalau saat pulang, segala yang saya tandai dan coba ingat-ingat sebagai patokan berada di sebelah kanan, akan berada di sebelah kiri semuanya. (to be continued)

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.